Tren baru muncul, Generasi Z kini lebih mengandalkan ulasan jujur dari konsumen biasa dibanding promosi dari influencer populer.
Generasi Z kini makin skeptis terhadap promosi influencer dan iklan brand. Studi terhadap 2.000 responden oleh Walr untuk We Are Talker menunjukkan mereka lebih percaya ulasan konsumen dan riset independen saat memilih produk. Ini menandai pergeseran besar dalam cara Gen Z membangun kepercayaan merek.
Berikut ini BACOTAN GEN Z akan mengulas bagaimana generasi muda kini semakin religius di era digital, bukan sekadar scroll media sosial.
Kredibilitas Review Konsumen Biasa
Sebanyak 72% Gen Z menyebut ulasan pelanggan sebagai sumber paling kredibel untuk menilai kualitas produk. Mereka menilai pendapat sesama konsumen lebih jujur dibanding konten brand. Ulasan ini dianggap sebagai validasi pihak ketiga yang bebas dari promosi langsung.
Temuan itu juga menunjukkan bahwa Gen Z lebih menghargai transparansi dan kejujuran, meski ulasan tersebut berisi kritik. Mereka lebih menerima review yang menggambarkan kelebihan sekaligus kekurangan produk, karena dianggap lebih realistis. Dengan begitu, keputusan membeli dirasa lebih berdasar pada pengalaman nyata, bukan hanya “gambaran” dari iklan.
Di sisi lain, ulasan pelanggan biasanya mudah ditemukan di platform seperti marketplace, media sosial, dan situs ulasan. Gen Z juga terbiasa membandingkan banyak review sebelum memutuskan, sehingga mereka merasa lebih punya kendali atas pilihan mereka. Kebiasaan ini memperkuat posisi ulasan konsumen sebagai instrumen penting dalam proses pembelian.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Meningkatnya Skeptisisme Terhadap Influencer
Meskipun influencer marketing berkembang pesat, Gen Z mulai lebih waspada terhadap konten berbayar. Survei menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap influencer hanya sekitar 55%, lebih rendah daripada review pelanggan. Banyak dari mereka sadar bahwa konten promo bisa terlalu diposisikan dan tidak selalu menggambarkan kondisi sesungguhnya.
Ketika ditanya tentang faktor yang benar‑benar mendorong aksi, seperti follow, daftar, atau beli, Gen Z menyebut informasi yang jelas dan berguna sebagai prioritas (37%). Lalu, “melihat orang nyata membicarakan produk” menjadi faktor kedua yang paling berpengaruh (35%). Keduanya menegaskan bahwa konten autentik, bukan sekadar endorse selebriti, yang mereka cari.
Beberapa Gen Z mengaku hanya mempercayai influencer yang konsisten dan jujur dalam ulasan. Jika mereka mendeteksi kesan “dibayar mahal tapi ceritanya terlalu bagus”, kepercayaan bisa turun drastis. Kondisi ini memaksa influencer dan brand untuk lebih transparan, misalnya dengan menyebut konten kolaborasi atau sponsor secara jelas.
Baca Juga: Bukan Sekadar Scroll! Gen Z Dinilai Makin Religi di Era Digital!
Peran Riset Independen Dan Opini Ahli
Selain review konsumen, Gen Z juga mengandalkan riset independen, uji laboratorium, dan opini ahli untuk menilai suatu produk. Mereka cenderung mencari data atau penjelasan teknis, misalnya soal efektivitas, bahan baku, atau keamanan, sebelum mantap membeli. Kombinasi ulasan nyata dan argumen ilmiah dinilai membuat keputusan terasa lebih masuk akal.
Mereka menyadari bahwa review konsumen bisa subjektif, karena bergantung pada preferensi dan kenyamanan pribadi. Maka, riset independen dianggap sebagai “penyeimbang” yang membantu memilah mana klaim yang berlebihan dan mana yang masuk akal. Karena itu, merek yang menyertakan data uji, sertifikasi, atau penjelasan ahli sering dipandang lebih bisa dipercaya.
Brands pun mulai mempositifkan ini dengan menampilkan ulasan dari micro‑influencer yang terlihat lebih wajar, atau menggandeng lembaga uji dan kredibel untuk menguatkan klaim. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai dengan karakter Gen Z yang rasional, kritis, tetapi tetap menyukai narasi yang human dan relatable.
Implikasi Bagi Brand Dan Pemasaran
Hasil studi ini menunjukkan bahwa kepercayaan brand kini dibangun dari luar, bukan hanya dari pesan promosi langsung. Brand yang mau menarik Gen Z harus memfasilitasi dan menonjolkan ulasan pelanggan, testimoni nyata, serta transparansi informasi produk. Suasana yang “transparan dan jujur” justru menjadi nilai jual utama di mata konsumen muda ini.
Marketing diminta lebih fokus pada konten informatif, edukatif, dan transparan, bukan sekadar visual sempurna. Pemanfaatan micro-influencer, ulasan pelanggan, dan kolaborasi dengan ahli dinilai lebih relevan. Dengan cara ini, brand tak hanya menjual produk, tetapi juga membangun kepercayaan dan komunitas.
Di masa depan, tren ini diprediksi akan semakin menguat, seiring Gen Z yang terbiasa mencari informasi digital sebelum membeli. Brand yang bisa menjawab kebutuhan akan kejujuran, kejelasan, dan keterlibatan komunitas, akan lebih mudah memenangi hati konsumen muda di era informasi yang serba transparan.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari wolipop.detik.com
- Gambar Kedua dari news.detik.com