Suasana Nairobi kembali tegang setelah polisi Kenya menutup sejumlah akses utama menuju pusat kota pada Kamis pagi.
Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap rencana aksi demonstrasi besar yang digerakkan oleh kelompok Generasi Z.
Aksi ini bukan sekadar protes biasa, tapi juga membawa kembali ingatan pada gelombang kerusuhan dua tahun lalu yang sempat mengguncang stabilitas politik Kenya. Simak ulasan lengkap dari BACOTAN GEN Z.
Blokade Ketat di Jalan-Jalan Utama Kota
Sejak dini hari, aparat keamanan sudah bersiaga di berbagai titik strategis. Jalan-jalan utama seperti Thika Super Highway, Mombasa Road, hingga Waiyaki Way ditutup total. Polisi memasang barikade dan pos pemeriksaan untuk membatasi akses masuk ke pusat bisnis Nairobi.
Akibatnya, banyak warga yang biasanya berangkat kerja pagi hari justru terjebak dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Aktivitas kota langsung melambat bahkan sebelum matahari benar-benar naik.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Gelombang Protes Gen Z Kembali Menguat
Aksi demonstrasi ini digerakkan oleh kelompok Gen Z yang sebelumnya juga terlibat dalam protes besar pada 2024. Mereka mengingatkan kembali peristiwa saat parlemen diserbu dan rencana undang-undang pajak akhirnya dibatalkan.
Kali ini, tuntutan mereka lebih luas, termasuk keadilan bagi korban kekerasan dalam aksi sebelumnya. Data yang mereka bawa menyebutkan lebih dari 80 orang meninggal dunia serta puluhan lainnya mengalami luka serius akibat bentrokan dengan aparat.
Baca Juga:Â Anak Petani-Guru TK di Jateng Juara Ajang Dongeng Kemenbud, Beri Pesan untuk Gen Z!
Aktivitas Kota Lumpuh Sejak Pagi
Penutupan akses menuju pusat kota membuat banyak aktivitas ekonomi terganggu. Sejumlah sekolah memilih meliburkan kegiatan belajar demi keamanan siswa.
Toko-toko di beberapa area pusat bisnis juga tutup lebih awal karena pemilik khawatir terjadi kericuhan. Kondisi ini membuat suasana Nairobi terasa lebih sepi dari biasanya, meski di beberapa titik tetap terlihat pergerakan aparat yang berjaga ketat.
Pemerintah dan Oposisi Saling Berbeda Sikap
Presiden Kenya William Ruto menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat. Namun ia juga memperingatkan bahwa tindakan anarkis tidak akan ditoleransi.
Di sisi lain, mantan Wakil Presiden Rigathi Gachagua justru meminta masyarakat menahan diri dan menghindari jalanan untuk mencegah bentrokan. Perbedaan sikap dua tokoh ini memperlihatkan dinamika politik yang masih panas di tengah situasi sosial yang sensitif.
Kontroversi Dana Kompensasi dan Tuntutan Baru
Sebelumnya, pemerintah Kenya telah mengumumkan alokasi dana hampir 15 juta dolar AS untuk kompensasi korban pelanggaran HAM sejak 2017 hingga 2025. Dana ini ditujukan bagi hampir 2.000 korban yang terdampak aksi protes.
Namun kebijakan tersebut justru menuai kritik dari organisasi HAM yang menilai skema itu tidak transparan dan tidak mencakup semua korban. Mereka juga menyoroti nominal bantuan yang dianggap tidak sebanding dengan dampak yang dialami para korban. Situasi ini membuat tuntutan demonstran semakin menguat dan belum menunjukkan tanda mereda dalam waktu dekat.