Kisah nyata tiga remaja Gen Z di Indonesia menantang stigma “rapuh” dan “antisosial” yang melekat pada generasi mereka.
Generasi Z sering digambarkan negatif, rapuh mental, kecanduan gawai, dan kurang etos kerja. Label ini muncul dari riset, diskusi publik, dan seminar. Jonathan Haidt dalam Generasi Cemas mencatat lonjakan gangguan mental remaja di AS sejak 2012. Namun, kisah Ana, Stef, dan Dyra dari Indonesia menunjukkan sisi lain Gen Z.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Stigma Negatif Dan Realitas Gen Z
Banyak pakar menilai Gen Z rapuh secara mental, terlalu dekat dengan gawai, kecanduan internet, dan kurang etos kerja. Jonathan Haidt, penulis Anxious Generation, menyebut Gen Z di AS mengalami lonjakan gangguan mental, terutama kecemasan dan depresi, sejak 2012, lebih banyak pada remaja perempuan, meski kenaikan hampir sama di kedua jenis kelamin.
Kecemasan adalah antisipasi berlebihan terhadap ancaman, sedangkan depresi ditandai perasaan sedih, putus asa, dan terasing sosial. Haidt menilai Gen Z, pengguna smartphone sejak kecil dengan akses terus-menerus ke media sosial, mengalami perubahan pola tidur dan hubungan interpersonal.
Haidt menggambarkan Gen Z sebagai generasi pertama yang pubertas dengan “portal di saku baju”, menarik mereka dari interaksi langsung ke dalam “alam semesta alternatif yang menarik, membikin kecanduan, tidak stabil”. Gambaran ini diperkuat oleh kritik cendekiawan yang menyebut generasi muda lebih ‘bodoh’, kurang keterampilan sosial, dan tidak tahu malu.
Kontrol Keluarga Dan Lingkungan Pendidikan
Kisah Ana dari Way Kanan, Lampung, menunjukkan bahwa paparan teknologi tidak selalu tanpa batas. Ia mendapat ponsel pertama pada kelas 4 SD, namun ditarik kembali ketika nilainya anjlok. Meskipun kemudian memiliki smartphone dan akun media sosial, aksesnya sangat terbatas karena ia mondok di pesantren.
Ana menghabiskan SMP dan SMA di pesantren, dan bahkan memilih tinggal di pondok selama kuliah di UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto. Lingkungan pesantren memberikan kontrol ketat terhadap penggunaan gawai, memastikan ia tidak “tenggelam” dalam dunia digital secara berlebihan. Pengalaman ini membentuk keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Demikian pula Dyra dari Yogyakarta, yang baru aktif di dunia digital saat kelas 2 SMP. Orang tuanya membatasi penggunaan smartphone, dan peraturan sekolah juga ketat. Meskipun kadang “nyolong-nyolong waktu,” Dyra memahami batasnya, bahkan menyadari bahwa “mata capek kalau terus-terusan” menggunakan gawai.
Baca Juga: Benarkah Generasi Z Lebih ‘Bodoh’ Dari Pendahulu? Menguak Perspektif Neurosains Pendidikan
Kehidupan Sosial Dan Kesehatan Mental Yang Terjaga
Meskipun akrab dengan gawai, Ana, Stef, dan Dyra masih menjalani kehidupan sosial yang aktif. Mereka memiliki circle pertemanan di lingkungan sekitar, sekolah, dan kuliah, serta menganggap penting pertemuan offline atau nongkrong. Pertemuan tatap muka ini menjadi bagian rutin dalam seminggu.
Mengenai stigma Gen Z yang suka mengeluh atau lemah secara mental, Stef dan Dyra tidak sepenuhnya setuju. Keduanya merasa mampu mengatur psikis mereka dan tidak sampai pada tingkat kecemasan atau depresi. Dyra bahkan menegaskan tidak pernah terpikir untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri meskipun menghadapi masalah.
Stef menambahkan, ia mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan, bahkan jika harus bekerja di luar jam kantor atau akhir pekan. Hal ini menunjukkan etos kerja yang kuat dan kemampuan mengelola tekanan. Kisah mereka membantah pandangan bahwa seluruh Gen Z rapuh dan tidak memiliki mental yang tangguh.
Adaptasi Generasi Dan Kebutuhan Pemahaman Lintas Generasi
Setiap generasi menghadapi tantangan adaptasi yang berbeda. Gen Z tumbuh dalam arus globalisasi dan digitalisasi, “mendewasakan” diri di tengah era serba digital. Mereka adalah generasi yang mewarisi perubahan teknologi dari analog ke digital, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.
Gen Z mendominasi populasi Indonesia, mencakup sekitar 27% dari 286 juta jiwa pada tahun 2025. Mereka adalah wajah peradaban saat ini dan penentu masa depan. Oleh karena itu, penting untuk memahami realitas mereka secara utuh, bukan hanya dari sudut pandang stigma negatif.
Ana, Stef, dan Dyra mungkin tidak merepresentasikan puluhan juta Gen Z di Indonesia, terutama yang minim akses internet atau hidup dalam keterbatasan. Namun, kisah mereka adalah bagian penting dari narasi generasi ini. Yang dibutuhkan bukanlah penghakiman atau pelabelan, melainkan kesediaan untuk mendengar, memahami, dan berbagi pengalaman hidup lintas generasi.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari rspp.co.id