Ketika sebagian besar pelajar menikmati libur sekolah dengan tidur lebih lama, bermain game, atau jalan bareng teman, Muhamad Dian Maulana justru menjalani hari-hari yang jauh berbeda.
Remaja yang akrab dipanggil Nanang itu memilih turun ke laut bersama nelayan di perairan Cilincing, Jakarta Utara. Setiap akhir pekan, baik Sabtu maupun Minggu, ia bangun sejak dini hari dan langsung bersiap melaut. Bagi Nanang, laut bukan sekadar tempat mencari ikan, tetapi juga ruang belajar tentang kehidupan yang keras dan penuh risiko. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Dari Larangan Orangtua hingga Tekad yang Tak Bisa Dipatahkan
Keputusan Nanang untuk ikut melaut awalnya mendapat penolakan dari orangtuanya. Mereka khawatir dengan kondisi laut yang tidak bisa diprediksi, apalagi ayahnya sendiri pernah menjadi nelayan sebelum beralih pekerjaan.
“Awalnya sempat dilarang karena orangtua khawatir akan keadaan di laut nanti bagaimana,” kata Nanang saat ditemui di Cilincing.
Namun, penolakan itu tidak membuatnya mundur. Ia justru semakin yakin ingin membantu ekonomi keluarga. Ayahnya bekerja sebagai teknisi perabot elektronik, sedangkan ibunya bekerja di konveksi. Kondisi itu membuat Nanang merasa perlu ikut turun tangan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Hari-Hari di Tengah Ombak yang Tidak Selalu Ramah
Sudah sekitar empat bulan terakhir Nanang rutin ikut melaut bersama tetangga yang berprofesi sebagai nelayan. Ia selalu berangkat pagi buta, lalu menaiki perahu kayu sederhana bersama awak lainnya.
Pengalaman pertamanya di laut tidak berjalan mulus. Ombak besar membuatnya mabuk laut dan beberapa kali muntah. Meski begitu, ia tidak menyerah dan terus mencoba beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Di atas perahu, Nanang tidak memiliki tugas khusus. Ia membantu apa saja yang dibutuhkan, mulai dari menebar jaring hingga mengangkat ikan hasil tangkapan. Kadang ia ikut membersihkan peralatan, kadang juga membantu mengatur posisi jaring di laut.
Biasanya mereka kembali ke daratan sekitar pukul dua siang. Namun, waktu pulang sering berubah tergantung hasil tangkapan ikan. Jika hasil melimpah, mereka bisa pulang lebih cepat. Sebaliknya, jika sepi ikan, mereka harus berpindah lokasi hingga sore.
Baca Juga:Â Apa Itu Cyberdeck? Komputer Rakitan yang Sedang Populer di Kalangan Gen Z
Hasil Kerja Keras yang Langsung Dialirkan ke Rumah
Meski masih duduk di bangku SMP, Nanang sudah punya penghasilan sendiri dari hasil melaut. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000.
Sebagian besar uang itu ia serahkan kepada orangtuanya untuk membantu kebutuhan rumah tangga. Sekitar Rp150.000 langsung ia berikan, sementara sisanya ia simpan atau pakai untuk jajan saat bersama teman-temannya.
Dengan cara ini, Nanang merasa lebih ringan saat meminta sesuatu. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada uang saku orangtua, karena sudah punya penghasilan sendiri dari laut.
Luka, Ketakutan, dan Mimpi Besar di Tengah Laut
Menjadi nelayan muda membuat Nanang harus menghadapi risiko yang tidak kecil. Wajahnya kini menyimpan bekas luka akibat kecelakaan di atas perahu. Salah satunya terjadi ketika mesin diesel masih berputar dan menghantam wajahnya saat kapal merapat.
Selain itu, cuaca buruk juga sering menjadi tantangan besar. Ombak tinggi mengguncang perahu kayu yang ia tumpangi, membuat rasa takut sempat muncul di awal-awal ia melaut.
Namun seiring waktu, rasa takut itu mulai berkurang. Ia belajar berdoa dan tetap fokus menjalani pekerjaan. Pengalaman demi pengalaman membuatnya semakin terbiasa dengan kerasnya laut.
Meski begitu, Nanang tidak ingin meninggalkan sekolah. Ia tetap bertekad menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Di sisi lain, ia juga ingin terus belajar menjadi nelayan agar suatu hari bisa memiliki perahu sendiri dan bekerja lebih mandiri.
“Ke depannya saya punya niat ingin punya perahu sendiri agar lebih enak kerjanya,” ujarnya penuh harap.
Dukungan Pemerintah dan Harapan Lahirnya Nelayan Muda
Pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta mengapresiasi anak muda yang mulai tertarik pada dunia perikanan. Mereka melihat sektor ini sebagai bidang yang masih bisa berkembang jika dikelola dengan baik.
Bantuan yang diberikan biasanya berupa alat produksi seperti mesin kapal dan peralatan tangkap, bukan uang tunai. Selain itu, pemerintah juga menjembatani nelayan kecil dengan lembaga perbankan agar bisa mendapatkan akses permodalan dengan bunga rendah.
Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya nelayan muda yang lebih adaptif terhadap teknologi. Pemerintah juga mulai mengenalkan konsep perikanan modern seperti budidaya berbasis teknologi dan pemasaran digital.
Dengan dukungan tersebut, sektor perikanan diharapkan tidak hanya bertahan sebagai pekerjaan tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bisnis yang lebih modern dan berkelanjutan.