Pada 2026, Gen Z tertua mulai memasuki usia 30 tahun, memicu perbincangan soal visual age gap karena dinilai terlihat lebih tua dibanding Milenial.
Fenomena ini cukup ramai dibahas di media sosial. Sebagian orang menilai beberapa Gen Z justru terlihat lebih dewasa dari usia sebenarnya. Sementara itu, banyak Milenial yang sudah berusia 30-an akhir masih terlihat segar dan awet muda. Lantas, apa yang membuat perbedaan ini muncul? Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Stres Tinggi Bisa Ikut Memengaruhi Penampilan
Salah satu faktor yang mendapat perhatian adalah stres. Dokter spesialis kulit asal Amerika Serikat, Dr Kellie Reed, menyebut Gen Z cenderung menghadapi tekanan yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari.
Stres berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol. Kondisi tersebut bisa memengaruhi proses alami kulit, termasuk produksi kolagen dan respons peradangan. Jika berlangsung terus-menerus, kulit dapat terlihat lebih kusam dan kehilangan kesan segarnya.
Tekanan pekerjaan, persoalan finansial, hubungan sosial, hingga paparan informasi tanpa henti lewat media sosial dapat menambah beban pikiran. Karena itu, menjaga waktu istirahat dan mencari cara untuk mengelola stres juga penting untuk kesehatan kulit.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Tren Filler dan Botox di Usia Muda Jadi Sorotan
Media sosial turut mengubah cara generasi muda melihat penampilan. Filter wajah, standar kecantikan, serta tren estetika membuat sebagian orang merasa perlu melakukan berbagai prosedur agar terlihat lebih menarik.
Filler, Botox, dan perawatan laser kini lebih mudah ditemukan dibanding beberapa tahun lalu. Namun, Dr Reed mengingatkan bahwa prosedur estetika perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masing-masing orang.
Penggunaan filler secara berlebihan atau terlalu dini dapat mengubah proporsi wajah. Alih-alih mempertahankan tampilan muda, perubahan tersebut justru bisa membuat wajah terlihat lebih matang. Karena itu, keputusan menjalani prosedur estetika sebaiknya tidak hanya mengikuti tren.
Baca Juga:Â Kopi Kalcer Tak Akan Mati? Ini Alasannya Selama Gen Z Masih Main Medsos
Kurang Tidur dan Gaya Hidup Ikut Berpengaruh
Kebiasaan sehari-hari juga punya peran besar terhadap tampilan seseorang. Gen Z menghadapi gaya hidup yang sangat dekat dengan teknologi, termasuk penggunaan gawai dalam waktu panjang.
Kurang tidur dapat membuat wajah terlihat lelah. Kebiasaan merokok elektrik, pola makan kurang seimbang, serta minim aktivitas fisik juga dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan.
Durasi screen time yang tinggi sering berjalan bersamaan dengan waktu tidur yang berantakan. Seseorang bisa menghabiskan berjam-jam di depan layar hingga larut malam, kemudian bangun dalam kondisi tubuh belum benar-benar pulih.
Kenapa Milenial Justru Terlihat Lebih Muda?
Di sisi lain, banyak Milenial mendapat keuntungan dari kebiasaan perawatan kulit yang mereka mulai sejak usia relatif muda. Penggunaan skincare menjadi bagian dari rutinitas yang semakin umum ketika generasi ini memasuki usia dewasa.
Sunscreen juga memainkan peran penting. Banyak Milenial mulai mengenal perlindungan dari sinar matahari sejak usia muda dan kemudian mempertahankan kebiasaan tersebut hingga dewasa.
Paparan sinar ultraviolet dapat mempercepat kerusakan kulit dan memengaruhi kolagen. Dengan rutin menggunakan perlindungan dari sinar UV, seseorang dapat membantu menjaga kondisi kulit dalam jangka panjang.
Penampilan Tidak Selalu Mencerminkan Usia Sebenarnya
Meski fenomena Gen Z terlihat lebih tua ramai dibicarakan, penampilan seseorang tentu tidak hanya bergantung pada generasi. Faktor genetik, lingkungan, kebiasaan sehari-hari, kualitas tidur, tingkat stres, hingga perawatan kulit ikut membentuk tampilan seseorang.
Begitu pula dengan Milenial. Tidak semua orang dari generasi tersebut otomatis terlihat lebih muda. Perbedaan yang muncul di media sosial lebih tepat dilihat sebagai tren visual daripada patokan untuk menilai usia seluruh kelompok generasi.
Pada akhirnya, menjaga pola tidur, mengelola stres, aktif bergerak, menggunakan perlindungan dari sinar UV, serta menerapkan pola hidup seimbang jauh lebih penting daripada mengejar standar penampilan tertentu. Usia memang bertambah, tetapi kebiasaan sehari-hari ikut menentukan bagaimana tubuh dan kulit menjalani proses tersebut.