Generasi Z menolak personalisasi palsu dalam pengalaman perjalanan, memaksa bisnis travel beradaptasi dengan kebutuhan dan ekspektasi mereka.
Generasi Z, dikenal sebagai generasi paling digital, memiliki ekspektasi unik terhadap teknologi dalam perjalanan. Mereka mendambakan pengalaman yang dipersonalisasi, bukan sekadar personalisasi berbasis algoritma. Studi terbaru menyoroti bahwa Gen Z menginginkan personalisasi yang otentik dan memahami kebutuhan mereka.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Menguak Preferensi Gen Z Dalam Personalisasi Travel
Studi dari HBX Group menunjukkan bahwa ketika berbicara tentang traveling, teknologi bukanlah satu-satunya faktor penentu bagi Generasi Z. Mereka menghargai personalisasi, tetapi bukan karena algoritma yang kompleks, melainkan karena mereka merasa dipahami secara mendalam oleh penyedia layanan perjalanan. Ini adalah temuan krusial bagi industri.
Temuan ini tercantum dalam laporan berjudul “Generation Z and the Future of Personalized Travel Experience”, hasil kolaborasi HBX Group dan Jonathan M. Tisch Center of Hospitality, NYU. Riset ini menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mengkaji perilaku traveler lahir antara 1997 hingga 2012 secara komprehensif.
Hasil studi menyimpulkan bahwa Gen Z tidak menolak personalisasi dalam perjalanan. Namun, mereka menuntut pendekatan yang transparan, relevan, dan yang paling penting, memberikan kendali penuh kepada pengguna. Mereka ingin menjadi subjek, bukan objek, dari pengalaman personalisasi tersebut.
Presisi Teknologi Dengan Sentuhan Manusiawi
“Bagi Gen Z, personalisasi bukan soal algoritma, tetapi soal pemahaman,” ujar Javier Cabrerizo, Chief Strategy and Transformation Officer HBX Group. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi roundtable acara MarketHub Asia di Hilton Bali, pada Kamis, 5 Februari 2026. Gen Z menginginkan merek yang dapat memadukan presisi teknologi dengan otentisitas manusia.
Studi ini juga menegaskan kembali bahwa perjalanan tetap menjadi bagian integral dari gaya hidup Gen Z. Sebanyak 65% responden bepergian untuk liburan, menunjukkan prioritas mereka terhadap pengalaman rekreasi. Selain itu, 28% lainnya melakukan perjalanan untuk mengunjungi keluarga dan teman, menyoroti aspek sosial dari perjalanan.
Dari sisi pengeluaran, Gen Z menunjukkan komitmen finansial yang signifikan. Sekitar 31% responden mengalokasikan dana USD 1.000–2.500 per tahun untuk perjalanan. Angka ini diikuti oleh 24% yang menghabiskan USD 2.500–5.000, bahkan satu dari lima responden tercatat membelanjakan lebih dari EUR 5.000 per tahun. Ini menunjukkan perjalanan adalah prioritas konsumsi.
Baca Juga: Begini Strategi Gen Z Tentukan Kampus Dan Jurusan Kuliah Idaman Mereka
Personalisasi Yang Diterima Dan Ditolak Gen Z
Mayoritas responden Gen Z menunjukkan sikap positif terhadap personalisasi, 66% mendukungnya. Sebanyak 26% menyatakan sangat mendukung, dan 40% mendukung rekomendasi berbasis minat. Kelompok yang merasa tidak nyaman relatif kecil, dengan alasan utama kurangnya transparansi dan promosi yang dinilai terlalu agresif. Ini adalah peringatan bagi pemasar.
Responden yang mendukung personalisasi melihat rekomendasi relevan sebagai sumber kemudahan dan inspirasi. Sebaliknya, yang netral atau skeptis menekankan pentingnya kebebasan mengambil keputusan dan berhati-hati terhadap iklan terselubung. “Gen Z tidak menolak personalisasi, mereka menolak ketertutupan. Transparansi menjadi kunci,” tambah Cabrerizo.
Dalam praktiknya, bentuk personalisasi paling diapresiasi adalah rekomendasi restoran dan aktivitas lokal, dengan tingkat penerimaan 75%. Disusul penawaran hotel dan penerbangan yang dipersonalisasi (64%), serta itinerary cerdas berbasis minat (45%). Sebaliknya, promosi generik, email massal, iklan pengikut, dan pop-up dinilai mengganggu (55%).
Masa Depan Industri Perjalanan Yang Autentik
HBX Group menyimpulkan bahwa batas antara personalisasi yang membantu dan mengganggu sangat ditentukan oleh otentisitas, empati, dan konteks. Ke depan, industri perjalanan perlu bergerak dari sekadar segmentasi menuju kurasi pengalaman yang lebih bermakna. Ini menuntut pendekatan yang lebih holistik dan manusiawi.
Personalisasi di masa depan tidak hanya akan bergantung pada kecanggihan algoritma. Kuncinya juga terletak pada kemampuan merek membuat traveler merasa dipahami, diberdayakan, dan terinspirasi untuk menjelajah. Ini berarti merek harus menjadi mitra perjalanan, bukan sekadar penyedia layanan.
Untuk Gen Z, personalisasi terbaik terasa seperti kurasi yang cerdas dan manusiawi, bukan dorongan komersial. Merek yang berhasil memahami dan menerapkan filosofi ini akan menjadi pemimpin di pasar perjalanan masa depan, membangun kepercayaan jangka panjang dengan konsumen Gen Z yang cerdas dan kritis.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari kumparan.com
- Gambar Kedua dari youtzmedia.id