Bagi banyak Gen Z, pernikahan terasa menakutkan akibat kekerasan, tekanan sosial, dan harapan tinggi, sehingga mereka lebih memilih tetap jomblo.
Pernikahan yang dulu dianggap puncak kebahagiaan kini menjadi momok bagi generasi muda. Fenomena ‘Marry is Scary’ mencerminkan kecemasan Gen Z, terlihat dari menurunnya angka pernikahan di Indonesia. Apa yang membuat pernikahan begitu menakutkan bagi mereka? Dibawah ini BACOTAN GEN Z akan mengupas tuntas mengapa Gen Z kini lebih rentan terhadap penyakit gula dan bagaimana kita bisa menghindarinya.
Ancaman KDRT, Bayangan Gelap di Balik Janji Suci
Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) membuat banyak Gen Z, terutama perempuan, takut menikah. Pemberitaan kasus yang melibatkan figur publik semakin memperkuat persepsi pernikahan sebagai ladang penderitaan, sehingga citra indahnya terkikis.
Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, terdapat 28.789 kasus kekerasan, dengan mayoritas korban adalah perempuan (24.793 kasus). Angka ini mencerminkan bahwa perlindungan terhadap korban KDRT belum optimal, meninggalkan trauma dan ketakutan yang mendalam.
Budaya patriarki yang masih kuat dan ketidaksetaraan gender di masyarakat turut menjadi faktor penyebab KDRT. Hal ini membuat Gen Z semakin skeptis terhadap pernikahan, khawatir akan terjebak dalam siklus kekerasan. Mereka cenderung menunda atau bahkan menolak menikah demi menjaga keselamatan dan kesejahteraan diri.
Perselingkuhan, Pengkhianatan Yang Meruntuhkan Kepercayaan
Kasus perselingkuhan yang berakhir pada perceraian juga sangat memengaruhi pandangan Gen Z tentang pernikahan. Kisah-kisah pengkhianatan yang viral di media sosial, seperti kasus wanita Korea yang meninggalkan suami dan anak-anaknya, menciptakan rasa tidak aman. Kepercayaan terhadap komitmen dalam pernikahan menjadi terkikis.
Survei menunjukkan bahwa perselingkuhan menyumbang sekitar 35% dari kasus perceraian. Faktor ekonomi yang kurang memadai dan rendahnya pemahaman tentang hak serta kewajiban dalam pernikahan seringkali menjadi pemicu perselingkuhan. Hal ini menunjukkan bahwa pondasi pernikahan modern semakin rapuh.
Gen Z menyaksikan bagaimana perselingkuhan dapat menghancurkan keluarga dan menimbulkan penderitaan bagi semua pihak yang terlibat. Mereka cenderung berhati-hati dalam memilih pasangan dan membangun komitmen, demi menghindari risiko mengalami pengalaman pahit serupa di kemudian hari.
Baca Juga: Gen Z Gemar Solo Traveling, Long Weekend Favorit Wisata Keluarga
Beban Ekonomi, Menunda Pernikahan Demi Kestabilan Finansial
Faktor ekonomi menjadi alasan kuat lainnya bagi Gen Z untuk menunda pernikahan. Biaya pernikahan yang kian melambung, mulai dari sewa gedung, katering, mahar, hingga resepsi, menjadi beban finansial yang tidak sedikit. Mereka menyadari bahwa pernikahan membutuhkan persiapan finansial yang matang.
Setelah menikah, biaya hidup sehari-hari, pendidikan anak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya juga akan meningkat secara signifikan. Banyak pasangan muda yang tidak mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi, yang akhirnya berujung pada perceraian, seperti kasus gugat cerai di Jember akibat tekanan ekonomi.
Gen Z memilih untuk mempersiapkan diri secara finansial sebelum menikah, bukan hanya untuk biaya awal, tetapi juga untuk keberlangsungan hidup rumah tangga yang sejahtera. Mereka percaya bahwa kestabilan ekonomi adalah fondasi penting untuk pernikahan yang langgeng dan bahagia, bukan hanya cinta semata.
Gen Z, Generasi Yang Lebih Matang Dan Selektif
Meskipun angka pernikahan di Indonesia menurun, hal ini tidak selalu berarti buruk. Penurunan ini justru mengindikasikan bahwa masyarakat, khususnya Gen Z, kini memiliki pola pikir yang lebih matang. Mereka tidak terburu-buru menikah hanya karena tekanan sosial atau usia.
Gen Z cenderung mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik dari segi finansial maupun mental, sebelum memutuskan untuk menikah. Mereka ingin memastikan bahwa mereka benar-benar siap menghadapi segala tantangan yang ada dalam kehidupan berumah tangga, bukan sekadar ikut-ikutan.
Dengan persiapan yang lebih matang, diharapkan tercipta keluarga yang lebih sejahtera dan berkualitas. Penurunan angka pernikahan ini dapat dilihat sebagai indikator positif bahwa generasi muda kini lebih selektif dan bertanggung jawab dalam membangun sebuah keluarga.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari kumparan.com
- Gambar Kedua dari radarpekalongan.disway.id