Istilah job hugging ramai di kalangan Gen Z, menggambarkan pekerja muda yang memilih bertahan di pekerjaan meski sudah tak nyaman demi keamanan dan kepastian gaji.
Job hugging menggambarkan kondisi ketika seseorang tetap mempertahankan pekerjaannya meski merasa kurang puas, kurang tertantang, atau tidak benar-benar menikmati perannya. Keputusan tersebut bukan selalu karena rasa cinta terhadap perusahaan, melainkan karena pekerja melihat risiko pindah kerja jauh lebih besar. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Job Hugging Itu Sebenarnya Apa?
Secara sederhana, job hugging berarti “memeluk” pekerjaan yang sedang dimiliki. Karyawan memilih bertahan meskipun ada rasa tidak puas terhadap pekerjaan, lingkungan kantor, maupun perkembangan karier.
Berbeda dengan job hopping yang mendorong seseorang berpindah pekerjaan secara berkala, job hugging justru membuat pekerja bertahan selama mungkin. Job hopping biasanya dilakukan untuk mencari gaji lebih tinggi, pengalaman baru, posisi yang lebih baik, atau jenjang karier yang lebih cepat.
Dalam kondisi job hugging, pekerja cenderung mengutamakan kepastian. Mereka sudah mengenal ritme kerja, lingkungan kantor, tugas, serta penghasilan yang diterima setiap bulan. Karena itu, meninggalkan posisi lama terasa seperti mengambil risiko besar.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Bukan Karena Betah, Tapi Takut Ambil Risiko
Menariknya, bertahan di sebuah pekerjaan tidak selalu berarti seseorang merasa nyaman. Ada pekerja yang tetap masuk kantor setiap hari meski merasa bosan atau tidak melihat banyak peluang berkembang.
Rebecca Houghton, pendiri BoldHR, menggambarkan situasi tersebut sebagai keputusan untuk bertahan karena pilihan lain terlihat lebih buruk. Artinya, pekerja bukan sedang menunjukkan loyalitas tinggi kepada perusahaan, tetapi sedang mempertimbangkan keamanan finansial dan kondisi pasar kerja.
Gaji tetap menjadi salah satu alasan paling kuat. Ketika biaya hidup terus berjalan, kehilangan pemasukan akibat resign tanpa pekerjaan pengganti tentu menjadi pertimbangan serius. Karena itu, sebagian pekerja memilih menahan ketidakpuasan daripada menghadapi masa tanpa penghasilan.
Baca Juga: Gen Z Punya Tren Liburan Baru: Fitness Travel, dari Padel di Spanyol hingga Maraton Tokyo
Kenapa Job Hugging Makin Ngetren di Kalangan Gen Z?
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Kondisi ekonomi dan pasar kerja ikut mendorong pekerja untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Aktivitas perekrutan yang melambat membuat peluang kerja baru terasa lebih terbatas. Ketika lowongan tidak sebanyak sebelumnya, pekerja tentu akan berpikir lebih panjang sebelum mengundurkan diri dari posisi yang sudah mereka miliki.
Gen Z yang memasuki dunia kerja dalam situasi penuh ketidakpastian juga menghadapi pilihan yang tidak sederhana. Keinginan mendapatkan pekerjaan impian harus berhadapan dengan kebutuhan membayar kebutuhan sehari-hari.
Pasar Kerja yang Tidak Pasti Bikin Pekerja Bertahan
Ketidakpastian ekonomi membuat keputusan karier ikut berubah. Jika sebelumnya pindah kantor sering dianggap sebagai cara mempercepat perkembangan karier, kini sebagian pekerja melihat stabilitas sebagai sesuatu yang lebih berharga.
Menurut ekonom ketenagakerjaan ZipRecruiter AS, Nicole Bachaud, kondisi pasar kerja yang tidak menentu mendorong pekerja mempertahankan posisi mereka saat ini. Mereka memilih menunggu situasi membaik sebelum mengambil langkah besar.
Situasi tersebut juga menjelaskan mengapa seseorang bisa tetap bertahan meski merasa pekerjaannya kurang cocok. Selama penghasilan masih aman dan risiko kehilangan pekerjaan baru cukup tinggi, posisi sekarang terasa sebagai pilihan paling masuk akal.
Apakah Job Hugging Selalu Buruk?
Job hugging tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk. Dalam kondisi pasar kerja yang sulit, bertahan sementara bisa menjadi strategi yang cukup realistis. Pekerja dapat mempertahankan penghasilan sambil mencari peluang baru secara perlahan.
Namun, masalah muncul jika seseorang terlalu lama bertahan tanpa membuat rencana. Pekerjaan yang tidak memberi ruang berkembang dapat membuat keterampilan stagnan dan motivasi semakin menurun.
Karena itu, pekerja tetap perlu mengevaluasi posisi mereka. Jika belum siap resign, mereka bisa memanfaatkan waktu untuk meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, memperbarui CV, dan memantau peluang kerja.
Pada akhirnya, job hugging menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan. Bagi sebagian Gen Z, mengejar karier tidak selalu berarti harus terus berpindah tempat. Di tengah ketidakpastian, memiliki pekerjaan yang stabil justru menjadi alasan kuat untuk bertahan sambil menunggu kesempatan yang benar-benar tepat.