Gaya hidup Gen Z yang kurang sehat seperti merokok, sering makan manis, mengonsumsi fast food, dan jarang bergerak dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, mengingatkan bahwa pola hidup tidak sehat sejak muda dapat menjadi masalah besar pada masa depan. Ia menilai kebiasaan yang terus berulang selama bertahun-tahun dapat memengaruhi kesehatan jantung dalam satu hingga dua dekade mendatang. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
1. Merokok dan Vape Sama-Sama Perlu Diwaspadai
Merokok menjadi salah satu kebiasaan yang paling berisiko bagi kesehatan jantung. Tidak hanya rokok konvensional, penggunaan vape juga perlu mendapat perhatian karena nikotin dapat menimbulkan kecanduan dan memengaruhi pembuluh darah.
Dr. Bobby menjelaskan bahwa anak muda tidak seharusnya menganggap vape sebagai pilihan yang sepenuhnya aman. Tubuh tetap membutuhkan udara bersih, bukan paparan zat dari produk tembakau maupun rokok elektronik.
“Merokok itu warisan kuno generasi milenial dan di atasnya. Tidak ada manfaatnya, melainkan memicu kecanduan dan merusak pembuluh darah jantung,” ujar dr. Bobby.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
2. Terlalu Sering Makan dan Minum Manis
Minuman kekinian, kopi dengan tambahan gula, makanan penutup, hingga camilan manis mudah masuk ke rutinitas sehari-hari. Masalah muncul ketika konsumsi gula berlangsung terlalu sering tanpa memperhatikan jumlahnya.
Asupan gula berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes. Kondisi tersebut kemudian dapat memperbesar risiko gangguan jantung dalam jangka panjang.
Dr. Bobby mengingatkan Gen Z agar tidak menjadikan makanan dan minuman manis sebagai menu wajib setiap hari. Ia juga menyebut batas konsumsi gula harian yang perlu diperhatikan, yakni maksimal 50 gram per hari.
Kebiasaan mengurangi gula sejak sekarang dapat membantu menjaga pola makan tetap seimbang. Pilihan sederhana seperti memperbanyak air putih dan membatasi minuman tinggi gula juga dapat menjadi langkah awal.
Baca Juga: Bikin Gen Z Minder! Nenek 70 Tahun Ini Punya Tubuh Berotot Bak Atlet
3. Fast Food dan Makanan Tinggi Garam
Kesibukan sering membuat makanan cepat saji terasa praktis. Namun, terlalu sering mengonsumsi fast food dan makanan ultra-proses dapat meningkatkan asupan garam serta zat lain yang kurang baik jika dikonsumsi berlebihan.
Asupan garam yang tinggi dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Jika seseorang membiarkan hipertensi tanpa pengendalian, kondisi tersebut dapat membebani kerja jantung dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Dr. Bobby menyarankan masyarakat memperhatikan jumlah garam dalam makanan sehari-hari. Ia menyebut konsumsi garam lebih dari 5 gram per hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Gen Z tidak harus menghindari semua makanan favorit. Mengurangi frekuensi fast food, memilih makanan segar, serta memperhatikan label kandungan garam dapat membantu menjaga pola makan.
4. Mager Terus dan Jarang Berolahraga
Kebiasaan duduk terlalu lama juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Aktivitas seperti bekerja di depan komputer, bermain gim, menonton, atau berselancar di media sosial bisa membuat seseorang menghabiskan berjam-jam tanpa banyak bergerak.
Kurangnya aktivitas fisik dapat membuat berat badan meningkat dan lingkar perut bertambah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan obesitas dan sindrom metabolik yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
Olahraga tidak harus selalu berlangsung di pusat kebugaran. Jalan cepat, bersepeda, berenang, atau olahraga kardio lain dapat menjadi pilihan. Yang terpenting, seseorang perlu menyediakan waktu untuk bergerak secara rutin.
Kebiasaan Hari Ini Bisa Menentukan Kesehatan Esok
Empat kebiasaan tersebut tidak selalu langsung menimbulkan penyakit jantung. Risikonya dapat berkembang perlahan ketika seseorang terus menjalankannya selama bertahun-tahun.
Kementerian Kesehatan menyebut penyakit seperti penyakit arteri koroner, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal dapat berkaitan dengan gagal jantung. Karena itu, menjaga kesehatan sejak muda menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko di kemudian hari.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, juga menyebut penyakit jantung sebagai salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan jantung tidak hanya menjadi perhatian bagi kelompok usia lanjut.
Gen Z dapat mulai memperbaiki kebiasaan tanpa menunggu munculnya keluhan. Menghindari rokok dan vape, membatasi gula serta garam, mengurangi makanan ultra-proses, dan rutin beraktivitas fisik menjadi beberapa langkah sederhana untuk menjaga jantung tetap sehat.