Banyak anak muda di Amerika Serikat, terutama Gen Z dan milenial terjebak utang kartu kredit akibat gaya hidup sosial yang berlebihan.

Kebiasaan nongkrong, makan di luar, dan aktivitas bersama teman membuat mereka kesulitan mengatur keuangan, hingga menumpuk tagihan hingga puluhan ribu dolar. Berikut ini BACOTAN GEN Z akan memberikan informasi menarik tentang penyebab, dampak dan tips mengelola pengeluaran sosial agar tetap bisa bersosialisasi tanpa terjerat utang.
Kebiasaan Sosial yang Membebani Keuangan
Sejak remaja, Emmy terbiasa menggunakan kartu kredit untuk mentraktir teman-temannya. Mulai dari membeli minuman, makan di luar, hingga memesan makanan online, ia selalu menggesek kartu untuk menjaga hubungan sosialnya.
“Aku sering jadi teman yang bilang ‘gue yang bayar duluan’, atau ‘nggak apa-apa, bayarnya nanti aja’ tapi seringnya aku nggak nagih juga,” ungkap Emmy.
Kebiasaan ini, meski terlihat ringan, membuat Emmy terus-menerus melunasi tagihan dan kembali memaksimalkan limit kartu kreditnya. Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat menimbulkan stres finansial dan mengganggu rencana keuangan pribadi.
Data Menunjukkan Fenomena Lebih Luas
Kasus Emmy bukanlah pengecualian. Survei dari Ally Bank menunjukkan bahwa hampir 60% milenial dan Gen Z di AS merasa tujuan keuangan mereka terganggu akibat pengeluaran sosial. Aktivitas seperti nongkrong bersama teman, makan di luar, dan traveling bersama kelompok sosial kerap membuat mereka kehilangan kendali terhadap anggaran pribadi.
Jack Howard, Head of Money Wellness di Ally, menekankan pentingnya keseimbangan. “Menghabiskan waktu dengan teman itu penting, bahkan berdampak besar pada kesejahteraan mental.
Namun masalah muncul saat pengeluaran itu tidak terencana,” ujarnya. Faktanya, 42% responden mengaku mengeluarkan uang lebih dari anggaran mereka untuk kegiatan sosial selama beberapa bulan dalam setahun.
Rata-rata orang dewasa AS menghabiskan US$250 per bulan (sekitar Rp4 juta) hanya untuk aktivitas sosial, tetapi ironisnya hanya 18% Gen Z dan milenial yang memiliki anggaran khusus untuk hal ini.
Baca Juga: Gen Z Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masa Depan
Strategi Mengelola Pengeluaran Sosial

Howard menyarankan agar pengeluaran sosial dimasukkan ke dalam anggaran pribadi, sama pentingnya dengan pos kebutuhan sehari-hari. “Banyak orang tidak sadar, kalau digabung minum bersama teman, brunch, dan pesan makanan bareng pasangan itu bisa menjadi angka yang besar,” jelasnya.
Alih-alih merasa bersalah, anak muda didorong untuk melihat uang sebagai alat untuk mencapai nilai hidup, bukan semata-mata gengsi. Jika makan malam atau jalan-jalan penting untuk menjaga hubungan dan kesejahteraan, maka perlu ada penyesuaian di pos lain. Seperti belanja pribadi atau langganan digital.
Howard juga menekankan pentingnya kreativitas. Mencari alternatif aktivitas yang murah atau gratis hanya diprioritaskan oleh 23% anak muda Amerika. Padahal pengalaman sosial tidak selalu harus mahal. “Yang kamu cari itu pengalaman, bukan tagihannya,” tegas Howard.
Tantangan Psikologis di Balik Kebiasaan Boros
Selain faktor finansial, faktor psikologis juga berperan besar. Emmy mengaku, meski kini berusaha mengajak teman-temannya hangout dengan cara lebih hemat, ia masih merasa sulit karena takut dinilai. Rasa malu terkait uang sangat umum dan sering menjadi penyebab orang terus mengulang kebiasaan boros.
“Seringkali akar masalahnya berasal dari pola asuh atau pengalaman masa kecil,” ujar Howard. Jika seseorang belum menghubungkan pengalaman masa lalu dengan pola belanja saat ini. Ia akan cenderung mengulang perilaku yang sama, baik untuk diri sendiri maupun dalam relasi sosial.
Dengan memahami akar masalah ini, Gen Z dan milenial dapat mulai membangun hubungan yang sehat dengan uang, sekaligus tetap menjaga kualitas hubungan sosial mereka.
Simak dan ikuti terus informasi menarik yang kami hadirkan setiap hari, terupdate dan terpercaya khusus untuk Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari cnbcindonesia.com
- Gambar Kedua dari mum.id