Di era digital ini, ponsel telah menyatu dengan gaya hidup kita, menjadi gerbang utama menuju informasi dan berita terkini.
Namun, di balik kemudahan akses tersebut, terselip sebuah kebiasaan yang secara perlahan mengikis ketenangan batin: doomscrolling. Fenomena ini merujuk pada perilaku kompulsif menelusuri berita-berita negatif, konflik, atau krisis secara terus-menerus, bahkan ketika hal itu menimbulkan perasaan cemas dan tertekan.
Berikut ini, BACOTAN GEN Z akan menyelami lebih dalam mengapa doomscrolling begitu memikat dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan mental kita.
Generasi Digital Dan Godaan Informasi Negatif
Penggunaan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian, terutama bagi Generasi Z. Mereka menghabiskan berjam-jam menjelajahi platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook, menjadikan ponsel sebagai jendela utama mereka terhadap dunia. Kemudahan akses ini, meskipun informatif, juga membuka pintu bagi paparan berita negatif yang tak terbatas.
Fenomena doomscrolling ini bukanlah sekadar kebiasaan biasa, ia adalah respons psikologis terhadap ketidakpastian. Ketika dunia terasa tidak aman, kita cenderung mencari informasi sebagai upaya untuk mendapatkan kendali atau rasa aman. Ironisnya, semakin banyak berita buruk yang kita konsumsi, semakin tinggi pula tingkat stres dan kecemasan yang kita rasakan.
Platform media sosial dengan fitur infinite scroll memperparah kondisi ini. Desain yang menghilangkan batas alami untuk berhenti menelusuri membuat kita terjebak dalam lingkaran tanpa akhir, terus-menerus mencari pembaruan. Ini adalah jebakan digital yang membuat otak kita tetap dalam mode “siaga” dan sulit untuk melepaskan diri.
Dampak Nyata Doomscrolling Terhadap Kesehatan Mental
Berbagai penelitian telah mengkonfirmasi korelasi kuat antara doomscrolling dan masalah kesehatan mental. Salah satu dampaknya yang paling signifikan adalah peningkatan tingkat kecemasan. Terus-menerus terpapar berita krisis, bencana, atau konflik membuat pikiran kita selalu dalam kondisi khawatir dan tegang.
Selain kecemasan, doomscrolling juga berhubungan dengan peningkatan afek negatif, yaitu suasana hati yang buruk. Perasaan sedih, marah, atau putus asa dapat dengan mudah muncul setelah lama menelusuri konten negatif. Hal ini secara langsung berkontribusi pada penurunan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
Lebih lanjut, doomscrolling dapat memicu existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam tentang masa depan, makna hidup, dan ketidakpastian dunia. Paparan berita negatif yang berlebihan juga dapat menyebabkan news-related stress dan kelelahan mental, membuat kita merasa lelah secara emosional dan sulit berfungsi optimal.
Baca Juga: Gen Z Buktikan Kekuatan Digitalnya, Dongkrak Ekonomi RI hingga 2026
Siapa Yang Paling Berisiko Terjebak Doomscrolling?
Meskipun doomscrolling dapat menimpa siapa saja, beberapa individu memiliki kerentanan lebih tinggi. Mereka yang memiliki tingkat kecemasan tinggi cenderung lebih mudah terjebak dalam perilaku ini, karena mereka secara alami mencari informasi sebagai cara untuk mengelola kekhawatiran mereka.
Individu yang memiliki fear of missing out (FOMO) juga sangat rentan. Dorongan untuk selalu mengetahui informasi terbaru, bahkan jika itu berita buruk, membuat mereka sulit menghentikan kebiasaan menelusuri. Mereka takut kehilangan detail penting jika mereka berhenti.
Selain itu, orang yang menggunakan media sosial secara pasif (hanya membaca tanpa interaksi) dan mereka yang kesulitan dalam mengatur emosi cenderung lebih rentan. Mereka mungkin menggunakan doomscrolling sebagai mekanisme koping yang tidak sehat, meskipun itu memperburuk kondisi emosional mereka.
Melangkah Keluar Dari Lingkaran Doomscrolling
Mengatasi doomscrolling dimulai dengan kesadaran akan kebiasaan tersebut. Setelah menyadari dampaknya, kita bisa mulai membatasi waktu layar dan paparan berita. Tentukan batas waktu harian untuk penggunaan media sosial atau berita, dan patuhi batasan tersebut.
Pilihlah sumber berita yang kredibel dan seimbang, serta variasikan jenis konten yang dikonsumsi. Jangan hanya terpaku pada berita negatif, cari juga kisah inspiratif atau informasi yang lebih ringan. Hal ini dapat membantu menjaga perspektif dan mengurangi tekanan psikologis.
Terakhir, penting untuk mencari aktivitas pengganti yang lebih positif dan membangun. Luangkan waktu untuk hobi, berinteraksi langsung dengan orang-orang terdekat, atau bermeditasi. Dengan langkah-langkah ini, kita bisa merebut kembali kendali atas pikiran dan menjaga kesehatan mental dari pusaran doomscrolling.
Tetap pantau dan nikmati informasi menarik setiap hari, selalu terupdate dan terpercaya, hanya di BACOTAN GEN Z.
- Gambar Utama dari lifestyle.kompas.com
- Gambar Kedua dari jawapos.com