Museum mulai mendapat wajah baru lewat berbagai inovasi pemerintah, termasuk Museum Passport yang dirancang untuk mendekatkan museum dengan generasi muda dan Gen Z.

Dalam wawancara eksklusif program Blak-blakan detikcom yang dilihat pada Senin (7/9/2026), Fadli Zon menjelaskan bahwa revitalisasi museum tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Kementerian Kebudayaan kini membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, pihak swasta, korporasi, hingga filantropis. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Revitalisasi Museum Tak Bisa Jalan Sendiri
Fadli Zon menilai pengelolaan dan revitalisasi museum membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten dan kota.
Menurut Fadli, pola seperti ini sudah berjalan di sejumlah negara Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. Pihak swasta ikut memberikan dukungan terhadap museum dan institusi budaya, bahkan nama para pendukung dapat terlihat pada sejumlah plakat atau bagian bangunan.
Ia ingin membangun tradisi serupa di Indonesia. Dengan begitu, tanggung jawab menjaga museum tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat dan pihak yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Ada Dewan Penyantun dari Kalangan Pengusaha
Untuk memperluas dukungan, Fadli Zon membentuk Board of Trustees atau Dewan Penyantun. Anggotanya berasal dari kalangan pengusaha dan filantropis yang memiliki kepedulian terhadap budaya.
Dewan tersebut ikut membantu pelestarian, pengembangan, serta pemanfaatan museum dan situs budaya. Fadli menyebut sejumlah dukungan sudah berjalan di luar anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Beberapa contohnya mencakup pemugaran Candi Muara Jambi dan Candi Plaosan. Dukungan juga menyasar Museum Nasional yang sebelumnya mengalami kebakaran. Langkah ini menjadi salah satu cara pemerintah mempercepat pemulihan dan pengembangan fasilitas budaya.
Kenapa Swasta Mulai Dilibatkan?
Fadli Zon mengatakan jumlah museum dan kebutuhan revitalisasi yang besar membuat pemerintah tidak mungkin menanggung seluruh biaya hanya melalui APBN. Karena itu, pemerintah membuka kesempatan bagi korporasi dan individu untuk ikut berkontribusi.
Menurutnya, keterlibatan tersebut penting untuk membangun rasa tanggung jawab bersama terhadap kebudayaan Indonesia. Pemerintah tetap menjalankan perannya, sementara pihak lain dapat membantu melalui dukungan pendanaan maupun bentuk kolaborasi lain.
Pola ini diharapkan membuat proses revitalisasi berjalan lebih luas. Museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga ruang yang bisa terus berkembang mengikuti kebutuhan pengunjung.
Fenomena Museum Date Bikin Pemerintah Ikut Senang
Belakangan, museum juga mulai masuk ke gaya hidup anak muda. Istilah “museum date” ramai digunakan ketika generasi muda menjadikan museum sebagai tempat bertemu, berjalan-jalan, sekaligus menikmati koleksi budaya.
Fadli Zon menyambut tren tersebut dengan positif. Ia mengatakan pemerintah bukan sekadar memantau fenomena museum date, tetapi ikut mendorong agar museum semakin sering menjadi pilihan anak muda untuk menghabiskan waktu.
Perubahan ini tentu menarik karena museum selama ini kerap dianggap sebagai tempat yang serius dan identik dengan kegiatan edukasi formal. Dengan pendekatan yang lebih santai, museum berpeluang menjangkau pengunjung dari kelompok usia yang lebih beragam.
Museum Passport Ludes 20 Ribu Eksemplar
Salah satu inovasi yang diperkenalkan Fadli Zon adalah Museum Passport. Bentuknya bukan aplikasi digital, melainkan buku fisik yang dapat dibawa ketika mengunjungi museum yang masuk dalam program kolaborasi.
Fadli menyebut Museum Passport dijual melalui toko buku dan platform online dengan harga sekitar Rp89.000. Respons masyarakat ternyata cukup besar. Sebanyak 20 ribu eksemplar disebut habis dalam waktu singkat, dengan banyak pembelinya berasal dari kalangan Gen Z.
Konsepnya cukup sederhana. Ketika anak muda mengunjungi museum yang terdaftar, mereka dapat memperoleh cap pada Museum Passport tersebut. Aktivitas itu membuat kunjungan museum terasa seperti sebuah perjalanan yang bisa dikumpulkan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Jika tren ini terus berkembang, museum bisa memiliki cara baru untuk mengajak generasi muda mengenal sejarah dan budaya Indonesia. Museum Passport pun menjadi salah satu contoh bagaimana pengalaman berkunjung dapat dibuat lebih menarik tanpa harus meninggalkan unsur edukasi.