Perkembangan AI mengubah dunia kerja dan mendorong Gen Z beradaptasi dengan teknologi agar tetap relevan, meningkatkan kemampuan, serta mendukung produktivitas.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) pun meminta Gen Z tidak takut menghadapi perkembangan AI. Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah menilai kemampuan beradaptasi dengan teknologi akan menjadi salah satu modal penting bagi anak muda untuk menghadapi persaingan kerja.
Kemenaker Minta Gen Z Jangan Takut dengan AI
Afriansyah mengingatkan Gen Z agar tidak melihat AI sebagai sesuatu yang harus dihindari. Menurutnya, teknologi justru dapat membantu anak muda menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efektif jika digunakan secara tepat.
“Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas kalian,” kata Afriansyah dalam keterangan resminya, Minggu (13/9/2026).
Perubahan cara kerja terjadi seiring perkembangan AI, otomatisasi, dan teknologi digital. Berbagai sektor mulai menggunakan teknologi untuk mempercepat proses kerja, mengolah informasi, hingga membantu mengambil keputusan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Ijazah Saja Tak Cukup untuk Masuk Dunia Kerja
Menurut Afriansyah, dunia kerja tidak hanya melihat latar belakang pendidikan seseorang. Perusahaan juga membutuhkan pekerja yang memiliki kompetensi, karakter, serta kemauan untuk terus belajar.
Kemampuan memahami teknologi menjadi salah satu bagian yang semakin penting. Gen Z yang terbiasa menggunakan perangkat digital memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan tersebut lebih jauh, terutama dengan mempelajari cara memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.
Artinya, pendidikan formal tetap penting, tetapi anak muda juga perlu membangun keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menggunakan teknologi dapat menjadi nilai tambah saat mencari pekerjaan.
Baca Juga: FP 23 Tahun Ditangkap dalam Kasus Pengeroyokan Maut Pejompongan
Angka Pengangguran Jadi Perhatian Pemerintah
Tantangan dunia kerja juga terlihat dari data ketenagakerjaan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang pada Februari 2026 dengan tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen.
Pada kelompok usia muda, tantangannya juga cukup besar. Sebanyak 19,44 persen pemuda berusia 15 hingga 24 tahun tercatat tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan.
Karena itu, Kemenaker mendorong Gen Z agar tidak hanya mengejar pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Anak muda juga perlu melihat peluang untuk menciptakan pekerjaan dan membangun usaha dari kemampuan yang mereka miliki.
Gen Z Bisa Gunakan Teknologi untuk Buka Peluang
Penguasaan teknologi dapat membantu generasi muda menemukan cara baru dalam menyelesaikan persoalan. AI, misalnya, dapat menjadi alat pendukung untuk mencari informasi, mengembangkan ide, mengolah data, atau meningkatkan efisiensi pekerjaan.
Namun, teknologi tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk mengarahkan penggunaannya. Karena itu, Gen Z perlu membangun kompetensi agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan sesuatu yang memiliki nilai.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang bagi anak muda yang ingin membangun usaha. Dengan keterampilan yang tepat, teknologi dapat membantu mereka mengembangkan produk, mengenali kebutuhan pasar, dan memperluas jangkauan bisnis.
Ada Pelatihan Kemenaker untuk Anak Muda
Kemenaker menyiapkan sejumlah program untuk membantu generasi muda meningkatkan kompetensi. Beberapa di antaranya yaitu Pelatihan Vokasi Nasional (PVN), Program Magang Nasional atau MagangHub, Talent and Innovation Hub (TIH), serta Pembinaan Talenta Vokasi Indonesia.
Generasi muda juga dapat mengikuti pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP). Program tersebut bertujuan membantu peserta mempelajari keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Dengan berbagai pelatihan itu, mahasiswa dan pencari kerja diharapkan tidak hanya memiliki bekal akademik. Mereka juga dapat mengembangkan keterampilan praktis yang berguna untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.
Pesan Kemenaker kepada Gen Z cukup jelas: perkembangan AI tidak perlu ditakuti. Justru, kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan teknologi bisa menjadi salah satu cara untuk tetap relevan di tengah perubahan dunia kerja.