Sering kali, pengalaman yang terlalu banyak dianggap overqualified, sementara minimnya pengalaman dituding underqualified. Permintaan untuk posisi entry-level yang mensyaratkan gelar S1 plus dua tahun pengalaman kerja semakin membingungkan.
Berikut ini BACOTAN GEN Z akan memunculkan pertanyaan besar kualifikasi seperti apa yang sebenarnya dicari perusahaan di era sekarang? Apakah gelar akademik masih menjadi segalanya, atau portofolio justru lebih berbicara?
Real Skills Dan Real Proof Kunci Kualifikasi Modern
Menurut Muhammad Fawwaz Mumtazy (23), seorang mahasiswa sekaligus multimedia and communication trainer, kualifikasi sejati tidaklah semata soal usia atau gelar. Baginya, “yang utama itu real skills dan real proof.” Dalam dunia kreatif, kemampuan nyata dan bukti konkret jauh lebih dihargai daripada sekadar pengakuan atas penguasaan perangkat lunak.
Fawwaz mencontohkan, seseorang dikatakan qualified bukan hanya karena bisa menggunakan Adobe, melainkan karena mampu menunjukkan hasil video, kemampuan storytelling, serta konsistensi dalam berkarya. Ini menekankan pentingnya demonstrasi kemampuan praktis yang dapat diverifikasi melalui portofolio yang solid.
Namun, skill saja tidak cukup. Sikap atau attitude juga memegang peranan krusial. Fawwaz menambahkan, “Banyak yang jago, tapi susah diajak kerja. Itu langsung drop point.” Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan kemampuan bekerja sama sama pentingnya dengan keahlian teknis.
Dilema Pengalaman Antara Kurang Dan Berlebih
Fawwaz sendiri pernah merasakan dua sisi ekstrem dalam hal pengalaman. Ia pernah ditolak karena dianggap kurang pengalaman, namun di sisi lain, ia juga pernah menolak tawaran kerja yang dinilainya terlalu dasar untuk tingkat keahliannya. Pengalaman menjadi pedang bermata dua bagi Gen Z.
Komentarnya tentang persyaratan entry-level yang meminta dua tahun pengalaman sangat lugas: “Kalau entry-level tapi minta dua tahun pengalaman, honestly itu wild.” Ia berpendapat bahwa ini menandakan ketidaksesuaian antara pemahaman HRD dengan realitas talenta muda saat ini yang mungkin memiliki skillset tanpa pengalaman formal.
Fenomena ini menciptakan “lingkaran setan” pengalaman, di mana para pencari kerja muda kesulitan mendapatkan pengalaman tanpa pernah diberikan kesempatan awal. Perusahaan menginginkan kandidat terbaik, namun seringkali dengan ekspektasi yang tidak realistis untuk posisi pemula.
Baca Juga: Gelombang Protes Gen Z Bulgaria Memaksa PM Bulgaria Mundur
Kesiapan Memberi Nilai Sejak Hari Pertama
Pandangan serupa disampaikan oleh Fajar Ridwan Wijaya (23), yang telah empat tahun malang melintang di berbagai industri. Baginya, qualified hari ini berarti “siap kasih nilai sejak hari pertama.” Ini bukan lagi tentang sekadar memiliki gelar, tetapi tentang kemampuan untuk langsung memberikan kontribusi nyata.
Ridwan menekankan pentingnya “skill teknis dan portofolio yang bisa diuji.” Hal ini sejalan dengan pandangan Fawwaz, di mana bukti kemampuan menjadi prioritas. Perusahaan mencari individu yang tidak hanya berpotensi, tetapi juga dapat segera diandalkan untuk menghasilkan dampak positif.
Fenomena lowongan entry-level dengan syarat pengalaman dianggap Ridwan sebagai masalah serius. Ini mencerminkan keinginan perusahaan untuk mendapatkan kandidat terbaik dengan biaya seminimal mungkin, seringkali mengabaikan potensi dari talenta muda yang belum memiliki riwayat kerja panjang.
Tantangan Dan Harapan Gen Z Di Pasar Kerja
Gen Z menghadapi tantangan unik dalam menavigasi pasar kerja yang terus berubah. Ekspektasi perusahaan yang kadang tidak realistis, ditambah dengan persaingan ketat, menuntut mereka untuk lebih adaptif dan proaktif dalam mengembangkan diri dan membangun portofolio.
Fleksibilitas dan kemampuan belajar cepat menjadi aset berharga. Mereka yang mampu menunjukkan inisiatif, skill yang relevan, dan attitude positif akan lebih menonjol. Perubahan ini menuntut Gen Z untuk tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga pengembangan soft skills dan pengalaman praktis.
Dengan adaptasi dan strategi yang tepat, Gen Z dapat membuktikan bahwa mereka bukan sekadar generasi overqualified atau underqualified, melainkan generasi yang siap memberikan nilai dan membawa inovasi di dunia kerja modern.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari nasional.kompas.com
- Gambar Kedua dari nasional.kompas.com