Apindo mengungkap bahwa hampir 67% generasi Z saat ini menghadapi pengangguran, menandakan tantangan besar dalam memasuki dunia kerja.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan bahwa hampir 67 persen pengangguran merupakan generasi Z atau Gen Z. Temukan rangkuman informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Pengangguran Gen Z Jadi Sorotan Apindo
Menurut Shinta, fenomena ini terkait erat dengan ketersediaan lapangan kerja di dalam negeri yang masih terbatas. Meskipun telah menjadi perhatian dan disuarakan oleh Apindo dalam berbagai kesempatan.
Tingginya pengangguran Gen Z menimbulkan kekhawatiran karena menunjukkan kesenjangan antara keterampilan mereka dan kebutuhan industri. Serta tantangan dalam menciptakan lapangan kerja yang cukup.
Shinta menekankan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan pendidikan untuk meningkatkan kompetensi Gen Z melalui pendidikan, pelatihan, magang, dan penciptaan lapangan kerja yang relevan.
Dengan strategi tepat, pengangguran Gen Z bisa ditekan dan potensi mereka dimaksimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Menekankan pentingnya tindakan nyata bagi generasi muda di dunia kerja.
Tantangan Lapangan Kerja dan Peningkatan Sektor Informal
Shinta menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah penyediaan lapangan kerja yang memadai di Indonesia. Meski angka pengangguran terbuka menurun, penurunan tersebut sebagian besar disebabkan karena meningkatnya jumlah pekerja di sektor informal, bukan karena bertambahnya pekerjaan formal.
Menurut Shinta, hampir 59 hingga 60 persen tenaga kerja kini berada di sektor informal. Kondisi ini menunjukkan bahwa lapangan kerja di sektor industri belum cukup untuk menampung seluruh angkatan kerja, sehingga banyak masyarakat mencari alternatif pekerjaan di luar sektor formal.
Fenomena ini meningkatkan pekerja ekonomi gig dan UMKM, namun pekerjaan di sektor informal sering kurang stabil dan minim perlindungan sosial.
Baca Juga: Cara Gen-Z Antisipasi Berita Hoaks Di Era Media Sosial
Penurunan Serapan Tenaga Kerja dari Investasi

Shinta menyoroti bahwa salah satu permasalahan utama di pasar kerja Indonesia saat ini adalah kurangnya lapangan pekerjaan yang layak. Selain itu, ia menekankan penurunan efisiensi serapan tenaga kerja dari nilai investasi. Data yang dibandingkan menunjukkan perubahan signifikan dalam kapasitas penciptaan lapangan kerja.
Tujuh tahun lalu, investasi sebesar Rp 1 triliun mampu menyerap hampir 4.000 tenaga kerja. Namun saat ini, dengan nilai investasi yang sama, hanya sekitar 1.200 tenaga kerja yang terserap. Artinya, kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan kerja telah menurun hampir tiga perempat dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan ini menimbulkan tantangan serius bagi pemerintah dan dunia usaha dalam menciptakan pekerjaan yang layak dan cukup bagi angkatan kerja. Selain itu, kondisi ini berdampak pada meningkatnya ketergantungan masyarakat pada pekerjaan di sektor informal dan ekonomi gig.
Pertumbuhan Ekonomi Dorong Kesempatan Kerja
Shinta menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi 6,7% akan mempermudah lulusan perguruan tinggi baru dalam mencari pekerjaan karena lapangan kerja meningkat signifikan.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mengurangi kekhawatiran pengangguran generasi muda, meningkatkan partisipasi mereka, mendorong investasi, dan menciptakan lapangan kerja baru.
Fokus pada pertumbuhan ekonomi menekankan perlunya kebijakan yang mendukung industri, inovasi, dan investasi untuk menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari hajiumrahnews.com
- Gambar Kedua dari CNBC Indonesia