Fenomena conscious unbossing membuat sebagian Gen Z memilih bertahan di posisi saat ini dan menolak promosi demi waktu luang serta keseimbangan hidup.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah conscious unbossing. Istilah ini menggambarkan keputusan seseorang untuk tidak mengejar posisi atasan secara sadar. Mereka bukan berarti kehilangan semangat bekerja, tetapi lebih mempertimbangkan waktu, tekanan, keseimbangan hidup, serta ruang untuk menjalani kehidupan di luar kantor.
Perbincangan soal tren ini kembali ramai setelah kisah seorang pekerja asal China bernama June menarik perhatian publik. Ceritanya bahkan mendapat lebih dari 40 juta tayangan setelah ia mengaku tiga kali menolak kesempatan promosi. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
June Tiga Kali Menolak Tawaran Promosi
June menjadi salah satu contoh yang membuat istilah conscious unbossing semakin dikenal. Ia pernah mendapat kesempatan memimpin sebuah pusat pelatihan di perusahaan pendidikan. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya menyadari bahwa posisi yang lebih tinggi tidak selalu sesuai dengan kehidupan yang ia inginkan.
Hanya dua minggu setelah menerima tanggung jawab tersebut, June meminta kembali ke posisi sebelumnya. Beban kerja dan tekanan yang meningkat membuatnya merasa peran tersebut terlalu berat untuk dijalani dalam jangka panjang.
June kemudian memilih pekerjaan yang memberinya lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan pribadi, termasuk bepergian. Baginya, kesempatan menikmati waktu luang menjadi pertimbangan penting ketika menentukan arah karier.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kenapa Banyak Pekerja Muda Enggan Jadi Atasan?
Respons terhadap cerita June menunjukkan bahwa ia bukan satu-satunya pekerja yang berpikir seperti itu. Sejumlah pekerja muda mengaku tidak melihat posisi manajerial sebagai tujuan utama dalam karier mereka.
Salah satu alasan yang sering muncul berkaitan dengan besarnya tanggung jawab. Manajer tingkat menengah harus berhadapan dengan tuntutan dari pimpinan sekaligus kebutuhan anggota tim. Posisi tersebut membuat mereka berada di antara dua kelompok dengan kepentingan yang berbeda.
Tambahan penghasilan juga belum tentu terasa sebanding dengan beban yang muncul. Seorang pengguna internet bahkan bercerita bahwa ketika menjadi ketua tim sementara, penghasilannya hanya bertambah sekitar 100 yuan per bulan. Namun, setiap masalah dalam tim ikut menjadi tanggung jawabnya.
Baca Juga: Kemenaker Minta Gen Z Tak “Alergi” AI, Bisa Bantu Tingkatkan Produktivitas
Menolak Promosi Bukan Berarti Tak Punya Ambisi
Menariknya, sebagian pekerja muda tidak menganggap keputusan menolak promosi sebagai bentuk menyerah terhadap karier. Mereka memiliki definisi keberhasilan yang berbeda dari pola karier konvensional.
Bagi mereka, pengembangan diri tidak harus selalu berakhir pada jabatan yang lebih tinggi. Belajar keterampilan baru, menjaga hubungan dengan keluarga, memiliki waktu untuk hobi, atau sekadar menjalani pekerjaan dengan tekanan yang lebih terkendali juga masuk dalam pertimbangan.
Pola pikir tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pekerja muda melihat kehidupan profesional. Jabatan dan gaji tetap penting, tetapi keduanya bukan satu-satunya ukuran ketika seseorang menentukan pilihan karier.
Fenomena Conscious Unbossing Mulai Terlihat Secara Global
Tren ini tidak hanya muncul di China. Perusahaan rekrutmen asal Inggris, Robert Walters, menyebut keputusan untuk tidak mengejar posisi atasan sebagai fenomena yang mulai terlihat di berbagai negara.
Dalam survei yang dilakukan pada 2024, lebih dari separuh responden dari Generasi Z menyatakan tidak memiliki aspirasi menjadi manajer tingkat menengah. Sebanyak 72 persen responden juga lebih mengutamakan pengembangan diri dibandingkan mengelola orang lain.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan perlu memahami perubahan ekspektasi pekerja muda. Tidak semua karyawan menganggap promosi sebagai tujuan akhir dari perjalanan profesional mereka.
Perusahaan Perlu Menawarkan Jalur Karier yang Berbeda
Lucy Bisset dari Robert Walters North melihat perubahan tersebut sebagai tantangan bagi perusahaan. Menurutnya, berkurangnya minat terhadap posisi manajerial membuat perusahaan perlu memikirkan kembali desain pekerjaan di tingkat tersebut.
Salah satu pendekatan yang bisa dipertimbangkan adalah memberikan otonomi lebih besar kepada manajer serta menyediakan jalur pengembangan keterampilan yang jelas. Dengan cara itu, pekerja muda dapat melihat posisi manajerial sebagai kesempatan untuk berkembang tanpa harus merasa kehilangan kendali atas kehidupan pribadi.
Pada akhirnya, conscious unbossing memperlihatkan bahwa hubungan pekerja dengan karier terus berubah. Bagi sebagian Gen Z, sukses bukan hanya soal seberapa cepat seseorang naik jabatan, tetapi juga seberapa baik ia bisa membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan di luar kantor.