Generasi Z di China mulai meninggalkan kota besar yang padat dan mahal, memilih tinggal di ‘kota mati’ yang tenang.
Fenomena tak lazim terjadi di China, Generasi Z meninggalkan kota besar seperti Beijing atau Shanghai, memilih ‘kota mati’ yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk. Keputusan ini dipengaruhi biaya hidup dan kesehatan mental, mencerminkan pergeseran nilai serta prioritas anak muda.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Eksodus Gen Z Dari Metropolitan
Beberapa tahun terakhir, fenomena unik muncul di China, Gen Z semakin memilih tinggal di kota-kota mati. Mereka menjauhi kehidupan perkotaan padat dan mahal, mencari tempat tinggal yang lebih sesuai kebutuhan. Tren ini menarik perhatian, karena generasi sebelumnya justru berlomba ke kota besar.
Alasan utama di balik eksodus ini adalah keinginan untuk mendapatkan tempat tinggal dengan harga sewa yang sangat murah. Di kota-kota besar China, seperti Beijing, Shanghai, atau Guangzhou, biaya sewa apartemen melambung tinggi, membebani keuangan Gen Z. Mereka mencari solusi yang lebih terjangkau untuk mengurangi beban finansial.
Sasa Chen adalah salah satu contoh dari fenomena ini. Wanita muda yang sebelumnya bekerja di sektor keuangan di Shanghai ini mengalami kelelahan mental akibat tekanan pekerjaan dan biaya hidup yang mahal. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan karir gemilang dan mencari kehidupan yang lebih tenang di pinggiran kota.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Mencari Ketenangan di “Venesia China”
Chen memilih tinggal di apartemen kosong di kawasan tiruan ‘Venesia’ di Jiangsu, China Timur, dengan sewa 1.200 RMB (sekitar Rp 2,9 juta) per bulan. Harga ini jauh lebih rendah dibanding rata-rata sewa di Shanghai, yang mencapai 3.000 RMB (Rp 7,3 juta) atau 8.000 RMB (Rp 19,5 juta) untuk apartemen lebih nyaman.
Meskipun harus meninggalkan gemerlapnya Shanghai dengan berbagai hiburan, Chen merasa lebih bahagia di ‘kota mati’ tersebut. Ia menikmati pemandangan laut, udara bersih, dan tentu saja, harga sewa apartemen yang sangat terjangkau. Ketenangan dan kenyamanan menjadi prioritas utamanya, melebihi hiburan kota besar.
Chen mengungkapkan bahwa kini ia memiliki banyak waktu luang dan kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkan. Ia merasa benar-benar menjalani hidup sesuai dengan keinginannya. Kesehatan mental menjadi alasan utama Chen untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya yang bergaji tinggi dan memilih gaya hidup yang berbeda.
Baca Juga: Bikin Galau! Media Sosial Bikin Gen Z Sulit Jalin Hubungan Sehat
‘Kota Mati’ Sebagai Solusi Hidup
Para ahli mengidentifikasi bahwa Chen hanyalah satu dari sekian banyak anak muda yang mulai mempertimbangkan untuk tinggal di pinggiran kota, bahkan di ‘kota mati’. Mereka melihat peluang dalam harga properti yang sangat murah di lokasi-lokasi tersebut. Fenomena ini berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya yang fokus mengejar karier dan status sosial di kota besar.
Padahal, Chen sebelumnya memiliki penghasilan yang sangat menggiurkan, mencapai US$ 100 ribu atau sekitar Rp 1,6 miliar per tahun. Namun, ia memilih untuk menjaga kesehatan mentalnya. Keputusan ini menunjukkan pergeseran prioritas di kalangan Gen Z, di mana kesejahteraan pribadi lebih diutamakan daripada karir dan uang.
Xiang Biao, Direktur Institut Max Planck untuk Antropologi Sosial di Jerman, menyebutkan bahwa tren ini bisa menjadi lebih luas. Banyak orang mulai meninggalkan pekerjaan dengan jalur karier yang jelas demi kualitas hidup. Ini menunjukkan perubahan fundamental dalam pandangan generasi muda terhadap definisi kesuksesan.
Dari Kota Tambang Hingga Kota Hantu
Selain ‘Life in Venice’, ada beberapa kota di China yang perlahan menjadi ‘kota hantu’, seperti Hegang di Provinsi Heilongjiang. Dahulu, Hegang ramai penduduk karena merupakan pusat tambang batu bara. Namun, menipisnya stok batu bara membuat tambang-tambang di sana tutup, mengakibatkan penurunan populasi.
Kini, jumlah hunian kosong di Hegang bahkan lebih banyak daripada total penduduknya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh agen properti yang menawarkan rumah dan apartemen dengan harga sangat murah, bahkan lebih murah dari harga sebuah mobil. Mereka menggunakan media sosial untuk mempromosikan properti-properti tersebut.
Chen Zhiwu, profesor keuangan dari Universitas Hong Kong, menjelaskan bahwa biaya hidup tinggi dan peluang kerja kecil di kota besar mendorong orang pindah ke kota kecil. Generasi muda saat ini menghadapi realitas yang sulit dan memikirkan masa depan mereka yang tidak pasti. Oleh karena itu, memilih ‘kota mati’ menjadi solusi rasional bagi mereka.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari inews.id