Gen Z kini tak hanya mempertimbangkan gaji saat memilih bertahan di perusahaan, tetapi juga peluang karier, lingkungan kerja, keseimbangan hidup, dan kualitas pekerjaan.
Perubahan ini bukan berarti Gen Z menganggap gaji tidak penting. Kompensasi tetap menjadi pertimbangan besar, terutama ketika biaya hidup terus meningkat. Hanya saja, gaji tinggi tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertahan jika pekerjaan tersebut tidak memberikan pengalaman kerja yang sehat. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Gaji Tetap Penting, Tapi Bukan Satu-satunya
Perlu diluruskan bahwa Gen Z tetap membutuhkan penghasilan yang layak. Data PwC dalam Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menunjukkan keamanan kerja dan kompensasi masih menjadi motivator penting bagi pekerja.
Di Indonesia, 49% responden dalam survei tersebut mengaku mengalami tekanan finansial, sementara 41% mengalami kelelahan kerja. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan finansial dan beban pekerjaan masih saling berkaitan.
Jadi, masalahnya bukan gaji kehilangan nilai. Persoalannya, perusahaan kini harus menawarkan lebih dari sekadar angka di slip gaji jika ingin mempertahankan pekerja muda dalam jangka panjang.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Work-Life Balance Mulai Jadi Pertimbangan
Pekerjaan memang penting, tetapi bukan berarti harus mengambil seluruh waktu seseorang. Gen Z cenderung mempertimbangkan apakah pekerjaan masih memberikan ruang untuk keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, dan pengembangan diri.
Work-life balance juga bukan berarti ingin bekerja sesedikit mungkin. Yang dicari adalah pola kerja yang memungkinkan karyawan tetap produktif tanpa mengorbankan kualitas hidup.
Bayangkan seseorang menerima gaji tinggi, tetapi harus lembur hampir setiap hari, sulit mengambil waktu istirahat, dan terus menghadapi tekanan. Pada titik tertentu, ia mungkin mulai bertanya apakah penghasilan tersebut sepadan dengan waktu dan energi yang hilang.
Baca Juga: Bukan Gen Z, Tapi Chika Jessica Ikutan Tren Centil ala Naykilla
Karier Jelas Bikin Karyawan Punya Alasan Bertahan
Karyawan muda juga ingin mengetahui seperti apa masa depan mereka di perusahaan. Mereka ingin tahu skill apa yang bisa dipelajari, apakah tersedia pelatihan, bagaimana peluang promosi, dan seperti apa jalur karier yang bisa mereka tempuh.
PwC juga menyoroti pentingnya skill pathways dan mobilitas karier agar pekerja dapat terus berkembang. Di Indonesia, 64% pekerja non-manajer mengatakan mereka memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran, meski akses tersebut masih lebih tinggi pada level manajerial.
Karena itu, kalimat seperti “kerja dulu, nanti juga berkembang” mungkin tidak lagi cukup. Karyawan ingin melihat bukti bahwa perusahaan memang menyediakan ruang untuk belajar dan naik ke jenjang berikutnya.
Lingkungan Kerja Bisa Jadi Penentu Utama
Gaji mungkin membuat seseorang tertarik menerima tawaran pekerjaan, tetapi lingkungan kerja sering menentukan apakah ia ingin bertahan. Atasan yang suka melakukan micromanagement, komunikasi buruk, budaya saling menyalahkan, dan minim apresiasi dapat membuat pekerjaan bergaji tinggi terasa melelahkan.
Sebaliknya, lingkungan yang memberikan kepercayaan, ruang berdiskusi, kesempatan belajar, dan rasa aman untuk menyampaikan pendapat dapat membuat karyawan merasa lebih dihargai.
Survei PwC 2025 juga mengaitkan motivasi pekerja dengan kepercayaan, pengembangan keterampilan, makna pekerjaan, keselarasan dengan tujuan organisasi, serta psychological safety.
Gen Z Ingin Pekerjaannya Punya Makna
Selain gaji dan lingkungan kerja, Gen Z juga mulai mempertanyakan makna dari pekerjaan yang mereka jalani. Mereka ingin memahami kontribusinya terhadap perusahaan, pelanggan, atau bahkan masyarakat.
Gagasan tersebut sejalan dengan Job Characteristics Model dari Hackman dan Oldham. Model ini menjelaskan bahwa motivasi dapat tumbuh ketika seseorang merasakan variasi keterampilan, memiliki tanggung jawab yang jelas, memahami pentingnya pekerjaannya, memperoleh ruang untuk mengambil keputusan, dan menerima feedback.
Misalnya, Perusahaan A menawarkan gaji Rp8 juta, tetapi memiliki jam lembur tidak jelas, atasan terlalu mengontrol, dan tidak menyediakan jalur pengembangan. Sementara Perusahaan B menawarkan Rp7 juta dengan jam kerja lebih teratur, atasan terbuka, program pelatihan, dan jalur karier yang jelas.
Sebagian orang mungkin memilih Perusahaan A pada awalnya. Namun, setelah satu atau dua tahun, Perusahaan B bisa menjadi pilihan yang lebih menarik karena memberikan keseimbangan dan peluang berkembang.
Karena itu, perusahaan tidak harus selalu menawarkan gaji tertinggi di pasar. Mereka perlu membangun pengalaman kerja yang lengkap, mulai dari kompensasi yang adil, lingkungan sehat, peluang karier, komunikasi terbuka, work-life balance, hingga pekerjaan yang terasa bermakna.
Deloitte dalam 2026 Gen Z and Millennial Survey juga menunjukkan tekanan finansial masih menjadi persoalan penting bagi generasi muda. Lebih dari separuh Gen Z dan milenial yang disurvei mengatakan kondisi finansial membuat mereka menunda keputusan besar dalam hidup.
Pada akhirnya, anggapan bahwa Gen Z tidak loyal mungkin terlalu sederhana. Bisa jadi mereka hanya lebih berani bertanya apakah perusahaan juga memberikan alasan yang cukup untuk membuat mereka bertahan.
Gaji bisa membuat seseorang datang, tetapi budaya kerja, kesempatan berkembang, keseimbangan hidup, dan makna pekerjaan dapat membuatnya memilih untuk tetap tinggal.