Masjid di Indonesia didorong menjadi ruang positif bagi Gen Z melalui program Kemenag agar tempat ibadah juga menjadi pusat belajar, berkarya, dan berkumpul anak muda.
Perubahan konsep ini muncul karena sejumlah daerah mengalami penurunan aktivitas remaja masjid. Kemenag menilai pengelola masjid perlu menyesuaikan kegiatan dengan perkembangan zaman agar generasi muda merasa nyaman datang dan terlibat dalam berbagai aktivitas positif.
Kemenag Dorong Masjid Jadi Tempat Kumpul Anak Muda
Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama, Fuad Nassar, menyampaikan pentingnya transformasi pengelolaan masjid saat menghadiri Seminar Nasional “Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace” di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jawa Timur.
Menurut Fuad, masjid harus mampu menjadi tempat yang ramah bagi berbagai kalangan. Tidak hanya jamaah dewasa, tetapi juga anak-anak dan Gen Z yang memiliki minat serta kebutuhan berbeda.
Ia menyebut masjid perlu menghadirkan kegiatan yang sesuai dengan gaya hidup generasi muda. Dengan begitu, anak muda tidak hanya datang saat waktu salat, tetapi juga merasa memiliki ruang untuk belajar dan berinteraksi.
“Masjid perlu dikondisikan sebagai meeting point anak muda, Gen Z, dan anak-anak sesuai minat mereka,” ujar Fuad.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Masjid Modern Tidak Hanya Fokus pada Aktivitas Ibadah
Kemenag mengingatkan bahwa sejak masa Rasulullah SAW, masjid memiliki peran besar dalam membangun peradaban dan kesejahteraan masyarakat. Fungsi masjid tidak berhenti pada kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan dan pemberdayaan umat.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Kemenag mengenalkan trilogi manajemen masjid yang terdiri dari ri’ayah, idarah, dan imarah.
Ri’ayah berfokus pada pemeliharaan fasilitas masjid agar nyaman digunakan. Idarah berkaitan dengan tata kelola administrasi yang baik, sedangkan imarah menekankan pengembangan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui konsep tersebut, masjid diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern dengan menghadirkan program yang lebih beragam.
Baca Juga: Gen Z Wajib Tahu! Tren Fesyen Muslim 2026 Ini Bawa Sentuhan Korea yang Bikin Tampil Makin Stylish
Dari Pelatihan Keuangan hingga Program Parenting untuk Warga
Fuad menjelaskan masjid dapat menjadi tempat berbagai kegiatan edukasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Beberapa program yang bisa dikembangkan antara lain pelatihan manajemen keuangan, parenting, hingga bimbingan perkawinan.
Menurutnya, banyak persoalan sosial yang dapat dibahas dan diselesaikan melalui lingkungan masjid jika pengelola mampu membuat program yang tepat.
Kemenag juga telah menjalankan sejumlah program berbasis masjid, seperti pemberdayaan ekonomi umat, masjid ramah anak, masjid ramah disabilitas, serta fasilitas untuk lansia.
Selain itu, beberapa masjid juga mulai berperan sebagai tempat pelayanan masyarakat, termasuk menyediakan posko bagi pemudik saat musim libur besar seperti Idulfitri.
Gen Z Butuh Ruang Positif untuk Berkegiatan di Masjid
Perubahan gaya pengelolaan masjid dinilai penting agar generasi muda tidak merasa jauh dari lingkungan keagamaan. Anak muda saat ini membutuhkan tempat yang nyaman untuk berdiskusi, belajar, dan mengembangkan kreativitas.
Jika masjid mampu menghadirkan suasana yang lebih santai namun tetap positif, tempat ibadah tersebut bisa menjadi pilihan bagi Gen Z untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan bermanfaat.
Peran pengurus masjid menjadi kunci dalam menciptakan suasana tersebut. Pengelola perlu memahami karakter generasi muda agar program yang dibuat tidak terasa ketinggalan zaman.
Jangan Jauhkan Anak-Anak dari Masjid
Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Abdul Azis, juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan pendekatan yang lebih ramah kepada anak-anak di masjid.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang yang sering memarahi atau mengusir anak-anak ketika mereka bermain di area masjid. Menurutnya, sikap tersebut justru dapat membuat anak merasa tidak nyaman untuk kembali.
Abdul Azis menilai pengurus dan jamaah dewasa perlu memberikan contoh dengan cara yang lebih sabar dan penuh kasih.
Transformasi masjid menjadi ruang yang inklusif menjadi langkah penting untuk menjaga kedekatan generasi muda dengan lingkungan keagamaan. Dengan pendekatan yang lebih modern dan terbuka, masjid diharapkan mampu menjadi pusat kegiatan positif bagi seluruh lapisan masyarakat.