Gen Z mulai mengubah cara memandang kesuksesan dengan lebih mengutamakan work-life balance, kesehatan, keluarga, dan pengembangan diri daripada mengejar jabatan.
Fenomena tersebut tidak lantas menunjukkan bahwa Gen Z kehilangan ambisi. Rahmi Damayanti, pakar Ilmu Perkembangan Keluarga dari IPB University, menjelaskan bahwa pilihan untuk tetap menjadi staf bisa muncul karena seseorang memiliki prioritas berbeda dalam menjalani karier. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Gen Z Mulai Mengubah Arti Kesuksesan dalam Karier
Bagi sebagian Gen Z, kesuksesan tidak hanya terlihat dari jabatan tinggi, besarnya gaji, atau semakin banyaknya tanggung jawab. Mereka juga mempertimbangkan apakah pekerjaan masih memberi ruang untuk menjalani kehidupan di luar kantor.
Rahmi melihat pekerjaan sebagai salah satu bagian dari kehidupan individu dan keluarga. Ketika pekerjaan terus bertambah, waktu serta energi untuk keluarga dan kebutuhan pribadi bisa ikut berkurang. Karena itu, keputusan untuk menerima atau menolak promosi menjadi pilihan yang sangat personal.
Menurutnya, sebagian Gen Z menilai keberhasilan dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kesehatan, kehidupan pribadi, dan pengembangan diri. Jadi, menolak kenaikan jabatan tidak otomatis berarti seseorang malas berkembang atau takut memikul tanggung jawab.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Jabatan Tinggi Tak Selalu Jadi Pilihan Menarik
Posisi yang lebih tinggi memang menawarkan peluang untuk berkembang. Namun, promosi juga sering membawa konsekuensi berupa beban kerja yang lebih besar, jam kerja yang semakin panjang, serta tekanan untuk mengambil keputusan penting.
Kondisi tersebut membuat sebagian pekerja Gen Z menghitung kembali manfaat sebuah promosi. Mereka mungkin tetap ingin meningkatkan kemampuan, tetapi tidak ingin mengorbankan seluruh waktu pribadi demi mengejar posisi struktural.
Pandangan seperti ini juga menunjukkan bahwa perkembangan karier tidak selalu harus berjalan secara vertikal. Seseorang bisa memperdalam keahlian, memperluas pengalaman, atau menjadi tenaga profesional tanpa harus masuk ke jenjang manajemen.
Baca Juga:Â Gen Z dan Milenial Mulai Incar 2 Pekerjaan AI Ini, Gajinya Ternyata Fantastis!
Tempat Kerja Juga Harus Mulai Beradaptasi
Perubahan cara pandang pekerja tentu membuat perusahaan perlu menyesuaikan diri. Dunia kerja tidak bisa hanya meminta karyawan mengikuti sistem lama tanpa melihat kebutuhan generasi yang kini mendominasi banyak posisi.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan perusahaan ialah menciptakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel. Pengaturan jam kerja, beban tugas yang sehat, serta dukungan terhadap kebutuhan keluarga dapat membantu pekerja tetap produktif tanpa mengabaikan kehidupan pribadi.
Gagasan mengenai lingkungan kerja yang ramah keluarga juga telah lama didorong Prof Euis Sunarti, Guru Besar bidang Ketahanan dan Pemberdayaan di IPB University. Pendekatan tersebut menempatkan keluarga sebagai salah satu pertimbangan dalam kebijakan dan praktik dunia kerja.
Work-life Balance Bukan Berarti Menghindari Tanggung Jawab
Anggapan bahwa Gen Z ingin bekerja lebih sedikit dan menghindari tanggung jawab juga perlu dilihat secara lebih hati-hati. Rahmi menilai work-life balance bukan berarti seseorang ingin mengurangi tanggung jawab atau berhenti mengembangkan diri.
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa berjalan beriringan. Sistem kerja yang sehat justru dapat membantu karyawan menjaga produktivitas sekaligus memenuhi tanggung jawab kepada keluarga dan dirinya sendiri.
Karena itu, perusahaan perlu menghindari budaya yang menganggap bekerja berlebihan sebagai satu-satunya tanda loyalitas. Kinerja seharusnya tetap menjadi ukuran utama, bukan sekadar seberapa lama seseorang berada di kantor.
Jalur Karier Gen Z Perlu Dibuat Lebih Beragam
Fenomena ini bisa menjadi momentum bagi perusahaan untuk membuka lebih banyak pilihan jalur karier. Selain jalur manajerial, perusahaan dapat menawarkan jalur profesional atau individual contributor bagi pekerja yang ingin berkembang lewat keahlian.
Regenerasi kepemimpinan tetap penting. Namun, perusahaan tidak harus memaksa seluruh pekerja mengejar posisi pimpinan. Program mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, dan pengalaman memimpin secara bertahap dapat membantu menyiapkan calon pemimpin tanpa mengabaikan kebutuhan mereka terhadap kualitas hidup.
Pada akhirnya, pilihan Gen Z untuk mempertahankan posisi staf tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda kurangnya ambisi. Cara mereka memandang kesuksesan memang semakin luas. Bagi sebagian pekerja muda, karier yang baik bukan hanya tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih, tetapi juga tentang apakah pekerjaan tersebut masih memberi ruang untuk hidup dengan sehat dan seimbang.