Kamar kos Anita (25) sederhana, tetapi ia rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk skincare dan perawatan diri yang mendukung pekerjaan serta meningkatkan rasa percaya diri.
Namun, pemandangan di atas meja cukup mencuri perhatian. Ada pembersih wajah, serum, pelembap, sunscreen, hingga parfum. Jika ditotal, seluruh produk tersebut bernilai jutaan rupiah.
Bagi sebagian orang, pilihan Anita mungkin terasa tidak biasa. Ia memilih tinggal di kos sederhana, tetapi mengalokasikan uang cukup besar untuk perawatan diri. Bagi Anita, keputusan itu punya alasan yang jelas. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Skincare Bukan Sekadar Soal Penampilan
Anita rutin bertemu klien secara langsung maupun melalui panggilan video. Kondisi kulit yang terawat membuatnya merasa lebih percaya diri ketika bekerja.
“Kalau buat aku, skincare bukan cuma soal kelihatan cantik. Aku hampir setiap hari meeting sama klien baik tatap muka atau lewat video call. Saat kondisi kulit lagi bagus, aku jadi lebih percaya diri buat presentasi. Jadi menurutku ini bagian dari investasi untuk diri sendiri,” ujar Anita kepada Kompas.com.
Bagi Anita, perawatan kulit punya kaitan dengan aktivitas sehari-hari. Ia menggunakan produk tersebut secara rutin, sehingga pengeluaran itu terasa lebih masuk akal dibanding membeli barang yang jarang ia gunakan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kenapa Kos Sederhana Tetap Jadi Pilihan?
Anita tidak menganggap tempat tinggal sebagai bagian yang harus menunjukkan status sosial. Selama kamar terasa nyaman dan aman, ia tidak keberatan tinggal di ruang yang sederhana.
“Buat aku, penampilan juga penting karena berhubungan sama pekerjaan. Selama kosnya masih nyaman dan aman, aku lebih memilih mengalokasikan uang buat hal yang aku pakai setiap hari,” katanya.
Pola pikir seperti ini membuat sebagian anak muda membagi pengeluaran berdasarkan manfaat yang mereka rasakan. Mereka tidak selalu mengejar barang mahal untuk rumah atau tempat tinggal. Sebaliknya, mereka memilih kebutuhan yang menunjang aktivitas, pekerjaan, dan rasa percaya diri.
Baca Juga: Tak Disangka! Gang Sempit di Semarang Disulap Jadi Ladang Cuan, Ribuan Bendera Ludes
Gen Z Mulai Punya Definisi Investasi yang Berbeda
Istilah investasi tidak selalu berarti membeli properti, emas, atau instrumen keuangan. Bagi sebagian Gen Z, merawat diri juga bisa masuk dalam pertimbangan tersebut.
Skincare, makeup, pakaian, hingga perawatan tubuh dapat mendukung penampilan sekaligus membangun rasa percaya diri. Apalagi banyak pekerjaan sekarang mengandalkan pertemuan daring dan aktivitas di media sosial.
Kondisi itu membuat wajah dan penampilan semakin sering tampil di depan orang lain. Kamera ponsel, rapat virtual, konten media sosial, serta pertemuan dengan klien membuat penampilan menjadi bagian dari keseharian.
Penampilan Bisa Menjadi Modal Sosial
Sosiolog Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si., melihat fenomena ini dari sisi sosial. Menurutnya, masyarakat kini tidak hanya menilai seseorang berdasarkan kepemilikan barang atau kekayaan.
Penampilan juga dapat membentuk kesan dan reputasi seseorang. Orang lain biasanya melihat tampilan luar terlebih dahulu sebelum mengetahui kemampuan, pengalaman, atau karakter seseorang.
“Yang pertama kali dilihat orang bukan kepintaran atau kemampuan kita, karena itu tidak langsung tampak. Yang paling cepat dikenali adalah penampilan fisik. Dari situlah kemudian muncul modal simbolik yang memberi pengakuan sosial,” ujar Drajat.
Karena itu, pengeluaran untuk perawatan diri tidak selalu menunjukkan perilaku konsumtif. Seseorang bisa saja membeli skincare karena kebutuhan pekerjaan, kenyamanan pribadi, atau cara membangun kepercayaan diri.
Antara Kebutuhan, Gaya Hidup, dan Pilihan Pribadi
Meski begitu, setiap orang tetap perlu membedakan kebutuhan dan keinginan. Produk perawatan diri memang dapat memberi manfaat, tetapi pengeluaran tetap perlu menyesuaikan kemampuan finansial.
Fenomena Gen Z yang memilih kos sederhana sambil mengeluarkan jutaan rupiah untuk skincare juga tidak bisa langsung dianggap sebagai pemborosan. Setiap orang memiliki prioritas yang berbeda.
Bagi Anita, tempat tinggal yang nyaman sudah cukup. Ia justru merasa perawatan diri memberi manfaat langsung dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, cara Gen Z melihat “investasi” memang semakin beragam. Sebagian memilih menabung untuk aset, sementara yang lain menganggap kesehatan, penampilan, pengalaman, dan kepercayaan diri sebagai modal yang juga punya nilai.