Kartu Pokémon kini kembali ramai di kalangan Gen Z, bukan cuma karena nostalgia tetapi juga karena peluang koleksi dan nilai jualnya.
Bagi sebagian Gen Z, Pokémon bukan sekadar tontonan masa kecil. Karakter seperti Pikachu, Charizard, dan Mewtwo sudah menemani mereka lewat game, anime, hingga kartu koleksi. Kini, minat tersebut kembali muncul dengan cara yang berbeda.
Media sosial ikut membuat kartu Pokémon semakin mudah dikenal. TikTok, Instagram, dan komunitas Discord menghadirkan konten unboxing, pembahasan harga, sampai informasi mengenai kartu langka. Kondisi ini membuat aktivitas mengoleksi terasa lebih dekat dengan keseharian anak muda.
Sejumlah kolektor bahkan melihat kartu Pokémon sebagai aset alternatif. Namun, nilai kartu tidak selalu naik. Kelangkaan, kondisi, karakter, seri, permintaan, serta tren pasar ikut menentukan harga. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Kenapa Kartu Pokémon Menarik bagi Gen Z?
Ada alasan sederhana mengapa kartu Pokémon kembali mendapat perhatian. Banyak anak muda sudah mengenal waralaba ini sejak kecil sehingga mereka memiliki hubungan emosional dengan karakter tertentu.
Selain faktor nostalgia, sensasi berburu kartu juga menjadi daya tarik tersendiri. Kolektor bisa membeli booster pack dan berharap menemukan kartu yang jarang muncul. Rasa penasaran tersebut membuat proses membuka kartu terasa seperti pengalaman tersendiri.
Menurut Misprint, sebagian pembeli kartu Pokémon yang mereka temui berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Mereka mengikuti perkembangan pasar melalui TikTok, X, dan Discord, lalu menggunakan informasi tersebut untuk mempertimbangkan pembelian.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Nostalgia Bikin Kartu Punya Nilai Lebih
Kini Nostalgia menjadi salah satu faktor kuat dalam pasar kartu Pokémon. Gen Z yang tumbuh bersama game dan anime Pokémon tidak hanya melihat kartu sebagai benda koleksi.
Karakter favorit juga dapat memengaruhi keputusan seseorang ketika memilih kartu. Misalnya, penggemar Charizard mungkin lebih tertarik menyimpan kartu Charizard dibandingkan karakter yang tidak memiliki hubungan emosional bagi mereka.
Nilai seperti ini memang sulit diukur dengan angka. Namun, hubungan antara karakter dan penggemarnya dapat menciptakan permintaan yang bertahan lebih lama pada kartu tertentu.
Meski begitu, rasa suka tidak otomatis membuat sebuah kartu bernilai tinggi. Kolektor tetap perlu melihat kondisi kartu, jumlah kartu yang beredar, sejarah seri, dan harga transaksi di pasar.
Baca Juga: 20 Kota Terbaik untuk Gen Z di Dunia, Ternyata Ada Wakil Asia Tenggara
Media Sosial Ikut Mengubah Cara Orang Koleksi
Dulu, orang yang ingin serius mengoleksi kartu mungkin harus datang ke toko khusus atau mengikuti komunitas tertentu. Sekarang, informasi pasar bisa ditemukan hanya melalui ponsel.
Video pembukaan booster pack menjadi salah satu konten yang menarik perhatian. Ketika seseorang menemukan kartu langka, video tersebut dapat menyebar dengan cepat dan memunculkan rasa penasaran dari penonton lain.
Komunitas Discord juga memberi ruang bagi kolektor untuk membicarakan harga, kondisi kartu, hingga pengalaman jual beli. Namun, popularitas di media sosial juga membawa risiko karena tren dapat berubah dengan cepat.
Kartu yang sedang viral belum tentu memiliki nilai jangka panjang. Karena itu, kolektor perlu membedakan antara popularitas sesaat dan permintaan yang benar-benar kuat.
Kartu Fisik Punya Daya Tarik Tersendiri
Salah satu hal yang membuat kartu Pokémon berbeda dari aset digital adalah bentuknya yang bisa langsung disentuh dan disimpan. Kolektor dapat memajangnya, menyimpannya dalam pelindung khusus, atau membawanya ke acara komunitas.
Kondisi fisik juga memainkan peran penting. Goresan, sudut kartu, permukaan, dan kualitas cetakan dapat memengaruhi penilaian kolektor. Kartu dengan kondisi sangat baik bahkan bisa mendapatkan nilai lebih tinggi setelah melalui proses grading.
Namun, pasar kartu tetap memiliki risiko. Harga bisa berubah mengikuti tren, jumlah pasokan, karakter yang populer, dan minat kolektor. Misprint juga mengingatkan bahwa tidak semua kartu modern otomatis mengalami kenaikan harga.
Karena itu, orang yang tertarik mengoleksi sebaiknya tidak hanya mengejar kartu yang sedang ramai. Memahami pasar dan membeli sesuai kemampuan tetap menjadi hal penting.
Selain Kartu, Ada Cara Baru Koleksi Pokémon
Penggemar Pokémon kini juga bisa mengoleksi karakter favorit dalam bentuk berbeda. DANA menghadirkan Pokémon Skin Fest yang memungkinkan pengguna mendapatkan Skin Pokémon secara gratis melalui misi di aplikasi.
Program ini berlangsung pada 16 September hingga 15 Desember 2026. DANA menghadirkan enam karakter utama, yaitu Pikachu, Bulbasaur, Charmander, Squirtle, Psyduck, dan Snorlax. Setelah menyelesaikan koleksi tersebut, pengguna juga dapat membuka Skin Pokémon Legendaris sesuai ketentuan program.
Caranya cukup sederhana. Pengguna perlu membuka aplikasi DANA versi terbaru, masuk ke fitur Misi Skin, lalu menyelesaikan misi Pokémon yang tersedia. Setelah misi selesai, pengguna dapat melakukan klaim skin.
Skin yang sudah diperoleh akan menjadi milik pengguna secara permanen. DANA juga menyediakan kesempatan hadiah tambahan bagi pengguna tercepat yang menyelesaikan misi, termasuk Saldo DANA hingga ratusan juta rupiah dan HUAWEI MatePad sesuai ketentuan program.
Menariknya, skin Pokémon hadir secara bertahap setiap dua minggu. Jadi, pengguna perlu mengecek aplikasi secara berkala agar tidak melewatkan misi berikutnya.
Fenomena kartu Pokémon dan koleksi digital menunjukkan satu hal menarik. Bagi Gen Z, hobi dan koleksi kini bisa berjalan berdampingan dengan komunitas, media sosial, serta teknologi digital yang mereka gunakan setiap hari.