Obsesi anti-aging Gen Z semakin meningkat, dengan fokus pada pencegahan dini, namun berisiko jika berlebihan.
Fenomena Gen Z terobsesi dengan skincare anti-aging semakin meluas, bahkan di usia remaja. Didorong oleh skinfleuncer, banyak anak muda menggunakan produk anti-penuaan sebelum kulit membutuhkannya. Para pakar dermatologi khawatir akan dampak buruk yang mungkin timbul.
Temukan rangkuman informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Tren Pre-juvenation di Kalangan Gen Z
Gen Z menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam merawat kulit sejak dini, dengan harapan dapat menunda tanda-tanda penuaan. Konsep pre-juvenation, yaitu perawatan kulit sebelum munculnya tanda penuaan, menjadi pemicu utama. Mereka berkeyakinan bahwa pencegahan lebih baik daripada mengobati.
Dr. Suzan Obagi, Chief Medical Director di Obagi Medical, menyoroti bahwa banyak Gen Z terobsesi untuk tidak menua seperti generasi sebelumnya. Ini menjadi semacam kebanggaan bagi mereka, mendorong mereka untuk mencari solusi anti-aging sejak dini.
Meskipun konsep pre-juvenation memiliki sisi positif, kekhawatiran muncul ketika praktik ini menjadi berlebihan. Banyak anak muda cenderung menggunakan terlalu banyak produk aktif yang mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan kulit mereka, berpotensi menimbulkan masalah baru.
Bahaya Rutinitas Skincare Berlebihan
Rutinitas skincare yang rumit dan berlebihan, terutama yang meniru tren dari media sosial, dapat berdampak negatif pada kulit. Dr. Suzan Obagi menegaskan bahwa semakin banyak langkah dalam perawatan kulit, semakin besar risiko kerusakan yang bisa terjadi.
Banyak Gen Z cenderung mengikuti rutinitas enam hingga sepuluh langkah yang populer di internet. Namun, kulit muda umumnya tidak memerlukan perawatan sekompleks itu, bahkan bisa teriritasi oleh banyaknya produk yang diaplikasikan.
Penggunaan produk aktif yang tidak tepat atau berlebihan dapat mengganggu lapisan pelindung kulit. Ini bisa menyebabkan iritasi, kemerahan, bahkan memicu masalah kulit lainnya yang justru mempercepat penuaan atau menimbulkan kerusakan jangka panjang.
Baca Juga: Tren Gaya Hidup Gen Z Paling Populer di Tahun 2025
Skincare Ideal Untuk Kulit Muda
Dr. Suzan Obagi menyarankan bahwa rutinitas skincare untuk usia muda seharusnya sederhana namun konsisten. Kulit di bawah usia 18 tahun masih memproduksi banyak kolagen dan elastin secara alami, sehingga tidak memerlukan intervensi berlebihan.
Perawatan dasar yang direkomendasikan meliputi penggunaan antioksidan yang baik, pelembap jika diperlukan, dan tabir surya sebagai langkah krusial di pagi hari. Tabir surya sangat penting untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV, penyebab utama penuaan dini.
Pada malam hari, rutinitas bisa dilengkapi dengan antioksidan dan retinoid, yang membantu regenerasi kulit. Rangkaian produk sederhana ini sudah cukup untuk menjaga kesehatan kulit muda tanpa membebaninya dengan terlalu banyak bahan aktif yang tidak perlu.
Sisi Positif Kesadaran Merawat Diri
Meskipun ada kekhawatiran mengenai penggunaan skincare anti-aging yang berlebihan, Dr. Suzan Obagi juga melihat sisi positif dari fenomena ini. Anak muda kini lebih sadar akan pentingnya merawat diri dan menjaga kesehatan kulit sejak dini.
Kesadaran ini mencerminkan keinginan mereka untuk menua dengan anggun, bukan secara drastis. Mereka proaktif dalam upaya pencegahan, yang jika dilakukan dengan cara yang benar, dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan kulit.
Penting bagi skinfleuncer dan pakar kecantikan untuk memberikan edukasi yang tepat. Dengan bimbingan yang benar, Gen Z dapat mengembangkan kebiasaan skincare yang sehat dan efektif, menghindari risiko dari penggunaan produk yang tidak sesuai atau berlebihan.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari money.kompas.com
- Gambar Kedua dari bengkulu.tribunnews.com