KPR dan ngontrak menjadi dua pilihan utama yang kerap dipertimbangkan Generasi Z saat mulai memikirkan kepemilikan rumah.
Kenaikan harga properti, biaya hidup yang tinggi, serta kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil membuat keputusan memiliki rumah menjadi semakin kompleks.
Di tengah situasi ini, muncul dilema klasik yang kembali relevan, yaitu memilih Kredit Pemilikan Rumah atau tetap menyewa alias ngontrak. Bagi Gen Z, keputusan ini bukan sekadar soal tempat tinggal, melainkan strategi hidup jangka panjang.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh dalam era digital yang serba cepat. Mobilitas tinggi serta perubahan pola kerja membuat kepemilikan rumah tidak selalu menjadi prioritas utama.
Namun, keinginan memiliki hunian tetap masih menjadi simbol keamanan finansial serta pencapaian hidup yang penting bagi sebagian besar anak muda. Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
KPR Sebagai Jalan Kepemilikan Rumah Jangka Panjang
Kredit Pemilikan Rumah masih dianggap sebagai cara paling umum untuk memiliki rumah secara legal. Dengan sistem cicilan bertahun-tahun, KPR memungkinkan seseorang memiliki aset properti meski belum memiliki dana besar di awal. Bagi Gen Z yang sudah memiliki penghasilan tetap, KPR sering dilihat sebagai langkah awal membangun stabilitas finansial.
Keuntungan utama KPR terletak pada status kepemilikan aset. Rumah yang dicicil berpotensi meningkat nilainya seiring waktu, sehingga dapat menjadi investasi jangka panjang.
Namun, komitmen KPR juga membawa risiko. Cicilan bulanan yang harus dibayar selama puluhan tahun dapat menjadi beban jika kondisi keuangan berubah. Gen Z yang cenderung dinamis perlu mempertimbangkan kesiapan mental serta kestabilan karier sebelum mengambil keputusan ini.
Ngontrak Memberi Fleksibilitas Hidup Lebih Tinggi
Bagi sebagian Gen Z, menyewa rumah atau apartemen dianggap lebih realistis. Ngontrak memberikan fleksibilitas tinggi, terutama bagi mereka yang masih mengeksplorasi karier atau sering berpindah kota. Tanpa beban cicilan jangka panjang, pengeluaran bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan saat ini.
Ngontrak juga memungkinkan Gen Z mengalokasikan dana untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, pengembangan diri, atau investasi nonproperti. Namun, kekurangan dari pilihan ini adalah tidak adanya aset yang dimiliki di akhir masa sewa.
Uang yang dibayarkan setiap bulan tidak menghasilkan kepemilikan jangka panjang, sehingga sebagian orang merasa opsi ini kurang menguntungkan secara finansial.
Baca Juga: Gen Z dan Startup: Generasi yang Berani Mencipta Peluang
Faktor Gaya Hidup Mempengaruhi Pilihan Hunian
Gaya hidup Gen Z sangat berpengaruh terhadap pilihan antara KPR atau ngontrak. Banyak anak muda kini lebih mengutamakan pengalaman, kebebasan, serta keseimbangan hidup dibandingkan kepemilikan aset fisik. Tinggal di lokasi strategis dekat tempat kerja atau pusat aktivitas sering kali lebih penting daripada memiliki rumah sendiri di pinggiran kota.
Selain itu, tren kerja fleksibel juga membuat kebutuhan hunian berubah. Sebagian Gen Z tidak terikat pada satu lokasi, sehingga memiliki rumah permanen justru dianggap membatasi mobilitas. Dalam konteks ini, ngontrak menjadi pilihan yang lebih sesuai dengan gaya hidup modern yang adaptif serta cepat berubah.