Fenomena blind buy parfum makin populer di kalangan Gen Z karena banyak anak muda mengandalkan ulasan TikTok sebelum memutuskan membeli produk.
Fenomena yang dikenal sebagai blind buy ini berkembang seiring pesatnya penggunaan media sosial sebagai sumber referensi sebelum berbelanja. Bagi Gen Z, pengalaman pengguna lain sering kali terasa lebih meyakinkan dibandingkan iklan resmi dari sebuah merek. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Blind Buy Jadi Kebiasaan Baru Gen Z
Blind buy merupakan istilah yang menggambarkan keputusan membeli parfum tanpa mencium aromanya terlebih dahulu. Kebiasaan ini semakin populer karena aktivitas belanja kini banyak berlangsung melalui platform digital.
Gen Z yang tumbuh bersama internet terbiasa mencari informasi melalui video singkat, ulasan pengguna, hingga siaran langsung di media sosial. Mereka lebih percaya pada pengalaman nyata yang dibagikan sesama konsumen dibandingkan deskripsi produk yang bersifat promosi.
Kondisi tersebut membuat parfum tidak lagi harus dicoba langsung di toko. Cukup melihat ulasan yang detail, banyak pembeli merasa sudah memiliki gambaran mengenai aroma dan karakter sebuah produk.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
>>
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Video TikTok Sukses Mengubah Cara Gen Z Memilih Parfum
TikTok menjadi salah satu platform yang paling berpengaruh dalam tren ini. Kreator konten rutin mengulas berbagai parfum dengan menjelaskan aroma, ketahanan, hingga kesan yang muncul saat parfum digunakan.
Video berdurasi singkat mampu menjangkau jutaan pengguna dalam waktu singkat. Tidak sedikit kreator yang membandingkan beberapa parfum sekaligus sehingga calon pembeli lebih mudah menentukan pilihan.
Laporan Digital 2025 Global Overview Report dari We Are Social dan Meltwater juga menunjukkan tingginya penggunaan media sosial sebagai sumber inspirasi belanja. Sekitar 51 persen pengguna media sosial di Indonesia mengaku mencari referensi produk sebelum memutuskan membeli.
Baca Juga: Era AI Telah Tiba: Apakah Gen Z Masih Punya Peluang?
Mengapa Ulasan Pengguna Terasa Lebih Meyakinkan?
Kepercayaan terhadap ulasan pengguna dapat dijelaskan melalui Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR). Video ulasan berfungsi sebagai stimulus yang kemudian diproses oleh calon pembeli sebelum akhirnya mendorong keputusan untuk bertransaksi.
Ketika banyak orang memberikan penilaian positif terhadap parfum yang sama, rasa percaya calon konsumen ikut meningkat. Mereka merasa telah memperoleh cukup informasi meskipun belum pernah mencoba produk tersebut secara langsung.
Deskripsi aroma yang jujur, cara penyampaian yang santai, dan pengalaman pribadi membuat konten seperti ini terasa lebih dekat dibandingkan promosi dari sebuah perusahaan.
Blind Buy Tetap Memiliki Risiko
Meski praktis, blind buy bukan tanpa risiko. Aroma parfum sangat bergantung pada selera masing-masing orang. Wewangian yang disukai kreator konten belum tentu cocok dengan preferensi pembeli lainnya.
Selain itu, maraknya ulasan palsu juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa penjual memanfaatkan komentar atau penilaian yang tidak mencerminkan pengalaman nyata demi meningkatkan penjualan.
Jika konsumen menerima produk yang tidak sesuai harapan, rasa kecewa dapat berubah menjadi ulasan negatif. Dalam era media sosial, satu video yang viral mampu memengaruhi citra sebuah merek dalam waktu singkat.
Literasi Digital Jadi Kunci Belanja yang Lebih Bijak
Fenomena blind buy menunjukkan bahwa media sosial kini memiliki peran besar dalam membentuk perilaku belanja masyarakat. Karena itu, konsumen perlu menyikapi setiap ulasan dengan lebih kritis.
Membandingkan beberapa sumber, membaca komentar pembeli lain, serta memperhatikan kredibilitas kreator dapat membantu mengurangi risiko salah membeli produk. Langkah sederhana tersebut membuat keputusan belanja menjadi lebih rasional.
Di sisi lain, pemilik merek juga perlu menjaga kualitas produk dan membangun komunikasi yang terbuka dengan pelanggan. Respons yang cepat terhadap keluhan maupun pertanyaan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Pada akhirnya, ulasan yang paling berharga tetap berasal dari pengalaman nyata, bukan dari tren sesaat ataupun komentar yang sengaja dibuat untuk memengaruhi calon pembeli.