Psikolog jelaskan mengapa milenial dan Gen Z lebih rentan mengalami burnout serta tips mencegah kelelahan emosional dan fisik.
Burnout kini menjadi perhatian serius, terutama bagi generasi milenial dan Gen Z. Psikolog mengungkap faktor penyebab kelelahan mental dan fisik yang lebih rentan dialami oleh kedua generasi ini, sekaligus memberikan strategi praktis untuk mengelola stres agar tetap produktif dan sehat. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini di BACOTAN GEN Z.
Perbedaan Burnout, Stres, Dan Depresi
Dr. Sumaryono, M.Si, pakar Psikologi Industri dan Organisasi UGM, menegaskan bahwa tidak semua kelelahan psikologis dapat dikategorikan sebagai burnout. Burnout merupakan kondisi yang lebih berat karena mencakup kelelahan fisik, emosional, dan mental secara bersamaan.
Sedangkan stres biasanya bersifat sementara dan lebih ringan, muncul akibat tekanan pekerjaan atau akademik yang masih dapat dikelola. Depresi, di sisi lain, masuk ranah klinis dan memerlukan penanganan profesional yang lebih serius.
Yang sering terjadi itu sebenarnya stres, bukan burnout. Burnout itu cenderung lebih parah, jelas Sumaryono. Pekerja menjelang akhir tahun biasanya menghadapi beban tinggi dari pekerjaan, sementara mahasiswa mengalami tekanan akademik yang relatif normal.
Penggunaan Istilah Burnout Yang Kurang Tepat
Sumaryono menyoroti tren penggunaan istilah burnout secara berlebihan. Banyak orang menyebut burnout hanya karena mengalami sakit kepala, pusing, atau lelah ringan.
Padahal, tanda psikologis burnout meliputi perasaan tidak berdaya yang dalam dan kelelahan berat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Kalau sakit kepala atau pusing, itu tergolong stres.
Burnout itu betul-betul merasa tidak mampu dan kelelahan berat untuk melakukan suatu aktivitas dan aktivitas-aktivitas lainnya, ujarnya. Kesadaran mengenai definisi yang tepat penting agar individu dan institusi dapat memberikan dukungan yang sesuai bagi yang benar-benar mengalami burnout.
Baca Juga: Barrel Jeans, Jeans Paling Hits dan Nyaman di Kalangan Gen Z 2025
Apakah Milenial Dan Gen Z Lebih Rentan?
Terkait persepsi bahwa milenial dan Gen Z lebih rentan burnout, Sumaryono memberikan penjelasan yang menyeimbangkan pandangan umum. Menurutnya, kedua generasi belum tentu lebih rentan, tetapi perbedaan terletak pada pengalaman menghadapi tekanan.
Kedua generasi ini masih belajar beradaptasi. Pengalaman dalam menghadapi tekanan besar menentukan kemampuan coping, jelasnya.
Generasi muda yang belum banyak menghadapi situasi penuh tekanan membutuhkan pembelajaran dan strategi manajemen stres yang efektif agar dapat membangun resiliensi mental.
Strategi Mengelola Stres Dan Burnout
Pakar psikologi menekankan pentingnya deteksi dini dan strategi manajemen stres. Aktivitas seperti olahraga ringan, tidur cukup, mengatur jadwal, hingga teknik relaksasi dapat membantu mencegah stres berkembang menjadi burnout.
Selain itu, komunikasi terbuka dengan teman, keluarga, atau profesional menjadi kunci untuk mengatasi tekanan mental. Kesadaran terhadap kondisi mental yang dialami, pemahaman perbedaan antara stres dan burnout, serta penerapan strategi coping yang tepat menjadi fondasi penting agar generasi milenial dan Gen Z tetap sehat secara fisik dan psikologis, terutama menghadapi tekanan di akhir tahun.
Tetap pantau dan nikmati informasi menarik setiap hari, selalu terupdate dan terpercaya, hanya di BACOTAN GEN Z.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari radarbojonegoro.jawapos.com