Generasi Z kini semakin memilih solo traveling, terdorong keinginan pengalaman personal, penghargaan diri, dan kebebasan eksplorasi saat berwisata.
Generasi Z, lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, menunjukkan preferensi unik dalam gaya berwisata. Riset terbaru mengungkap Gen Z lebih memilih petualangan solo dibanding generasi sebelumnya, terdorong motivasi seperti penghargaan diri dan pengalaman yang personal. Berikut ini BACOTAN GEN Z akan menyelami lebih jauh fenomena menarik ini.
Petualangan Solo, Jati Diri Gen Z
Riset terbaru dari Lokadata menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki kecenderungan kuat untuk melakukan perjalanan sendirian. Temuan ini diungkapkan oleh Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, dalam acara tiket.com Tourism Trends 2025 & Outlook 2026. Data ini menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam preferensi wisata dibandingkan generasi sebelumnya.
Motivasi utama di balik tren “solo traveling” ini adalah self-reward atau penghargaan diri. Gen Z melihat perjalanan sendirian sebagai cara untuk memanjakan diri, merayakan pencapaian, atau sekadar memberi jeda dari rutinitas. Ini bukan hanya tentang destinasi, melainkan pengalaman batin yang dicari.
Selain self-reward, ada juga motivasi unik lain yang terungkap dari wawancara, yaitu “tukar kado dengan teman”. Konsep ini melibatkan saling memberikan tiket perjalanan tanpa mengetahui destinasi yang dipilih, menciptakan kejutan dan petualangan yang dipersonalisasi. Ini menunjukkan kreativitas Gen Z dalam menciptakan pengalaman wisata yang berbeda.
Personalisasi Dan Peran Teknologi
Tren solo traveling oleh Gen Z sejalan dengan tren pariwisata global yang mengarah pada personalisasi pengalaman. Wisatawan kini semakin mencari perjalanan yang disesuaikan dengan minat dan preferensi individu mereka, tidak lagi terpaku pada paket wisata standar. Hal ini menunjukkan keinginan Gen Z untuk memiliki kendali penuh atas perjalanan mereka.
Dalam mendukung personalisasi ini, peran kecerdasan buatan (AI) menjadi sangat krusial. Firnandi Gufron dari Kementerian Pariwisata RI mengungkapkan bahwa 93 persen responden percaya pada AI untuk mencari informasi perjalanan akurat. AI membantu Gen Z merencanakan itinerary, menemukan destinasi tersembunyi, dan mengoptimalkan setiap detail perjalanan.
Media sosial juga menjadi alat vital bagi Gen Z dalam perencanaan perjalanan. Tiffany Tjiptoning dari tiket.com menyebutkan bahwa sembilan dari sepuluh wisatawan mengandalkan platform seperti TikTok (57%) dan Instagram (34%) untuk mencari inspirasi. Konten visual yang cepat dan mudah dicerna di media sosial sangat efektif memvisualisasikan pengalaman wisata yang potensial.
Baca Juga: Gen Z Bawa Inovasi, Sosialisasi KNMP Lewat Webseries Samudranaya
Destinasi Favorit Dan Prioritas Kuliner
Berdasarkan survei Lokadata, 76 persen responden melakukan perjalanan dengan tujuan utama untuk liburan atau rekreasi. Hal ini menegaskan bahwa wisata bukan lagi sekadar pelarian, tetapi bagian integral dari gaya hidup untuk menjaga keseimbangan dan kebahagiaan pribadi, terutama bagi Gen Z.
Ketika berbicara tentang tujuan perjalanan, wisata kuliner menempati posisi teratas dengan 42,8 persen wisatawan nusantara menjadikannya prioritas utama. Disusul oleh wisata belanja dengan 30,7 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya mencari pemandangan indah, tetapi juga pengalaman sensorik, terutama melalui eksplorasi makanan lokal.
Di lingkup domestik, beberapa destinasi favorit Gen Z meliputi Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Bali, dan Surabaya. Sementara itu, destinasi yang menjadi wishlist atau incaran mereka adalah Bali, Yogyakarta, Bandung, Labuan Bajo, dan Lombok. Daftar ini mencerminkan kombinasi antara kota-kota besar yang dinamis dan keindahan alam yang menenangkan.
Tren Berkelanjutan Dan Masa Depan Wisata
Fenomena solo traveling dan personalisasi perjalanan yang digerakkan oleh Gen Z diperkirakan akan terus berlanjut dan bahkan menguat di masa mendatang. Kecenderungan mereka untuk mandiri dan mencari pengalaman autentik akan terus membentuk lanskap industri pariwisata global. Para pelaku industri perlu beradaptasi dengan preferensi ini.
Penting bagi penyedia layanan wisata untuk memahami kebutuhan Gen Z yang mendalam akan pengalaman yang unik dan bermakna. Mereka mencari lebih dari sekadar liburan; mereka mencari pertumbuhan pribadi, koneksi budaya, dan kesempatan untuk eksplorasi diri melalui perjalanan. Inilah tantangan sekaligus peluang bagi industri.
Dengan terus berinovasi dalam personalisasi, pemanfaatan teknologi AI, dan promosi destinasi yang relevan, industri pariwisata dapat terus menarik minat Gen Z. Membangun platform yang intuitif dan menyediakan informasi yang transparan akan menjadi kunci untuk memenuhi ekspektasi tinggi dari generasi digital ini.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari travel.kompas.com
- Gambar Kedua dari ttsmitraabadi.com