Bukan karena teknologi atau media sosial, melainkan karena kemampuannya menghidupkan kembali cerita rakyat yang mulai jarang dikenal generasi muda.
Ia adalah Mursid Yoga Pratama, siswa SMA Negeri 1 Prambanan yang meraih juara pertama Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 kategori remaja. Keberhasilannya tidak hanya mengangkat nama daerah asalnya, tetapi juga membawa pesan penting tentang pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman yang serba digital. Simak ulasan lengkap dari BACOTAN GEN Z.
Dongeng dari Candi Sojiwan Bawa Mursid ke Panggung Nasional
Dalam kompetisi tersebut, Mursid membawakan cerita rakyat berjudul Sang Kera dan Buaya. Kisah itu berasal dari relief fabel yang terdapat di Candi Sojiwan, salah satu candi Buddha yang berada di kawasan Prambanan, Jawa Tengah.
Mursid sengaja memilih cerita tersebut karena belum banyak masyarakat yang mengenalnya. Menurutnya, banyak wisatawan hanya mengenal Candi Prambanan atau Candi Sewu, padahal masih banyak situs bersejarah lain yang menyimpan kekayaan cerita lokal.
Melalui penampilannya, ia ingin memperkenalkan Candi Sojiwan kepada masyarakat Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa cerita rakyat daerah masih memiliki nilai yang relevan hingga saat ini.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
đŸ”¥ Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
đŸ“² DOWNLOAD SEKARANG
Peran Orang Tua Yang Mengenalkan Budaya Sejak Kecil
Kecintaan Mursid terhadap budaya tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, ayah dan ibunya sudah sering mengenalkan berbagai cerita rakyat yang berkembang di sekitar tempat tinggal mereka.
Ayahnya bekerja sebagai petani, sedangkan sang ibu mengajar di taman kanak-kanak. Meski hidup sederhana, keduanya selalu memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan budaya.
Dari keluarga itulah Mursid mulai mengenal kisah-kisah yang terpahat pada relief candi. Pengalaman tersebut membentuk minatnya terhadap dunia dongeng dan budaya Jawa hingga akhirnya mengantarkannya meraih prestasi nasional.
Baca Juga:Â Waspada! Kasus Penyakit Jantung di Gen Z Meningkat, Ini Pemicu Utamanya
Pesan Persahabatan yang Menyentuh Hati
Bagi Mursid, cerita Sang Kera dan Buaya memiliki makna yang sangat dalam. Ia melihat kisah tersebut sebagai pelajaran tentang pentingnya kejujuran dan kesetiaan dalam hubungan antarmanusia.
Dalam cerita itu, buaya berusaha mengambil keuntungan dengan mengkhianati sahabatnya sendiri. Dari situ, Mursid belajar bahwa seseorang tidak boleh mengincar hak milik orang lain atau memanfaatkan kepercayaan demi kepentingan pribadi.
Nilai tersebut tidak hanya berlaku dalam pertemanan. Ia juga menerapkannya dalam kehidupan keluarga sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan orang tua yang telah bekerja keras demi masa depannya.
Perjuangan Belajar dari Lereng Gunung Merapi
Perjalanan hidup Mursid juga menarik perhatian banyak orang. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar 19 kilometer untuk berangkat ke sekolah. Rumahnya berada di kawasan lereng Gunung Merapi yang cukup jauh dari pusat kota.
Kondisi itu tidak membuatnya menyerah. Ia tetap bersemangat belajar dan aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya. Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil melalui prestasi yang ia raih di tingkat nasional.
Mursid membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan tekad yang kuat, siapa pun bisa mencapai tujuan yang diinginkan.
Pesan Khusus untuk Generasi Z
Sebagai bagian dari Generasi Z, Mursid mengaku prihatin melihat semakin sedikit anak muda yang tertarik mempelajari bahasa dan budaya daerah. Karena itu, ia berencana melanjutkan pendidikan ke Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta.
Ia ingin menunjukkan bahwa bahasa Jawa tetap memiliki tempat di era modern. Menurutnya, budaya daerah bukan sesuatu yang kuno, melainkan identitas yang perlu dijaga bersama.
Mursid juga mengajak teman-teman sebayanya untuk mulai mengenal dongeng, bahasa daerah, karawitan, dan berbagai warisan budaya lainnya. Ia percaya masa depan budaya Indonesia berada di tangan generasi muda yang mau belajar dan melestarikannya.
Kesimpulan
Kisah Mursid Yoga Pratama menunjukkan bahwa semangat melestarikan budaya tidak mengenal usia. Berbekal dukungan keluarga, kecintaan terhadap cerita rakyat, dan kerja keras yang konsisten, ia berhasil meraih prestasi nasional sekaligus membawa pesan penting bagi Generasi Z. Di tengah arus modernisasi, langkah Mursid menjadi contoh bahwa budaya daerah tetap bisa berkembang jika generasi muda ikut menjaga dan mengenalkannya kepada masyarakat luas.