Jelang HUT RI, gang sempit di Purwodinatan Semarang berubah jadi tempat produksi bendera milik pasutri Gen Z yang kebanjiran pesanan setiap hari.
Di rumah itu, pasangan Gen Z Fahmi Babgae dan Regita Sekar Agisti atau Gita menjalankan usaha produksi bendera dan pernak-pernik kemerdekaan. Keduanya yang sama-sama berusia 28 tahun memanfaatkan momentum Agustus untuk mengembangkan bisnis keluarga sekaligus mencari penghasilan. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Dari Gang Sempit, Pesanan Bendera Justru Mengalir Deras
Fahmi dan Gita mulai memproduksi aneka kebutuhan kemerdekaan di Semarang sejak tiga tahun lalu. Memasuki 2026, pesanan mereka semakin ramai. Sejak April, pelanggan terus berdatangan, sementara penjualan pernak-pernik kemerdekaan mulai menembus ribuan lembar sejak Juni.
Produk mereka cukup beragam. Ada bendera merah putih berukuran kecil, umbul-umbul untuk kampung, hingga background berukuran besar yang biasa digunakan untuk panggung acara Agustusan.
Fahmi menyebut bisnis tersebut bukan sekadar pekerjaan musiman. Ia meneruskan usaha yang sebelumnya dirintis sang ayah di Madiun, Jawa Timur. Setelah kuliah, menikah, dan menetap di Semarang, Fahmi membawa usaha keluarga itu ke kota barunya.
“Ini sudah tahun ketiga saya memproduksi aneka pernak-pernik bendera dan umbul-umbul,” kata Fahmi, Rabu (12/8/2026).
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Tahun Pertama Sempat Sepi, Kini Malah Kebanjiran Order
Memulai bisnis di kota baru tentu tidak langsung menghasilkan banyak pelanggan. Fahmi mengaku tahun pertamanya di Semarang cukup berat karena masyarakat belum mengenal produknya.
Situasi mulai berubah pada tahun kedua. Pesanan datang dari berbagai pihak, mulai sekolah, instansi pemerintah, hingga perusahaan swasta. Kepercayaan pelanggan perlahan tumbuh dan membuat usaha rumahan tersebut memiliki pasar yang semakin luas.
Memasuki tahun ketiga, lonjakan pesanan terasa semakin besar. Fahmi memanfaatkan marketplace seperti Blibli untuk menjangkau konsumen di luar Semarang. Ia juga mencantumkan lokasi rumah produksi di Google Maps agar pelanggan lebih mudah menemukan tempat usahanya.
Baca Juga: Survei BI Bongkar Fakta Mengejutkan, Gen Z Paling Optimistis soal Ekonomi
Gita Pilih Blusukan dari Kampung ke Kampung
Strategi pemasaran pasangan ini tidak hanya mengandalkan internet. Gita justru turun langsung ke lapangan. Ia mendatangi kampung-kampung sambil membagikan brosur kepada ketua RT dan RW.
Langkah sederhana itu ternyata membawa hasil besar. Banyak warga kemudian memesan bendera untuk menghias lingkungan mereka menjelang 17 Agustus.
“Setiap dapat orderan dari kampung-kampung jumlahnya bisa ribuan. Belum lagi yang memesan dari marketplace dan datang langsung ke rumah. Jadi pas jelang Agustusan seperti ini, jumlah pesanan bisa naik 300 persen,” ujar Gita.
Pesanan bahkan datang dari Kendal, Demak, Salatiga, hingga Jepara. Untuk jumlah terbesar, Jepara menjadi salah satu daerah yang memberikan pesanan dalam skala besar.
Sehari Bisa Terjual 50 Background
Kesibukan Fahmi dan Gita meningkat drastis ketika Agustus semakin dekat. Pesanan dari warga Semarang biasanya datang secara mendadak. Karena itu, mereka harus bergerak cepat agar seluruh permintaan bisa terpenuhi.
Gita mengatakan penjualan background saja bisa mencapai 50 buah dalam sehari. Sementara pesanan dari RT, RW, dan dinas pemerintahan terus masuk beberapa kali dalam satu hari.
“Sekarang ini penjualan paling ramai memang dari pesanan RT, RW, dan dari dinas-dinas juga. Sehari itu orderan bisa masuk 3 sampai 4 kali,” tuturnya.
Selain warga, pelanggan mereka juga mencakup mal dan berbagai instansi yang membutuhkan pernak-pernik kemerdekaan dalam jumlah besar.
Harga Mulai Rp5.000 Jadi Salah Satu Daya Tarik
Salah satu alasan produk Fahmi dan Gita mendapat banyak peminat adalah harga yang relatif terjangkau. Karena mereka mengerjakan proses produksi sendiri, pasangan tersebut bisa menawarkan harga grosir mulai Rp5.000 untuk bendera kecil hiasan motor atau sepeda.
Sementara itu, bendera berbahan katun dengan kualitas lebih tinggi bisa mencapai Rp180.000. Untuk pesanan custom, harga menyesuaikan ukuran, bentuk, dan tingkat kerumitan desain.
Dari gang sempit di Purwodinatan, Fahmi dan Gita membuktikan bahwa usaha tidak selalu membutuhkan tempat besar untuk berkembang. Dengan keterampilan, pemasaran digital, dan keberanian turun langsung menemui pelanggan, rumah sederhana mereka berubah menjadi pusat produksi yang kebanjiran pesanan setiap menjelang kemerdekaan.