Menaker Yassierli ingatkan Gen Z dan Gen Alpha bahwa persaingan kerja tak lagi soal ijazah, tapi kemampuan adaptasi di dunia industri.
Menurutnya, perusahaan sekarang bergerak cepat dan menyesuaikan diri dengan teknologi. Karena itu, kebutuhan tenaga kerja juga ikut berubah. Bukan hanya pintar secara akademis, tapi juga harus punya keterampilan yang bisa langsung dipakai di lapangan. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Perusahaan Lebih Cari Skill daripada Sekolah
Yassierli menegaskan satu hal yang cukup sederhana tapi sering diabaikan: dunia kerja lebih melihat skill daripada sekadar asal sekolah. Ia menyebut istilah “Skill not School” untuk menggambarkan kondisi ini.
Perusahaan kini tidak hanya melihat latar belakang pendidikan, tetapi lebih fokus pada kemampuan nyata seseorang. Banyak perusahaan bahkan kesulitan menemukan kandidat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hal ini membuat anak muda perlu lebih fokus membangun kemampuan praktis sejak awal, bukan hanya mengejar gelar.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Gabungan Skill Jadi Kunci Utama
Menaker menjelaskan bahwa dunia kerja modern tidak lagi cukup dengan satu jenis kemampuan saja. Perusahaan sekarang mencari kombinasi keterampilan yang saling melengkapi.
Skill teknis memang penting, tetapi soft skill seperti komunikasi, kerja tim, dan kemampuan berpikir kritis juga punya peran besar. Bahkan, beberapa posisi kerja membutuhkan perpaduan keduanya agar hasil kerja lebih maksimal.
Karena itu, anak muda perlu memahami kebutuhan industri yang terus berubah, bukan hanya terpaku pada satu kemampuan.
Baca Juga: Di Saat Teman-Temannya Liburan, Gen Z Ini Justru Bertaruh Nyawa Lawan Ombak Demi Orangtua
Dunia Kerja Terus Berubah Cepat
Yassierli mengingatkan bahwa perubahan teknologi membuat dunia kerja bergerak sangat cepat. Skill yang relevan hari ini bisa saja tidak lagi dibutuhkan beberapa tahun ke depan.
Situasi ini menuntut angkatan kerja muda untuk selalu siap belajar hal baru. Tanpa kesiapan itu, seseorang bisa tertinggal meskipun punya kemampuan bagus di masa lalu.
Ia menilai adaptasi menjadi salah satu kunci utama agar pekerja tetap relevan di pasar kerja.
Pentingnya Growth Mindset untuk Gen Z
Menaker juga menyoroti pentingnya pola pikir berkembang atau growth mindset. Ia menekankan bahwa anak muda tidak boleh membatasi diri hanya pada satu bidang keahlian.
Contohnya, seseorang lulusan teknik tidak harus menutup diri dari dunia teknologi informasi. Menurutnya, justru kemampuan untuk belajar lintas bidang akan membuat seseorang lebih siap menghadapi perubahan.
Dengan mindset seperti itu, anak muda bisa terus mengembangkan diri tanpa takut keluar dari zona nyaman.
Siap Punya Lebih dari Satu Keahlian
Yassierli menyebut bahwa pekerja masa depan kemungkinan besar tidak hanya mengandalkan satu kompetensi. Banyak pekerja akan memiliki dua hingga tiga kemampuan sekaligus untuk menyesuaikan kebutuhan industri.
Kombinasi skill ini terbentuk dari kemauan untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman. Mereka yang mampu beradaptasi biasanya lebih mudah bertahan di tengah perubahan besar dunia kerja.
Pemerintah sendiri terus mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan keterampilan. Harapannya, generasi muda Indonesia bisa lebih siap menghadapi tantangan global yang semakin kompetitif.