Setelah liburan usai, banyak anak muda merasa mood turun dan kehilangan semangat, sehingga butuh cara sederhana agar kembali produktif.
Setelah libur panjang, banyak orang merasa murung, lemas, dan tidak bersemangat kembali ke rutinitas, atau disebut “post holiday blues”. Generasi Z punya cara sederhana mengatasi mood, dari menjaga mental lewat komunikasi hingga menikmati hal kecil sehari-hari. Cara ini cukup efektif membantu tubuh dan pikiran kembali normal tanpa stres berlebihan.
Berikut ini BACOTAN GEN Z akan membahas cara sederhana mengatasi post holiday blues agar mood kembali naik dan aktivitas jadi lebih produktif.
Saling Tanya Kabar di Grup Teman
Beberapa Gen Z, seperti Shafira, memilih menghubungi teman‑teman di grup WhatsApp untuk menanyakan bagaimana mereka menghadapi “mode liburan” yang belum benar‑benar hilang. Saling bercerita tentang perasaan malas, sedih, dan kaget harus kembali ke kantor, ternyata membuat mereka merasa tidak sendirian dalam mengalami post holiday blues.
Komunikasi di grup juga menjadi ruang aman untuk saling menghibur dan menertawakan sendiri betapa sulitnya bangun pagi dan menatap layar kerja lagi. Dengan begitu, mereka membangun rasa solidaritas bahwa “ini normal terjadi”. Sehingga tidak perlu merasa aneh atau terlalu kritis pada diri sendiri.
Psikolog pada umumnya juga menilai bahwa berbagi perasaan dengan orang terdekat termasuk cara penting untuk menjaga kesehatan mental pasca liburan. Obrolan ringan dengan teman sekalipun dapat mengurangi rasa cemas, memperbaiki mood, dan memicu empati yang menenangkan pikiran.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Menemani Kerja Dengan Kopi Online
Nadiva, salah satu karyawan Gen Z, mengaku masih malas bekerja dan sedih setelah liburan, namun ia menemukan cara unik: memesan kopi secara online untuk menemaninya saat kerja. Ia bilang sedikitnya tubuhnya merasa lebih semangat karena “ada kopi di samping gadget”, sekalipun yang dihadapi tetap tumpukan pekerjaan.
Minum kopi atau teh favorit di pagi hari sering menjadi ritual kecil yang memberi sensasi seperti “ritual semangat” sebelum mulai aktivitas. Gen Z memanfaatkan layanan pesan antar untuk mempermudah ritual ini. Sehingga tidak perlu menghabiskan energi ke toko atau kafe saat tubuh belum ingin beranjak dari zona nyaman.
Secara psikologis, kegiatan kecil yang menyenangkan, seperti menikmati minuman favorit, termasuk bentuk “self‑reward” yang dapat meningkatkan motivasi dan kenyamanan emosional. Asalkan konsumsi kafein tetap moderat, kebiasaan ini bisa jadi senjata sederhana untuk mengurangi perasaan lesu di hari pertama masuk kerja.
Baca Juga: Tak Disangka! Protes Gen-Z Bikin Eks PM Nepal Berurusan Dengan Polisi!
Mengganti Scroll Berat Dengan Konten Positif
Tak sedikit Gen Z yang terjebak “doomscrolling” di TikTok atau media sosial, membaca konten yang membuat makin lemas dan cemas saat mood turun. Namun sebagian lainnya justru mengubah pola scrolling mereka. Beralih ke konten motivasi, edukasi ringan, atau komedi yang dapat mengangkat semangat pasca liburan.
Icha, contohnya, beralih menonton video‑video yang menginspirasi atau mengajaknya untuk mulai menata hari dengan lebih terarah. Menurutnya, menonton konten yang memotivasi membuatnya merasa “harus mulai bangkit” dan tidak lagi hanya terjebak di perasaan malas dan sedih.
Pakar kesehatan mental menyarankan memilih stimulus yang menenangkan dan membangkitkan semangat. Bukan yang justru memperkuat stres atau perasaan negatif. Mengganti jenis konten di ponsel dari yang memicu cemas ke yang ringan dan menenangkan merupakan bentuk self‑care digital yang cocok di era Gen Z.
Mulai Hal Kecil Dan Teratur Lagi
Selain cara‑cara “unik” di atas, Gen Z juga mulai mengembalikan pola sehat seperti bangun lebih awal, tidur tepat waktu, dan menjaga makanan. Mereka sadar bahwa post holiday blues bisa bertahan lama jika tidak ada penyesuaian bertahap. Misalnya, langsung kerja penuh saat tubuh masih membutuhkan “fase transisi”.
Banyak yang memilih mulai hari kerja pertama dengan to-do list ringan dan porsi pekerjaan yang tidak terlalu berat. Mereka juga menyisipkan waktu untuk jalan kaki, olahraga ringan, atau sekadar duduk di luar ruang. Kegiatan fisik dan perubahan sedikit pada pola hidup itu terbukti membantu menstabilkan mood dan kembali membangun fokus.
Pendekatan ala Gen Z ini pada dasarnya tentang menghargai transisi dan menambah kegiatan kecil yang menyenangkan untuk mengurangi rasa “terpaksa” kembali ke rutinitas. Dengan memastikan pola tidur, makan, dan aktivitas fisik kembali teratur, cara unik dan konsisten tersebut berpeluang mengurangi stres. Libur panjang pun tidak berubah menjadi sumber stres jangka panjang.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari cnnindonesia.com
- Gambar Kedua dari detik.com