Fenomena second account semakin populer di kalangan Gen Z sebagai ruang pribadi untuk berekspresi bebas tanpa tekanan citra dari akun utama.
Akun utama biasanya berisi unggahan yang sudah dipilih dengan rapi. Banyak pengguna menjaga tampilan akun tersebut karena berkaitan dengan citra diri, pekerjaan, atau lingkungan sosial. Sementara itu, akun kedua sering menjadi ruang yang lebih pribadi.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan di berbagai platform media sosial. Banyak Gen Z memakai second account untuk membagikan cerita sehari-hari, hobi, hingga aktivitas yang tidak ingin mereka tampilkan di akun utama.
Second Account Jadi Tempat Bebas Berekspresi
Bagi sebagian Gen Z, second account memberikan rasa nyaman saat menggunakan media sosial. Mereka bisa mengunggah berbagai hal tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain.
Florence, salah satu pengguna Instagram asal Bandung, mengaku memiliki dua akun tambahan. Ia menggunakan akun tersebut untuk membagikan aktivitas sehari-hari dengan lebih santai.
Menurutnya, second account terasa lebih bebas dibanding fitur close friend. Ia tidak perlu memilih orang tertentu setiap kali ingin membagikan cerita pribadi.
Pengalaman serupa juga dirasakan Septa. Ia memiliki tiga akun Instagram dengan fungsi yang berbeda. Satu akun ia gunakan untuk pekerjaan, satu untuk teman dekat, dan satu lagi khusus membahas hobinya sebagai penggemar K-Pop.
Sementara itu, Acip memakai second account sebagai tempat berbagi cerita pribadi. Ia memilih membatasi pengikut agar hanya orang terdekat yang bisa melihat unggahannya.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Tren Ini Bukan Sekadar Gaya Anak Muda
Meski sering dikaitkan dengan Gen Z, fenomena memiliki akun kedua sebenarnya sudah muncul sejak perkembangan internet. Banyak orang menggunakan ruang digital untuk membangun identitas berbeda sesuai kebutuhan.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Stephani Reihana, menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal dengan istilah persona. Seseorang bisa menunjukkan sisi berbeda ketika berada di rumah, tempat kerja, atau lingkungan pertemanan.
Media sosial membuat perbedaan persona tersebut semakin terlihat. Akun utama sering menjadi tempat menampilkan citra terbaik, sedangkan second account memberi ruang untuk menunjukkan sisi lain diri seseorang.
Baca Juga:Â Bukan Sekadar Tempat Ibadah! Kemenag Ubah Wajah Masjid Jadi Ruang Nongkrong Positif untuk Gen Z
Second Account Tidak Selalu Berkaitan dengan Masalah Mental
Banyak anggapan muncul bahwa pengguna second account memiliki masalah kesehatan mental. Namun, psikolog menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Memiliki akun kedua bukan tanda seseorang mengalami gangguan psikologis. Setiap orang memiliki alasan berbeda saat membuat akun tambahan.
Ada yang ingin menjaga privasi, ada yang ingin berbagi hobi, dan ada pula yang hanya mengikuti tren pertemanan. Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang menggunakan akun tersebut.
Menurut Stephani, kondisi mental seseorang lebih dipengaruhi oleh kemampuan menerima diri sendiri. Jumlah akun media sosial bukan menjadi ukuran utama kesehatan mental.
Terlalu Banyak Persona Bisa Menguras Energi
Walaupun second account dapat memberikan kenyamanan, pengguna tetap perlu memperhatikan dampaknya. Masalah bisa muncul ketika seseorang terus membangun identitas yang jauh berbeda dari dirinya sendiri.
Membuat banyak karakter di dunia digital membutuhkan energi mental yang besar. Seseorang bisa merasa lelah karena harus mempertahankan citra tertentu di setiap akun.
Stephani menjelaskan bahwa seseorang akan lebih sehat secara psikologis ketika apa yang ia tampilkan sesuai dengan dirinya. Semakin seseorang tampil apa adanya, semakin kecil tekanan yang ia rasakan.
Fenomena ini berkaitan dengan tekanan media sosial yang mendorong pengguna mengejar perhatian, jumlah pengikut, dan validasi melalui komentar atau tanda suka.
Cara Menggunakan Media Sosial Agar Tetap Sehat
Media sosial tetap bisa menjadi ruang positif selama pengguna mampu mengatur kebiasaan digitalnya. Memilih akun yang diikuti menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kondisi mental.
Jika aktivitas scrolling membuat seseorang merasa cemas, tidak percaya diri, atau kehilangan energi, pengguna perlu mengevaluasi kembali lingkungan digitalnya.
Selain menjaga hubungan di dunia maya, hubungan sosial di dunia nyata juga memiliki peran besar. Interaksi dengan keluarga dan teman dekat dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.
Pada akhirnya, second account bukan sekadar tren Gen Z. Akun tersebut bisa menjadi ruang aman untuk berekspresi, selama pengguna tetap mengenal dirinya sendiri dan tidak terbebani oleh tuntutan menciptakan banyak identitas.