Andri, pemuda Gen Z asal Indramayu, sukses jualan gorengan pinggir jalan dengan omzet hingga Rp 700 ribu per hari.
Semangat wirausaha tidak mengenal usia. Di tengah tren anak muda berburu pekerjaan kantoran atau membangun karier digital, seorang pemuda Gen Z dari Indramayu justru memilih jalan berbeda. Andri, pria berusia awal 20-an, menekuni usaha gorengan di pinggir jalan dan berhasil meraup omzet hingga Rp 700 ribu per hari.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Awal Mula Berjualan Gorengan
Andri memulai usahanya dengan modal terbatas. Ia menggunakan tabungan pribadi untuk membeli gerobak sederhana, kompor, serta bahan baku seperti tepung, tahu, tempe, dan pisang. Ia tidak menunggu modal besar untuk memulai langkah pertamanya.
Setiap sore, Andri mendorong gerobaknya ke lokasi strategis di dekat jalan ramai dan area sekolah. Ia memilih tempat yang mudah terlihat pengendara dan pejalan kaki. Strategi lokasi ini berperan penting dalam menarik pembeli.
Andri juga meracik adonan sendiri dengan resep yang ia kembangkan melalui percobaan berulang. Ia fokus menciptakan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Konsistensi rasa membuat pelanggan mulai kembali membeli.
Strategi Jualan Anak Muda
Sebagai bagian dari generasi Z, Andri memanfaatkan media sosial untuk promosi. Ia mengunggah foto gorengan yang baru matang lengkap dengan harga terjangkau. Ia juga membagikan video singkat proses menggoreng untuk menarik perhatian warganet lokal.
Andri tidak hanya mengandalkan pembeli yang lewat. Ia membuka layanan pesan antar untuk wilayah sekitar dengan sistem pre-order melalui pesan singkat. Cara ini memperluas jangkauan tanpa perlu membuka cabang.
Ia juga memberikan promo kecil pada jam tertentu, seperti beli lima gratis satu. Strategi sederhana ini mendorong pembeli membeli dalam jumlah lebih banyak. Pendekatan kreatif ini menunjukkan bahwa usaha tradisional pun bisa berkembang dengan sentuhan modern.
Baca Juga: Gen Z Siap Kuasai Ekonomi! Ini Peluang Emas yang Tak Boleh Dilewatkan
Omzet Rp 700 Ribu Sehari
Dalam sehari, Andri bisa menjual ratusan potong gorengan. Harga per potong berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 2.000 tergantung jenisnya. Dari penjualan tersebut, ia mampu mengumpulkan omzet hingga Rp 700 ribu pada hari ramai.
Hari libur dan akhir pekan biasanya menghadirkan lonjakan pembeli. Banyak keluarga dan anak muda membeli gorengan untuk camilan sore. Andri mempersiapkan bahan lebih banyak agar tidak kehabisan saat permintaan meningkat.
Setelah mengurangi biaya bahan baku dan kebutuhan operasional, Andri tetap mengantongi keuntungan yang cukup besar. Ia menyisihkan sebagian penghasilan untuk menambah modal serta menabung demi rencana usaha yang lebih besar.
Tantangan dan Kerja Keras
Andri menghadapi berbagai tantangan selama menjalankan usaha. Cuaca sering memengaruhi jumlah pembeli. Saat hujan deras turun, jumlah pelanggan menurun drastis karena orang enggan berhenti di pinggir jalan.
Ia juga harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan bahan dan memastikan kualitas tetap terjaga. Proses memotong, mencampur adonan, hingga menyiapkan minyak membutuhkan ketelatenan. Andri menjaga kebersihan agar pelanggan merasa nyaman.
Persaingan dengan pedagang lain di sekitar lokasi juga tidak bisa ia abaikan. Namun Andri memilih fokus pada kualitas rasa dan pelayanan ramah. Ia menyapa setiap pembeli dengan senyum dan obrolan ringan sehingga tercipta hubungan akrab.
Inspirasi Untuk Generasi Muda
Kisah Andri membantah anggapan bahwa kesuksesan hanya datang dari pekerjaan bergengsi. Ia membuktikan bahwa usaha sederhana seperti gorengan pun dapat menghasilkan pendapatan menjanjikan jika dikelola dengan serius.
Banyak teman sebayanya mulai tertarik mengikuti jejaknya setelah melihat hasil nyata. Andri sering berbagi pengalaman dan tips memulai usaha kecil dengan modal minim. Ia mendorong anak muda untuk tidak malu berjualan selama pekerjaan itu halal.
Ke depan, Andri berencana membuka kedai permanen dengan konsep lebih modern. Ia ingin menghadirkan tempat nyaman untuk nongkrong sambil menikmati gorengan hangat. Semangat dan konsistensi menjadi kunci utama dalam perjalanan usahanya.