Gen Z tetap ingin punya rumah, tetapi harga hunian, lokasi, cicilan, dan kebutuhan hidup membuat banyak anak muda memilih menunda pembelian.
Anggapan bahwa anak muda lebih memilih bersenang-senang daripada membeli rumah ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ada pertimbangan yang jauh lebih kompleks di balik keputusan tersebut, terutama ketika penghasilan harus berhadapan dengan harga hunian dan biaya hidup. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Gen Z Masih Punya Keinginan Membeli Rumah
Keinginan memiliki rumah masih muncul dalam rencana banyak anak muda. Hanya saja, mereka mulai lebih berhati-hati menentukan kapan harus membeli, di mana lokasi yang cocok, serta tipe rumah yang sanggup mereka jangkau.
Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan perubahan tersebut tidak berarti generasi muda kehilangan minat terhadap kepemilikan rumah.
Menurutnya, kondisi yang terlihat saat ini lebih berkaitan dengan waktu pembelian dan kemampuan calon pembeli. Anak muda tetap memiliki keinginan mempunyai hunian sendiri, tetapi mereka perlu mencari pilihan yang sesuai dengan kondisi keuangan.
Data BP Tapera turut menunjukkan gambaran tersebut. Dari 278.000 penerima fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan atau FLPP pada 2025, sekitar 62 persen berada pada kelompok usia 19-30 tahun.
Angka itu menunjukkan bahwa ketika tersedia rumah dan skema pembiayaan yang sesuai, kelompok usia muda tetap tertarik memiliki hunian.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Banyak Anak Muda Memilih Menunda
Keputusan menunda membeli rumah juga muncul dari persoalan kesiapan finansial. Survei Ray menunjukkan sekitar 36 persen responden Gen Z memilih menyewa karena belum merasa siap secara keuangan.
Sementara itu, hanya sekitar 5 persen responden yang menyatakan siap membeli rumah dalam waktu kurang dari satu tahun.
Kondisi tersebut membuat keputusan menunda terasa lebih masuk akal. Anak muda tidak selalu menolak kepemilikan rumah, tetapi mereka memilih menunggu sampai kondisi keuangan terasa lebih aman.
Ferry menilai persoalan itu lebih tepat dilihat dari sisi keterjangkauan atau affordability. Artinya, kemampuan membeli rumah tidak cukup dinilai hanya dari keinginan memiliki hunian.
Baca Juga:Â Gen Z Makin Peduli Diri, Mindful Eating hingga Self-Care Jadi Tren Favorit
Lokasi Rumah Ikut Jadi Masalah
Bagi pekerja muda di kota besar seperti Jakarta, harga rumah bukan satu-satunya pertimbangan. Lokasi juga punya peran besar dalam menentukan keputusan pembelian.
Rumah dengan harga yang masih sesuai kemampuan biasanya berada cukup jauh dari pusat kota. Sebaliknya, hunian yang dekat dengan kantor, pusat transportasi, dan berbagai fasilitas memiliki harga yang jauh lebih tinggi.
Situasi tersebut menciptakan pilihan yang tidak mudah. Membeli rumah dengan harga lebih rendah bisa berarti harus menempuh perjalanan lebih jauh setiap hari.
Jika memilih rumah di lokasi strategis, calon pembeli harus menyiapkan dana yang lebih besar. Biaya transportasi dan waktu perjalanan akhirnya ikut masuk dalam perhitungan sebelum seseorang mengambil KPR.
Harga Rumah Bukan Satu-satunya Beban
Data Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial primer tumbuh 0,69 persen secara tahunan. Namun, penjualan rumah primer masih mengalami kontraksi 2,36 persen secara tahunan.
Ferry melihat kondisi tersebut sebagai gambaran bahwa persoalan hunian tidak hanya berkaitan dengan kenaikan harga rumah dalam satu tahun.
Ada akumulasi kenaikan harga tanah dan properti dalam jangka panjang. Kondisi itu membuat harga awal rumah terasa tinggi jika dibandingkan dengan pendapatan sebagian masyarakat.
Calon pembeli juga perlu menyiapkan uang muka atau DP. Setelah itu, mereka harus menghitung cicilan KPR, suku bunga, biaya transportasi, kebutuhan sehari-hari, hingga kebutuhan lain yang muncul selama masa pembayaran.
KPR Menjadi Pertimbangan Jangka Panjang
Sekitar 70 persen rumah penduduk masih menggunakan skema KPR. Karena itu, kemampuan membayar cicilan setiap bulan menjadi bagian penting dalam keputusan membeli rumah.
Kemampuan finansial tidak hanya berarti memiliki uang untuk membayar DP. Calon pembeli juga harus memastikan penghasilan mereka mampu menopang cicilan dalam waktu panjang.
Ferry menilai kemampuan membeli rumah sebaiknya melihat keseimbangan antara harga hunian dan kondisi rumah tangga. Cicilan yang terlalu besar berpotensi membuat kebutuhan lain ikut tertekan.
Pada akhirnya, keputusan Gen Z menunda membeli rumah tidak selalu berkaitan dengan keinginan menikmati hidup atau mengikuti tren YOLO. Banyak anak muda justru sedang menghitung kemampuan mereka secara lebih realistis.
Rumah tetap menjadi tujuan, tetapi waktunya bisa berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian Gen Z, menunggu sampai memiliki kondisi finansial yang lebih stabil menjadi pilihan agar kepemilikan rumah tidak berubah menjadi beban jangka panjang.