Gen Z dan milenial menghadapi tekanan kerja dan sosial yang tinggi, meningkatkan risiko burnout serta kehilangan arah masa depan mereka.
Perdebatan soal produktivitas dan kesehatan mental generasi muda semakin mengemuka. Gen Z dan milenial disebut mudah burnout dan sering mendapat stigma pekerja kurang tahan tekanan. Namun, pakar manajemen NYU, Suzy Welch, menekankan bahwa akar masalah lebih kompleks, berpusat pada hilangnya keyakinan akan masa depan.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Stigma Yang Membelenggu Gen Z Dan Milenial
Dalam beberapa tahun terakhir, generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, sering menjadi sorotan terkait performa mereka di dunia kerja. Mereka kerap diidentikkan dengan predikat mudah mengalami burnout, sebuah kondisi kelelahan fisik dan mental akibat stres pekerjaan yang berkepanjangan. Stigma ini menciptakan persepsi negatif yang melekat pada mereka.
Selain burnout, generasi ini juga sering dicap sebagai pekerja yang kurang tangguh menghadapi tekanan pekerjaan. Mereka dianggap terlalu menuntut keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional, serta kurang memiliki loyalitas terhadap tempat mereka bekerja. Persepsi ini berpotensi merugikan, karena mengabaikan dinamika kompleks yang sebenarnya terjadi.
Stigma ini perlu dievaluasi lebih lanjut. Menyelami akar permasalahan yang menyebabkan fenomena burnout pada generasi muda jauh lebih penting daripada sekadar menyematkan label negatif. Memahami konteks dan tantangan yang mereka hadapi dapat membuka jalan untuk solusi yang lebih efektif dan konstruktif bagi semua pihak.
Perspektif Baru Dari Pakar Manajemen
Profesor praktik manajemen di New York University (NYU) sekaligus penulis bisnis, Suzy Welch, menawarkan pandangan yang merevolusi pemahaman tentang burnout pada generasi muda. Menurutnya, burnout bukan karena mereka bekerja lebih keras, melainkan karena hilangnya keyakinan bahwa kerja keras akan menghasilkan imbalan yang setimpal.
Welch, dalam sebuah podcast yang kemudian dilaporkan oleh Fortune, menjelaskan bahwa perbedaan intensitas kerja bukanlah faktor utama. Banyak pekerja dari generasi sebelumnya, seperti baby boomer atau Generasi X, juga bekerja dengan jam yang panjang di usia muda mereka. Welch bahkan berbagi pengalaman pribadinya bekerja hampir tanpa henti.
Intinya, Welch merasa pekerjaan itu tetap memuaskan karena adanya keyakinan kuat bahwa kerja keras akan membawa kemajuan dan hasil positif di masa depan. Perbedaan utama terletak pada tingkat harapan terhadap karier dan kehidupan ekonomi, sebuah faktor krusial yang kini tampak memudar di kalangan generasi muda.
Baca Juga: Bukan Malas, Ini Alasan Gen Z Enggan Duduk di Kursi Bos!
Terkuaknya “Krisis Harapan”
Titik balik dalam pemahaman Welch terjadi ketika ia berdialog dengan seorang pekerja lepas berusia 25 tahun. Saat Welch membandingkan pengalamannya bekerja keras di usia muda, pekerja tersebut dengan singkat dan tajam merespons, “Tapi Anda memiliki harapan.” Kalimat ini mengguncang perspektif Welch.
Welch kemudian mengakui kebenaran pernyataan tersebut, menyadari bahwa ia dan generasinya memang tumbuh dengan keyakinan kuat bahwa kerja keras akan membuahkan hasil nyata, seperti promosi jabatan, stabilitas finansial, atau kemampuan untuk membeli rumah. Keyakinan inilah yang menjadi jurang pemisah antara generasi.
Ia menamai fenomena ini sebagai “krisis harapan.” Banyak pekerja muda saat ini tidak lagi yakin bahwa upaya maksimal mereka akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik, atau bahwa kerja keras mereka akan diakui dan dihargai secara konkret. Ini adalah akar utama burnout yang mereka alami.
Tekanan Ekonomi Dan Dampak Sosial
Perasaan kehilangan harapan ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai tekanan ekonomi dan sosial yang dihadapi generasi muda saat memasuki dunia kerja. Salah satu faktor krusial adalah biaya hidup yang terus melonjak secara signifikan, terutama harga perumahan dan kebutuhan dasar.
Kenaikan biaya hidup ini tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan, membuat banyak pekerja muda merasa bahwa kerja keras mereka tidak lagi menjamin stabilitas finansial atau mobilitas ekonomi. Mereka merasa terjebak dalam siklus di mana usaha ekstra tidak selalu membawa mereka menuju kemapanan yang diharapkan.
Situasi ini membuat generasi muda memandang masa depan dengan lebih skeptis dan kurang optimis dibandingkan generasi sebelumnya. Data survei Gallup tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 31 persen pekerja di bawah usia 35 tahun yang merasa “berkembang” atau thriving, mengindikasikan dampak serius dari “krisis harapan” ini.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari money.kompas.com
- Gambar Kedua dari money.kompas.com