Fenomena ngafe dan ngeteh kalcer terus berkembang di kalangan Gen Z, didorong media sosial dan keinginan mencoba pengalaman baru yang tetap menarik perhatian.
Head of Project & Asset Management JLL Indonesia Naomi Patafungan melihat kebiasaan tersebut sebagai bagian dari perubahan gaya hidup anak muda. Ia menyampaikan pandangan itu saat memaparkan riset properti dan retail JLL Indonesia pada Selasa (18/8/2026).Menurut Naomi, Gen Z punya dorongan kuat untuk mencari pengalaman baru.
Media sosial kemudian mempercepat penyebaran tren tersebut, termasuk ketika sebuah minuman atau tempat nongkrong mendadak viral. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Gen Z Tak Cuma Cari Kopi, Tapi Juga Pengalaman
Bagi banyak anak muda, pergi ke kafe bukan sekadar urusan membeli minuman. Tempat, suasana, desain interior, menu, hingga aktivitas di dalamnya ikut menentukan pengalaman.
Karena itu, sebuah kedai bisa menarik perhatian bukan hanya karena rasa kopinya. Konsep yang unik dan tampilan yang menarik untuk media sosial juga dapat menjadi alasan pengunjung datang.
Naomi melihat perilaku tersebut sebagai karakter konsumen muda yang selalu ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Ketika satu produk mulai terasa biasa, mereka mencari pilihan baru yang menawarkan pengalaman berbeda.
Pola ini membuat bisnis makanan dan minuman harus terus berinovasi. Pelaku usaha tidak cukup hanya mempertahankan satu menu andalan jika ingin mengikuti perubahan selera konsumen.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Dari Kopi Susu, Boba, Kini Matcha Ikut Naik Daun
Perjalanan tren minuman di Indonesia menunjukkan perubahan yang cukup menarik. Kopi susu sempat mendominasi, kemudian boba menjadi pilihan populer, dan kini minuman berbasis matcha ikut mendapatkan perhatian besar.
Menurut Naomi, perubahan tersebut akan terus berjalan. Industri minuman mengikuti selera masyarakat sekaligus tren yang berkembang di dunia maya.
Media sosial punya peran besar dalam mempercepat siklus tersebut. Satu produk yang viral dapat menarik perhatian banyak orang hanya dalam waktu singkat. Pengunjung kemudian mencoba produk tersebut, membuat konten, lalu ikut menyebarkan tren kepada pengguna lain.
Siklus itu menciptakan pola yang berulang. Ketika tren mulai jenuh, pelaku usaha kembali menawarkan inovasi baru untuk menarik perhatian konsumen.
Baca Juga:Â Apa Kata Gen Z dan Gen Alpha soal Kemerdekaan? Jawabannya Bikin Kaget
Brand Lokal Mulai Makin Percaya Diri
Perubahan tren tidak hanya memberikan ruang bagi merek internasional. Brand lokal juga mulai menunjukkan kemampuan untuk merebut perhatian konsumen muda.
Laporan JLL Indonesia Market Overview 2Q-2026 menunjukkan tingkat okupansi mal utama di Jakarta mencapai 86 persen. JLL juga memperkirakan pertumbuhan sewa mal primer sekitar 3 persen sepanjang 2026.
Di pusat perbelanjaan, bisnis makanan dan minuman menjadi salah satu penggerak kunjungan. Bakery premium, dessert café, dan minuman spesialti ikut mengisi ruang retail dan menawarkan pengalaman baru kepada pengunjung.
Jika sebelumnya sekitar 55 persen produk baru di sektor retail berasal dari merek internasional, ekspansi brand domestik kini mulai semakin terlihat. Sejumlah perusahaan lokal bahkan mulai menyasar pasar di kawasan penyangga Jakarta seperti Serpong dan BSD.
Ngafe Kalcer Bukan Sekadar Gaya Hidup
Kebiasaan nongkrong memang kerap mendapat kritik karena dianggap mendorong perilaku konsumtif. Namun, fenomena tersebut juga memiliki sisi ekonomi yang cukup besar.
Ketika orang datang ke kafe atau pusat perbelanjaan, mereka tidak hanya membeli minuman. Aktivitas tersebut ikut menggerakkan bisnis lain, mulai dari transportasi, makanan, retail, hiburan, hingga jasa pendukung.
Pusat perbelanjaan pun perlahan mengubah konsepnya. Mal tidak lagi hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi ruang untuk bersosialisasi, menikmati kuliner, mencari hiburan, dan mengikuti tren gaya hidup.
Kondisi itu membuat bisnis F&B memiliki posisi penting dalam menarik pengunjung. Selama konsumen masih mencari pengalaman yang berbeda, peluang pertumbuhan sektor tersebut tetap terbuka.
Selama Gen Z Aktif di Medsos, Tren Akan Terus Berputar
Kopi kalcer kemungkinan tidak akan berhenti hanya pada satu jenis minuman. Setelah kopi susu, boba, dan matcha, konsumen bisa saja menemukan tren baru yang belum populer saat ini.
Justru perubahan itulah yang membuat bisnis F&B terus bergerak. Gen Z mencari pengalaman, media sosial menyebarkan tren, sedangkan pelaku usaha menciptakan produk untuk menjawab permintaan tersebut.
Naomi menilai selama media sosial tetap menjadi bagian penting dalam interaksi sosial Gen Z, kebiasaan ngafe dan ngeteh akan terus berkembang. Bentuknya mungkin berubah, tetapi aktivitas menikmati minuman sambil mencari pengalaman baru kemungkinan tetap memiliki tempat di kehidupan anak muda.
Jadi, yang mungkin mati bukan budaya ngafe-nya, melainkan tren minuman yang datang silih berganti. Hari ini kopi susu, besok matcha, dan lusa bisa muncul sesuatu yang sama sekali berbeda.