Gen Z wajib tahu cara menonton TikTok dan Reels dengan aman, agar tetap menjaga kesehatan otak dan kemampuan fokus sehari-hari.

Fenomena ‘brain rot’, penurunan fungsi mental akibat paparan digital berlebihan, khususnya di kalangan Gen Z, semakin disorot. Istilah ini sering dikaitkan dengan kebiasaan ‘doom scrolling’ media sosial. Gen Z, yang tumbuh bersama internet, kini menghadapi tantangan: memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kognitif.
Temukan rangkuman informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Ancaman ‘Brain Rot’ Dan Otak Gen Z
Istilah ‘brain rot’ menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi media digital berlebihan. Ahli saraf MIT, Earl Miller, menegaskan otak tidak benar-benar ‘membusuk’, tetapi kesulitan menghadapi arus informasi tanpa henti dari internet, memicu lonjakan dopamin tidak sehat.
Studi 2025 mengaitkan penggunaan AI dan media sosial berlebihan dengan penurunan daya ingat, fokus, dan kemampuan kognitif. Analisis American Psychological Association menyoroti konsumsi video pendek masif yang berhubungan langsung dengan penurunan kemampuan kognitif, temuan yang mengkhawatirkan.
Amanda Elton dari University of Florida lebih memilih istilah ‘accelerated brain aging’ untuk menggambarkan kondisi ini pada otak Gen Z yang masih dalam masa perkembangan. Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z, sebagai kelompok yang paling bergantung pada smartphone, sangat rentan terhadap dampak negatif. Paparan digital yang intens dapat memengaruhi kesehatan mental dan kognitif mereka.
Strategi Anti-Brain Rot
Menyikapi fenomena ini, beragam tren anti-brain rot mulai bermunculan di platform digital, menawarkan solusi kreatif. Salah satunya adalah ‘Kurikulum Pribadi ala TikTok’, di mana content creator seperti Elizabeth Jean membuat ‘kurikulum bulanan’ berisi buku bacaan, kelas yang diikuti, hingga resep yang dipelajari. Tagar #curriculum telah menginspirasi puluhan ribu pengguna lainnya.
Tren ‘Lepas Ponsel’ juga semakin populer, mendorong pengguna untuk meletakkan ponsel jauh saat tiba di rumah, mirip era telepon rumah. Konsep ‘dopamine menu’ juga hadir, menyajikan daftar aktivitas yang memicu dopamin sehat seperti meditasi, berjalan kaki, atau melakukan hobi yang tidak melibatkan layar, membantu menyeimbangkan stimulus digital.
Detoks digital berbasis teknologi juga menjadi pilihan, dengan aplikasi seperti Brick yang memblokir aplikasi mengganggu dan Focus Friend yang menggunakan gamifikasi. Studi di Behavioral Science menunjukkan bahwa detoks media sosial selama dua minggu dapat meningkatkan kejernihan pikiran dan produktivitas, membuktikan manfaat nyata dari istirahat digital.
Baca Juga: Sering Nongkrong, Gen Z dan Milenial Terlilit Utang Kartu Kredit
Ruang Publik Tanpa Ponsel

Gerakan ‘tanpa ponsel’ kini merambah ruang publik nyata, menciptakan lingkungan yang mendukung interaksi langsung. Restoran seperti Hush Harbor di Washington DC bahkan mengunci ponsel pengunjung dalam kantong khusus. Hal ini mendorong mereka lebih fokus pada percakapan dan makanan tanpa gangguan layar.
The Offline Club di Eropa mengadakan acara tanpa gawai, sementara restoran Bistecca di Sydney meminta tamunya menyimpan ponsel di kotak terkunci. Konsep ini bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi sosial dan kualitas interaksi tatap muka, yang sering terabaikan di era digital ini.
Rock Harper, pemilik restoran Hush Harbor, mengungkapkan bahwa di restorannya, bukan ponsel yang ‘makan lebih dulu’. Inisiatif ini menantang kebiasaan Gen Z yang seringkali memprioritaskan ponsel. Hal ini mengembalikan nilai interaksi sosial langsung yang esensial untuk kesehatan mental dan perkembangan kognitif.
Manfaat Waktu ‘Offline’ Dan Harapan Untuk Gen Z
Peneliti menekankan bahwa waktu jauh dari layar memiliki manfaat signifikan bagi otak. Interaksi sosial secara langsung terbukti menjaga fungsi otak dalam berpikir kritis. Sementara itu, menghindari multitasking digital mencegah penurunan memori dan kemampuan mengambil keputusan. Ini mendukung gagasan bahwa otak membutuhkan ‘istirahat’ dari stimulus digital.
Aktivitas mental offline, seperti bermain game papan, membaca buku fisik, atau menulis jurnal, dapat memperkuat fungsi lobus prefrontal. Area otak ini berperan penting dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls. Belajar hal baru atau menyusun target bulanan juga membangun koneksi neural baru, menjaga otak tetap aktif dan adaptif.
Gary Small dari Hackensack Meridian School of Medicine menyatakan, semakin cepat seseorang menjaga kesehatan otak, semakin baik hasil jangka panjangnya. Gen Z, meski generasi paling ‘online’, paling vokal melawan dampak negatif digital, menunjukkan kesadaran tinggi menjaga otak di tengah arus informasi tanpa batas.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari health.detik.com
- Gambar Kedua dari curupekspress.bacakoran.co