Hasilnya menunjukkan banyak pekerja muda berhasil masuk ke sektor AI yang terus berkembang. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Gen Z dan Milenial Mulai Membidik Karier di Bidang AI
Fenomena ini cukup menarik karena pekerja muda dalam beberapa tahun terakhir justru menghadapi pasar kerja yang tidak mudah. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan tingkat pemula semakin ketat, sementara perusahaan juga mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja akibat perkembangan AI.
Namun, sektor AI menawarkan peluang berbeda. Banyak perusahaan membutuhkan tenaga yang mampu mengembangkan, mengelola, dan menerapkan teknologi kecerdasan buatan dalam kegiatan bisnis. Kepala Ekonomi LinkedIn Kory Kantenga menilai kemampuan pekerja muda memanfaatkan perubahan tersebut cukup mengejutkan.
Data LinkedIn memperlihatkan jumlah lowongan pekerjaan AI di platform tersebut naik 14 persen dari 2023 ke 2024. Setahun berikutnya, jumlahnya kembali melonjak hingga 156 persen. Pertumbuhan ini memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap tenaga ahli AI semakin besar.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Dua Pekerjaan AI Ini Paling Menarik Perhatian
Dari berbagai posisi yang berkembang, dua pekerjaan mencuri perhatian karena menawarkan penghasilan tinggi. Posisi pertama adalah insinyur yang bekerja di lapangan dengan rata-rata gaji tahunan sekitar USD 199.000 atau sekitar Rp3,5 miliar.
Posisi berikutnya yaitu insinyur AI. Pekerjaan ini memiliki rata-rata gaji tahunan sekitar USD 166.000 atau setara Rp2,9 miliar. Besarnya angka tersebut tentu menjadi salah satu alasan sektor AI semakin menarik bagi pekerja muda.
LinkedIn juga menemukan fakta menarik pada posisi kepala AI. Generasi milenial mencakup sekitar 60 persen dari perekrutan baru untuk posisi tersebut. Rata-rata gajinya bahkan mencapai USD 236.000 atau sekitar Rp4,1 miliar per tahun.
Baca Juga:Â Penghulu Gen Z Alfin Viral, Cara Uniknya Kenalkan Program KUA ke Anak Muda
Kenapa Perusahaan Berani Bayar Mahal Pekerja AI?
Besarnya gaji tidak muncul begitu saja. Perusahaan membutuhkan tenaga dengan kemampuan khusus untuk mempercepat pengembangan teknologi sekaligus membantu mereka beradaptasi dengan perubahan bisnis.
Kantenga menjelaskan bahwa pekerjaan AI juga membutuhkan tingkat pendidikan yang relatif tinggi. Sekitar 91 persen pekerja di bidang AI memiliki gelar sarjana atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Semakin tinggi posisi seseorang, biasanya semakin besar pula tuntutan pendidikannya.
Hampir setengah pekerja yang mengisi posisi kepala AI bahkan memiliki gelar pascasarjana. Sekitar 20 persen lainnya mempunyai gelar doktor. Kondisi tersebut ikut menjelaskan mengapa perusahaan memberikan kompensasi tinggi untuk posisi tertentu.
Gaji Tinggi AI Juga Punya Dampak ke Pasar Kerja
Peluang besar di sektor AI memang menarik, tetapi perkembangan ini juga membawa tantangan. Kantenga menilai perbedaan penghasilan antara pekerja teknologi dan pekerja dari sektor lain berpotensi semakin lebar.
Ketika perusahaan memberikan kompensasi tinggi kepada tenaga AI, pekerja yang tidak memiliki keterampilan untuk masuk ke sektor tersebut bisa tertinggal dari sisi pendapatan. Karena itu, perkembangan AI tidak hanya menghadirkan peluang baru, tetapi juga menuntut pekerja untuk terus meningkatkan kemampuan.
Situasi ini menjadi alasan penting bagi mahasiswa dan pekerja muda untuk mulai memahami teknologi tanpa harus menunggu sampai perusahaan meminta keahlian tersebut. Keterampilan digital kini semakin berkaitan dengan peluang karier dan daya saing seseorang.
Ingin Masuk Dunia AI? Bangun Skill dan Portofolio
Bagi mahasiswa atau pekerja muda yang ingin mengejar karier di bidang AI, kemampuan ilmu komputer bisa menjadi modal awal. Pengetahuan tentang data juga penting karena banyak pekerjaan AI berkaitan erat dengan proses mengolah dan menggunakan data.
Kantenga mengingatkan bahwa pemahaman teori saja belum cukup. Pekerja perlu mengetahui cara mempersiapkan data dan menggunakannya secara efektif. Kemampuan tersebut akan lebih mudah terlihat jika seseorang memiliki pengalaman mengerjakan proyek nyata.
Jika pengalaman kerja masih terbatas, proyek sampingan bisa menjadi pilihan. Membuat proyek AI sederhana dapat membantu membangun portofolio sekaligus menunjukkan kemampuan kepada calon pemberi kerja. Dengan begitu, Gen Z dan milenial tidak hanya mengejar pekerjaan bergaji tinggi, tetapi juga menyiapkan keterampilan yang memang dibutuhkan pasar.