Apa Kata Gen Z dan Gen Alpha soal Kemerdekaan? Jawabannya Bikin Kaget

Apa Kata Gen Z dan Gen Alpha soal Kemerdekaan? Jawabannya Bikin Kaget
Apa Kata Gen Z dan Gen Alpha soal Kemerdekaan? Jawabannya Bikin Kaget
Bagikan

81 tahun setelah Proklamasi, Gen Z dan Gen Alpha memaknai kemerdekaan secara berbeda, mulai dari kebebasan memilih hingga hidup aman tanpa tekanan dan intimidasi.

Apa Kata Gen Z dan Gen Alpha soal Kemerdekaan? Jawabannya Bikin Kaget

Peran anak muda dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia juga bukan cerita baru. Gagasan kebangsaan tumbuh dari kalangan pelajar dan kaum terdidik, salah satunya melalui Boedi Oetomo yang lahir dari lingkungan pelajar STOVIA pada 1908.

Menjelang Proklamasi, kelompok pemuda juga mengambil peran penting dengan membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok. Kini, 81 tahun setelah kemerdekaan, Gen Z dan Gen Alpha kembali menghadirkan sudut pandang mereka tentang arti menjadi manusia merdeka. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.

NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVENONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Bagi Gen Z, Merdeka Berarti Bisa Menentukan Pilihan

Bagi sebagian Gen Z, kemerdekaan berawal dari kemampuan mengatur hidup sendiri. Mereka ingin bebas menentukan pilihan tanpa tekanan dari orang lain, mulai dari pergaulan hingga keputusan yang menyangkut masa depan.

Henry (20), mahasiswa IPB University, melihat kemerdekaan sebagai kebebasan menjalani kehidupan tanpa paksaan. Baginya, kebebasan tidak berhenti pada hak menyampaikan pendapat.

“Ya, bebas. Merdeka itu bebas tanpa tekanan dari siapa pun. Mau berpendapat bebas, bisa menentukan apa yang kita mau tanpa ada paksaan dari orang lain,” kata Henry, Kamis (13/8).

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan bagi anak muda tidak selalu hadir dalam bentuk gagasan besar. Hal-hal sederhana seperti memilih lingkungan pertemanan, menentukan tujuan hidup, dan menyampaikan pendapat juga masuk dalam definisi mereka.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Bebas Saja Tak Cukup, Harus Ada Rasa Aman

Kebebasan juga berkaitan erat dengan rasa aman. Bagi Bima, pekerja media berusia 25 tahun, seseorang belum benar-benar merdeka jika masih takut berbicara atau bertindak karena intimidasi.

“Menurut gue, merdeka itu ya ketika kita bisa bebas dari intimidasi. Jadi, kita bisa ngomong atau melakukan sesuatu tanpa merasa takut karena ada orang yang mengancam atau menekan,” ujarnya.

Pandangan ini memperlihatkan bahwa generasi muda menempatkan keamanan dan keberanian menyampaikan pendapat sebagai bagian penting dari kemerdekaan. Mereka ingin hidup dalam lingkungan yang memberi ruang untuk berbicara tanpa rasa takut.

Definisi tersebut juga terasa relevan dengan kehidupan di era digital. Media sosial membuat anak muda semakin mudah menyampaikan opini, tetapi pada saat yang sama mereka menghadapi tekanan, perundungan, hingga ancaman dari orang lain.

Baca Juga: Gen Z Tak Lagi Mengejar Gaji Besar? Ini Faktor yang Bikin Mereka Bertahan

Merasa Merdeka di Negara Sendiri Jadi Pertanyaan

Di balik keinginan untuk bebas, muncul pula keresahan tentang apakah masyarakat benar-benar sudah merasakan kemerdekaan. Tidak semua anak muda melihat kondisi saat ini sebagai gambaran ideal sebuah negara yang merdeka.

Zeta (23), karyawan swasta asal Sukabumi, menilai makna kemerdekaan mengalami perubahan. Menurutnya, persoalan yang dihadapi masyarakat sekarang tidak lagi berbentuk penjajahan seperti dalam sejarah, tetapi tekanan justru bisa muncul dari lingkungan sendiri.

