Gen Z ikut tren kripto karena FOMO! Simak alasan di balik fenomena ini dan bagaimana mereka terjun investasi besar.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) kini tidak hanya sekadar istilah, tapi nyata memengaruhi perilaku investasi Gen Z. Dari rasa takut ketinggalan tren hingga keberanian menanam modal besar di kripto, generasi muda ini sedang membuat heboh pasar digital. Apa yang mendorong mereka terjun begitu cepat? Yuk, kita telusuri alasan dan dampaknya di BACOTAN GEN Z!
Lonjakan Investor Kripto Di Indonesia
Aset kripto semakin populer di Indonesia sebagai salah satu pilihan investasi menarik. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa hingga November 2025, jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 19,56 juta orang, naik sekitar 2,5% dibandingkan Oktober 2025.
Peningkatan ini menunjukkan minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap instrumen investasi digital. Namun, peningkatan investor Gen Z tidak selalu didasari pemahaman yang matang.
Banyak dari mereka terjun ke kripto karena ikut tren atau takut ketinggalan fenomena yang dikenal dengan istilah FOMO. Kondisi ini berisiko membuat masyarakat rentan terhadap penipuan, apalagi muncul laporan dugaan kasus penipuan trading kripto yang sedang ditangani aparat penegak hukum.
Fenomena FOMO Di Kalangan Gen Z
Christopher Tahir, Co-founder Cryptowatch, menilai bahwa fenomena Gen Z yang FOMO berinvestasi di kripto sangat wajar. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya influencer yang menampilkan kemewahan dan kesuksesan finansial hasil investasi kripto.
Gen Z dan millennial ingin cepat kaya dan lepas dari rutinitas kerja, sehingga kripto menjadi salah satu jalan pintas, jelasnya. Meski potensi cuan besar memang ada, Christopher mengingatkan bahwa kripto adalah investasi risiko tinggi.
Ia menekankan pentingnya mempelajari aset yang dibeli agar tidak terjebak pada koin tidak jelas yang bisa hilang seketika. Kesadaran akan risiko ini sangat penting agar investor tidak mengalami kerugian besar.
Baca Juga: Pengangguran Meningkat, Gen Z Dinilai Belum Siap Hadapi Dunia Kerja
Risiko FOMO Dan Pengaruh Influencer
Pengamat kripto Desmond Wira menambahkan, FOMO bukan fenomena baru di investasi. Hal ini juga terjadi pada saham, emas, dan aset lain yang mengalami lonjakan harga signifikan.
Banyak investor membeli aset tanpa memahami fundamentalnya, hanya berharap harga terus naik. Fenomena ini diperparah oleh influencer yang sering mempromosikan aset tertentu.
Saat harga ambruk, banyak investor yang merasa tertipu. Desmond menekankan, tindakan ini bukan tanda kematangan finansial, melainkan akibat kurangnya riset dan sifat serakah investor yang ingin cepat untung.
Pentingnya Literasi Dan Riset Finansial
Menurut Desmond, setiap investor sebaiknya melakukan riset mendalam sebelum membeli aset apapun. Mengikuti tren atau saran influencer tanpa pemahaman yang cukup sangat berisiko.
Literasi finansial dan kesadaran terhadap profil risiko pribadi menjadi kunci utama agar investasi aman. Dengan memahami risiko, melakukan analisis aset, dan tidak mudah terbawa FOMO, Gen Z maupun investor lain dapat memanfaatkan kripto sebagai instrumen investasi yang potensial, bukan sumber kerugian.
Pendidikan finansial dan kesadaran akan risiko tetap menjadi fondasi penting bagi investor muda di era digital ini. Tetap pantau dan nikmati informasi menarik setiap hari, selalu terupdate dan terpercaya, hanya di BACOTAN GEN Z.
Sumber Informasi Gambar:
Gambar Pertama dari finance.detik.com
Gambar Kedua dari uib.ac.id