Tren “performative male” viral di TikTok dan ramai dibahas Gen Z, istilah ini menggambarkan pria yang dianggap membangun citra tertentu di media sosial.
Banyak pengguna media sosial memperdebatkan istilah tersebut. Sebagian menganggapnya hanya candaan internet, sementara sebagian lain melihatnya sebagai gambaran tentang bagaimana seseorang membentuk identitas di dunia digital.
BACOTAN GEN Z akan mengulas tren “performative male” yang sedang viral di TikTok dan ramai diperbincangkan kalangan anak muda. Istilah ini muncul untuk menggambarkan pria yang dianggap membangun citra tertentu demi terlihat lebih menarik, sensitif, atau mengikuti tren di media sosial.
Istilah Performative Male Ramai Dibahas di Media Sosial
Performative male merujuk pada laki-laki yang dianggap sengaja menampilkan gaya hidup tertentu demi mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain.
Istilah ini sering dikaitkan dengan sosok pria yang mengadopsi citra “soft boy”. Mereka biasanya menampilkan sisi sensitif, emosional, serta menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang dianggap memiliki nilai estetika tertentu.
Beberapa contoh yang sering muncul dalam pembahasan media sosial antara lain pria yang suka minum matcha, membawa tote bag, mendengarkan musik K-pop, membaca buku bertema perempuan, atau mengikuti tren gaya tertentu.
Namun, seseorang tidak otomatis masuk kategori performative male hanya karena menyukai hal-hal tersebut. Perbedaan utama terletak pada alasan seseorang melakukan atau menampilkan hal tersebut.
Jika seseorang memang menikmati hobinya secara alami, hal itu menjadi bagian dari kepribadian. Sebaliknya, istilah performative male biasanya muncul ketika seseorang dianggap memakai citra tertentu hanya untuk mendapatkan perhatian.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Bukan Soal Gaya, Tapi Tentang Kesan yang Ingin Ditampilkan
Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar membahas pakaian, makanan, atau hobi seseorang. Perdebatan muncul karena banyak orang menilai beberapa individu terlalu berusaha menciptakan gambaran tertentu di media sosial.
Beberapa pengguna internet menggunakan istilah performative male sebagai sindiran terhadap pria yang dianggap mengikuti tren hanya agar terlihat berbeda atau lebih menarik di mata perempuan.
Di sisi lain, tren ini juga memunculkan pertanyaan tentang batas antara menjadi diri sendiri dan membangun citra di depan publik.
Media sosial membuat seseorang lebih mudah memilih sisi tertentu dari dirinya untuk ditampilkan. Hal itu membuat banyak orang berusaha membangun identitas digital yang sesuai dengan harapan lingkungan sekitar.
Baca Juga: Jangan Sepelekan! Kebiasaan Kecil Ini Diam-Diam Mengubah Kesehatan Gen Z
Gen Z Disebut Lebih Menghargai Sisi Autentik
Perkembangan media sosial ikut mengubah cara generasi muda melihat citra diri. Gen Z sering dianggap lebih menyukai sesuatu yang terlihat jujur dan apa adanya.
Berbeda dengan era sebelumnya yang banyak menampilkan kehidupan penuh kurasi, pengguna media sosial saat ini cenderung menyukai konten yang terasa lebih spontan dan dekat dengan kehidupan nyata.
Dalam budaya TikTok, banyak orang tertarik dengan cerita pribadi, pengalaman emosional, dan konten yang menunjukkan sisi manusiawi seseorang.
Karena itu, sebagian pengguna melihat performative male sebagai bentuk usaha berlebihan untuk terlihat tulus. Mereka menilai beberapa gaya hidup hanya menjadi simbol tren, bukan gambaran karakter seseorang.
Performative Male Bukan Gangguan Psikologis
Banyak orang bertanya apakah perilaku performative male termasuk masalah psikologis. Psikolog Klinis Ghina Sakiah Safari menjelaskan bahwa istilah tersebut bukan sebuah gangguan mental.
Menurutnya, performative male lebih tepat disebut sebagai kecenderungan sosial yang muncul karena pengaruh budaya populer dan media sosial.
Seseorang bisa melakukan hal tersebut sebagai cara mendapatkan penerimaan, perhatian, atau validasi dari lingkungan sekitar.
Ghina menjelaskan bahwa manusia sejak dulu memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan diri agar bisa diterima kelompok sosial. Perbedaannya, media sosial membuat perilaku tersebut semakin mudah terlihat.
Media Sosial Membuat Identitas Seseorang Semakin Kompleks
Fenomena performative male juga berkaitan dengan konsep masking atau social camouflaging. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang menyesuaikan perilaku demi memenuhi harapan sosial.
Seseorang bisa melakukan hal itu secara sadar maupun tanpa menyadarinya. Tujuannya sering berkaitan dengan keinginan untuk diterima dan menjaga citra diri di lingkungan tertentu.
Pada akhirnya, tren performative male menunjukkan bagaimana media sosial memengaruhi cara orang membangun identitas. Menyukai sesuatu yang sedang tren bukan masalah, selama seseorang tetap memahami alasan dan nilai yang ada di balik pilihannya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tampilan di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan kepribadian seseorang. Di balik tren yang viral, tetap ada sisi individu yang lebih kompleks dan tidak bisa dinilai hanya dari penampilan luar.