Generasi Z mengubah cara menikah dengan konsep sakral dan intim yang membuat tren pernikahan mewah kehilangan daya tarik.

Generasi Z dengan gaya praktis dan autentik membawa angin segar pada tradisi pernikahan. Mereka mendefinisikan ulang kesakralan, bukan lewat pesta besar, tetapi melalui momen intim yang menonjolkan esensi ikatan. Tren ini mendobrak norma dan memberi inspirasi bagi pasangan untuk merayakan cinta tanpa beban ekspektasi.
Temukan rangkuman informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Fenomena ‘Satset’ Kesederhanaan Menjadi Mewah
Sebuah unggahan viral dari @laksmimuslimah, penyedia busana pengantin Muslimah, sukses mencuri perhatian jagat maya. Unggahan tersebut menampilkan pernikahan Karina dan Fariz di Masjid Al Falah, Surabaya, yang mengusung konsep “Nikah ala Genzi, Akad di Masjid, Intimate, Satset!”. Konsep ini memancarkan kehangatan dan kesakralan yang mendalam.
Pasangan ini memilih masjid sebagai lokasi akad nikah mereka, sebuah keputusan cerdas yang menawarkan suasana tenang dan khusyuk. Pilihan ini secara otomatis mengurangi biaya dekorasi dan sewa tempat mewah, membuktikan bahwa kemewahan sejati terletak pada makna. Hari Jumat yang istimewa dalam Islam turut menambah keberkahan momen suci tersebut.
Pernikahan “satset” ini meniadakan pesta resepsi yang panjang dan rumit. Akad nikah hanya dihadiri keluarga inti dan kerabat terdekat, menciptakan suasana yang intim dan penuh makna. Konsep ini menunjukkan bahwa fokus utama adalah ikatan cinta, bukan kemegahan acara.
Detail Momen Sakral Yang Penuh Makna
Prosesi akad nikah Karina dan Fariz berlangsung sangat sederhana. Pengantin pria dan rombongannya melangkah memasuki ruang utama masjid yang luas, lalu duduk bersila di atas karpet hijau, alas salat, dengan meja akad minimalis sebagai pembatas. Kesederhanaan ini justru menonjolkan kekhidmatan acara.
Keduanya mengenakan busana pengantin Muslim serba putih, melambangkan kesucian dan kebersahajaan. Setelah resmi mengikat janji suci, mereka mengabadikan momen dengan berfoto di sudut masjid. Area ini dihiasi dekorasi bunga bernuansa putih dan emas yang elegan namun tidak berlebihan, selaras dengan tema intimate.
Konsep pernikahan ini membuktikan bahwa kebahagiaan dan kesan mendalam tidak selalu sejalan dengan biaya fantastis. Pernikahan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa yang terpenting adalah esensi cinta dan keberkahan, bukan kemegahan yang superficial.
Baca Juga: Pemkot Solo Buka Peluang Emas, Gen Z Bisa Jadi Direktur Taman Balekambang
Respons Netizen dan Konfirmasi Vendor

Unggahan pernikahan bertema “satset” langsung dibanjiri pujian dan inspirasi. Satu akun menyatakan kehidupan setelah menikah lebih penting daripada pesta sehari, pandangan yang banyak disetujui Generasi Z. Akun lain mengapresiasi dengan menyebutnya indah, sederhana, dan khidmat.
Netizen lain menambahkan komentarnya, “Siapa yang membuat pernikahan harus ada resepsinya, padahal konsep intim seperti ini jauh lebih nyaman, sederhana.” Namun, beberapa juga menyuarakan tantangan yang mereka hadapi, seperti akun lain yang menulis, “Ingin seperti ini, tapi harus berbenturan dengan pendapat orang tua dan keluarga.”
Pihak Laksmi Muslimah sebagai vendor busana pengantin mengkonfirmasi bahwa konsep pernikahan sepenuhnya keinginan pasangan. Mereka menjelaskan pasangan ingin pernikahan sederhana dengan akad di Masjid Al Falah lalu makan bersama di Hotel Batiqa. Prioritas utama adalah kenyamanan pasangan, bukan sekadar penghematan anggaran.
Bukti Kemandirian Gen Z
Keputusan Karina dan Fariz untuk meniadakan resepsi besar bukan didasari oleh pertimbangan hemat budget, melainkan murni karena prioritas kenyamanan dan keinginan untuk tidak ribet. Mereka bahkan memutuskan untuk tidak menggunakan jasa Wedding Organizer (WO), sebuah langkah yang menunjukkan kemandirian.
Akad nikah yang dilangsungkan pada 5 Desember 2025 sekitar pukul 07.00-08.00 pagi ini benar-benar mencerminkan efisiensi “satset”. Tanpa didampingi WO, tim Laksmi Muslimah bahkan ikut turun tangan membantu mengatur jalannya acara, menciptakan suasana kekeluargaan yang erat.
“Dan karena tidak ada brief jadi groom sempat kebingungan saat menjemput bride karena bingung apa yang harus dilakukan jadi mengandalkan arahan FG [fotografer/videografer] saja,” cerita Laksmi Muslimah, menambahkan sentuhan humanis pada proses yang mandiri ini.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari wolipop.detik.com
- Gambar Kedua dari instagram.com