
Anggapan bahwa generasi muda sekarang selalu tertinggal secara ekonomi ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan data. Laporan BCG Center for Macroeconomics berjudul The Kids Are Alright: The Timeless Angst Over Young People and Money membandingkan kondisi Gen Z dengan Milenial, Gen X, dan Baby Boomers.
Hasilnya cukup menarik. Dari sisi pendapatan dan kekayaan, generasi muda menunjukkan kemajuan yang cukup kuat. Namun, perasaan terhadap kondisi finansial justru bergerak ke arah yang berbeda. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Pendapatan Gen Z Ternyata Lebih Tinggi
BCG menemukan bahwa Gen Z mencatat salah satu keunggulan pendapatan antargenerasi terbesar sejak Baby Boomers. Pekerja Gen Z tertua yang kini berusia 28 tahun memiliki pendapatan median sekitar 42.000 dolar AS berdasarkan nilai dolar konstan.
Angka tersebut sekitar 25 persen lebih tinggi dibandingkan pendapatan Milenial saat berada pada usia yang sama. Jika dibandingkan dengan Baby Boomers, selisihnya bahkan mencapai 50 persen.
Perbandingan kekayaan juga menunjukkan gambaran yang menarik. Milenial pada usia 34 tahun memiliki kekayaan bersih rata-rata sekitar 331.000 dolar AS. Angka itu lebih tinggi daripada Gen X yang mencapai 251.000 dolar AS dan Baby Boomers sebesar 229.000 dolar AS pada usia yang sama.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kenapa Tetap Merasa Kekurangan?
Masalahnya bukan sekadar jumlah penghasilan. Cara seseorang melihat kondisi keuangan juga ikut menentukan apakah mereka merasa aman atau justru kekurangan.
Selama sekitar empat dekade, kelompok usia lebih tua biasanya menunjukkan pandangan ekonomi yang lebih pesimistis dibandingkan kelompok muda. Pola tersebut mulai berubah sekitar 2025. Untuk pertama kalinya dalam catatan survei, kelompok muda justru menunjukkan tingkat pesimisme yang lebih tinggi.
Survei SoFi dan YouGov terhadap 4.090 orang dewasa di Amerika Serikat memperlihatkan pola serupa. Sebanyak 62 persen Gen Z dan Milenial masih berharap bisa pensiun dengan nyaman, tetapi hanya 46 persen yang yakin mereka benar-benar mampu mencapainya.
Baca Juga:Â Raim Laode Nyengir, Lagunya Viral Jadi Soundtrack Video Anomali Gen Z
Media Sosial Ikut Mengubah Standar Kesuksesan
Media sosial membuat perbandingan finansial terasa semakin dekat. Gen Z bisa melihat rumah mewah, perjalanan mahal, mobil baru, hingga gaya hidup orang lain hanya melalui layar ponsel.
Ekonom BCG Center for Macroeconomics Philipp Carlsson-Szlezak menilai Gen Z menghadapi kondisi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama revolusi smartphone dan harus memilah sendiri batas antara kehidupan nyata dengan apa yang muncul di media sosial.
BCG menyebut jarak antara kondisi keuangan sebenarnya dan cara seseorang memandang kondisi tersebut sebagai financial dysmorphia. Istilah ini menggambarkan situasi ketika seseorang merasa kondisi finansialnya jauh lebih buruk daripada keadaan sebenarnya.
Standar Finansial Gen Z Makin Tinggi
Salah satu gambaran menarik muncul dari survei Empower 2024 yang dikutip BCG. Dalam survei tersebut, Gen Z menyebut mereka membutuhkan penghasilan sekitar 600.000 dolar AS per tahun agar merasa sukses secara finansial.
Angka tersebut sangat jauh dari pendapatan pekerja pada umumnya di Amerika Serikat. Gaji median pekerja penuh waktu berada di sekitar 60.000 dolar AS per tahun. Baby Boomers sendiri memiliki standar yang jauh lebih rendah, yakni sekitar 100.000 dolar AS untuk merasa sukses secara finansial.
Perbedaan standar ini membantu menjelaskan mengapa penghasilan yang secara statistik cukup baik belum tentu menghadirkan rasa aman. Ekspektasi yang tinggi dapat membuat pencapaian finansial terasa biasa saja.
Biaya Rumah dan Utang Tetap Jadi Masalah
Meski data menunjukkan kemajuan ekonomi, BCG tidak mengatakan seluruh Gen Z hidup dalam kondisi finansial yang nyaman. Ada persoalan struktural yang masih menghantui generasi muda, terutama biaya pendidikan dan harga rumah.
Kenaikan harga rumah membuat kepemilikan properti terasa semakin sulit bagi banyak pekerja muda. Di sisi lain, utang pendidikan juga dapat mengurangi ruang untuk menabung atau membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Karena itu, rasa “miskin” yang muncul di kalangan Gen Z tidak selalu berarti mereka memiliki pendapatan rendah. Ada kombinasi antara biaya hidup, target masa depan, kondisi perumahan, utang, serta paparan media sosial yang membentuk cara mereka melihat uang.
Pada akhirnya, data BCG menunjukkan dua gambaran yang berjalan bersamaan: kondisi ekonomi generasi muda mengalami kemajuan, tetapi rasa aman secara finansial belum tentu ikut meningkat.