“Dulu sih kemerdekaan kaitannya pasti bebas dari para penjajah. Tapi sekarang kemerdekaannya sudah hilang makna karena kita dijajah bangsa sendiri. Enggak merasa bebas di negara sendiri,” jelas Zeta.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya jarak antara kemerdekaan secara formal dan pengalaman yang dirasakan sebagian anak muda dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah “Neo-Kolonialisme” Muncul dari Keresahan Anak Muda

Kharina (24), Gen Z asal Bekasi, menyampaikan keresahan yang hampir serupa. Ia menggunakan istilah neo-kolonialisme untuk menggambarkan tekanan dan ketimpangan yang menurutnya muncul dari dalam negeri.

“Bahkan kita sekarang dijajah sama our people, kind of neo-colonialism. Kayak zaman dulu, kan, disebut kolonialisme karena sama orang bule, sekarang bahkan kolonial itu sendiri orang-orang kita,” ujar Kharina.

Istilah tersebut bukan berarti mereka memandang kondisi sekarang sama persis dengan masa penjajahan. Kharina menggunakannya untuk menggambarkan situasi ketika masyarakat menghadapi tekanan, ketimpangan, atau ketidakadilan dari sesama warga negaranya sendiri.

Makna Merdeka Ternyata Terus Berubah

Pandangan Gen Z dan generasi yang lebih muda memperlihatkan bahwa kemerdekaan memiliki wajah yang berbeda pada setiap zaman. Bagi generasi terdahulu, merdeka berarti merebut kedaulatan dari penjajah. Bagi anak muda sekarang, merdeka bisa berarti memiliki kendali atas hidup, bebas dari intimidasi, dan memperoleh perlakuan yang adil.

Perubahan makna itu sebenarnya wajar. Tantangan yang dihadapi masyarakat juga ikut berubah. Jika dahulu bangsa Indonesia berjuang melawan kekuasaan asing, generasi sekarang menghadapi persoalan seperti tekanan sosial, ketimpangan, keamanan dalam menyampaikan pendapat, serta kesempatan menentukan masa depan.

Karena itu, peringatan kemerdekaan bukan hanya soal mengingat sejarah. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk bertanya apakah kebebasan yang diperjuangkan para pendahulu sudah benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Gen Z dan Gen Alpha, pertanyaan tentang kemerdekaan akhirnya kembali pada satu hal sederhana: apakah mereka sudah bisa menjalani hidup dengan bebas, aman, dan punya kesempatan menentukan masa depan sendiri?

Ikon yang Konsisten Membuat Fitur Permainan Lebih Mudah Ditemukan dan DiingatMahjong Ways Menjaga Nuansa Tradisional Asia dalam Mekanisme Permainan Digital ModernCascade Berlapis Mahjong Ways 2 Membentuk Ritme yang Berubah di Setiap RangkaianMahjong Wins 3 Mempertahankan Identitas Asia lewat Susunan Ubin Tradisional yang KhasStruktur Grid Menentukan Cara Pengguna Membaca Hubungan dan Kombinasi Antar-SimbolAnalitik Real-Time Membantu Platform Game Mengenali Lonjakan Trafik sebelum Layanan MelambatData Pipeline Menentukan Seberapa Efisien Platform Memproses Aktivitas dalam Skala BesarObservability Membantu Tim Teknologi Menemukan Gangguan sebelum Pengguna Merasakan DampaknyaData Melimpah Belum Tentu Berguna jika Kualitas Informasinya Tidak TerjagaPemrosesan Data Cepat Menjaga Respons Platform Tetap Stabil saat Aktivitas MelonjakAlasan Rangkaian Hasil Serupa Wajar Muncul dalam Sistem yang Bekerja AcakCara Menjaga Metode Pencatatan Tetap Sama agar Datanya Bisa DibandingkanInformasi Apa yang Wajib Dicantumkan Penyedia pada Halaman Aturan PermainanMotif Ubin, Ornamen, dan Warna Tradisional yang Menjadi Rujukan Visual Mahjong WaysAturan Berapa Kali Simbol Mahjong Ways 2 Dapat Gugur dalam Satu PutaranDaftar Perubahan Tampilan Mahjong Wins 3 Menurut Catatan Pembaruan ResminyaCara Membaca Susunan Baris dan Kolom Sebuah Slot Bergrid dari Halaman AturanContoh Satu Rangkaian Gugur Diuraikan Tahap demi Tahap dari Aturan PermainanPengaruh Kehadiran Pemain Lain terhadap Keputusan Seseorang di Ruang InteraktifPeran Nada Naik dan Jeda Suara dalam Membentuk Dugaan Sebelum Hasil Tampil