Fenomena doomscrolling dan paparan teknologi berlebihan disebut-sebut berdampak pada konsentrasi dan kecerdasan Gen Z.
Di era serba digital, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi Generasi Z. Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, layar ponsel seolah tak pernah lepas dari genggaman. Informasi mengalir tanpa henti melalui media sosial, notifikasi berita, hingga video singkat yang dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi berita atau konten negatif secara berulang tanpa henti, biasanya melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan X. Algoritma platform-platform ini dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, sehingga konten yang memicu emosi kuat—termasuk rasa takut dan marah—lebih sering muncul.
Kebiasaan ini sering terjadi tanpa disadari. Seseorang mungkin berniat hanya membaca satu berita, tetapi berakhir dengan menghabiskan waktu berjam-jam menggulir konten serupa. Otak terus terpapar informasi yang merangsang respons stres, sehingga sulit untuk berhenti.
Doomscrolling bukan hanya soal durasi penggunaan gawai, tetapi juga kualitas informasi yang dikonsumsi. Paparan konten negatif yang terus-menerus dapat memengaruhi suasana hati, tingkat kecemasan, hingga pola pikir seseorang.
Pengaruh Teknologi Pada Konsentrasi
Teknologi modern menawarkan kemudahan multitasking. Namun, penelitian menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk melakukan banyak tugas berat secara bersamaan. Ketika Gen Z terbiasa membuka banyak aplikasi sekaligus, fokus menjadi terpecah.
Notifikasi yang muncul setiap beberapa menit memicu gangguan kecil yang disebut “attention residue”. Otak membutuhkan waktu untuk kembali fokus setelah terganggu. Jika gangguan terjadi terlalu sering, kemampuan konsentrasi jangka panjang bisa menurun.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi kemampuan berpikir mendalam atau deep work. Gen Z mungkin menjadi cepat dalam memproses informasi singkat, tetapi kesulitan dalam memahami materi kompleks yang membutuhkan analisis mendalam.
Baca Juga: Viral! Pernikahan Gen Z Tanpa Musik, Mi Instan Jadi Hidangan Ikonik
Benarkah IQ Bisa Melemah?
IQ atau Intelligence Quotient mengukur kemampuan kognitif seperti logika, pemecahan masalah, dan pemahaman verbal. Secara ilmiah, IQ tidak serta-merta turun hanya karena penggunaan teknologi. Namun, gaya hidup digital dapat memengaruhi fungsi kognitif tertentu.
Paparan informasi instan membuat otak terbiasa dengan jawaban cepat. Mesin pencari dan fitur auto-complete mengurangi kebutuhan untuk mengingat atau berpikir panjang. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, kemampuan memori jangka panjang dan daya analisis bisa melemah.
Selain itu, kurangnya latihan membaca teks panjang dan berdiskusi mendalam dapat berdampak pada kemampuan berpikir kritis. Bukan berarti Gen Z kurang cerdas, melainkan pola stimulasi otaknya berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Dampak Psikologis Yang Tersembunyi
Doomscrolling tidak hanya berdampak pada kognisi, tetapi juga kesehatan mental. Paparan berita negatif secara terus-menerus dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol. Dalam jangka panjang, stres kronis dapat mengganggu fungsi otak, terutama pada bagian yang mengatur memori dan emosi.
Gen Z juga hidup di era perbandingan sosial digital. Melalui media sosial, mereka terus-menerus melihat pencapaian orang lain. Hal ini dapat memicu rasa tidak cukup, cemas, bahkan depresi ringan yang mengganggu performa akademik dan produktivitas.
Ketika kesehatan mental terganggu, kemampuan belajar dan berpikir logis pun ikut terpengaruh. Konsentrasi menurun, motivasi berkurang, dan proses pengambilan keputusan menjadi kurang optimal.
Strategi Cerdas Menghadapi Era Digital
Alih-alih menyalahkan teknologi, pendekatan terbaik adalah menggunakannya secara bijak. Membatasi waktu layar harian bisa menjadi langkah awal. Banyak ponsel kini memiliki fitur pengatur durasi penggunaan aplikasi untuk membantu pengguna lebih sadar terhadap kebiasaan digitalnya.
Menerapkan jadwal “digital detox” juga efektif. Misalnya, tidak menggunakan ponsel satu jam sebelum tidur atau saat makan bersama keluarga. Waktu tanpa layar memberi kesempatan otak untuk beristirahat dan memproses informasi dengan lebih baik.
Selain itu, penting untuk melatih kembali kemampuan berpikir mendalam. Membaca buku fisik, menulis jurnal, atau berdiskusi tatap muka dapat membantu memperkuat fungsi kognitif. Dengan keseimbangan yang tepat, teknologi justru bisa menjadi alat untuk meningkatkan kecerdasan, bukan melemahkannya.
Ikuti selalu berita terbaru dan akurat hanya di BACOTAN GEN Z agar anda tidak ketinggalan berita update setiap harinya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari detikcom
- Gambar Kedua dari Kumparan.com