Isu bahwa Gen Z malas membaca sering diperdebatkan, namun Ketua IKAPI mengungkap fakta sebenarnya yang lebih kompleks dan menarik.
Anggapan bahwa Gen Z malas membaca kembali ramai diperbincangkan seiring pesatnya perkembangan teknologi digital yang membuat kebiasaan membaca buku dan teks panjang dianggap menurun. Namun, Ketua IKAPI menyebut pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan riset dan kondisi industri perbukuan, minat baca generasi muda justru masih cukup tinggi di Indonesia.
Dapatkan informasi terbaru dari BACOTAN GEN Z tentang tren digital, teknologi, hiburan, gaya hidup, dan perkembangan Gen Z terkini setiap hari hanya untuk Anda.
Isu Gen Z dan Tuduhan Malas Membaca
Isu mengenai Gen Z yang dianggap malas membaca sering dikaitkan dengan menurunnya kemampuan literasi di beberapa negara. Bahkan, ada laporan di Amerika Serikat yang menyebut mahasiswa kesulitan memahami teks akademik sederhana. Hal ini memicu kekhawatiran serupa di berbagai negara, termasuk Indonesia, terkait kemampuan literasi generasi muda.
Di Indonesia, persoalan literasi juga menjadi perhatian pemerintah karena masih berkaitan dengan rendahnya skor PISA. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa literasi dan numerasi saling berkaitan erat dalam proses belajar. Jika kemampuan membaca rendah, maka pemahaman terhadap soal cerita dan masalah akademik juga ikut terganggu.
Namun, isu tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa Gen Z malas membaca. Kondisi ini lebih kompleks karena dipengaruhi oleh cara belajar, akses informasi, dan perubahan pola konsumsi media di era digital.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Pandangan Ketua IKAPI Tentang Minat Baca
Ketua Umum IKAPI, Arys Hilman Nugraha, memberikan pandangan berbeda terkait anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa berdasarkan riset industri perbukuan pada akhir 2025, anak muda Indonesia justru memiliki minat baca yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z masih memiliki ketertarikan terhadap aktivitas literasi.
Menurut Arys, data tersebut diperkuat oleh fenomena di berbagai kegiatan literasi. Salah satunya adalah tingginya antusiasme pengunjung dalam Indonesia International Book Fair 2025. Acara tersebut dipadati oleh generasi muda dari pagi hingga malam selama beberapa hari pelaksanaan.
Ia juga menambahkan bahwa generasi muda saat ini lebih terhubung dengan perkembangan literasi global. Banyak dari mereka bahkan sudah mengetahui tren buku internasional sebelum versi terjemahannya tersedia di Indonesia.
Baca Juga: Heboh! Perusahaan Ramai Pecat Karyawan Gen Z, Profesor Ungkap 3 Penyebab
Peran Perpustakaan dan Ruang Baca
Selain pameran buku, perpustakaan juga masih menunjukkan relevansi yang kuat di tengah era digital. Ketua IKAPI menyebut bahwa Perpustakaan Nasional tetap ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap ruang baca fisik masih tinggi.
Tidak hanya di kota besar, perpustakaan daerah di berbagai wilayah seperti Bandung dan Jawa Timur juga mengalami peningkatan kunjungan. Hal ini didominasi oleh kalangan muda yang memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar dan mencari referensi.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perpustakaan masih menjadi bagian penting dalam ekosistem literasi. Kehadirannya tidak tergantikan meskipun akses informasi digital semakin luas dan mudah dijangkau.
Tantangan Literasi di Era Digital
Meskipun minat baca dinilai tetap ada, tantangan literasi di era digital tidak bisa diabaikan. Tingginya penggunaan internet di kalangan Gen Z yang mencapai sekitar 87 persen membawa perubahan besar dalam pola konsumsi informasi. Hal ini membuat cara membaca tidak lagi terbatas pada buku fisik.
Di sisi lain, perubahan tersebut juga menimbulkan tantangan baru, seperti kecenderungan membaca cepat dan kurang mendalam. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan memahami teks panjang secara menyeluruh jika tidak diimbangi dengan literasi yang kuat.
Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, penerbit, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem literasi. Tujuannya agar kebiasaan membaca tetap berkembang meskipun berada di tengah arus digitalisasi yang sangat cepat.
Kesimpulannya, anggapan bahwa Gen Z malas membaca tidak sepenuhnya tepat. Yang terjadi adalah pergeseran cara membaca dan mengakses informasi yang perlu disikapi dengan bijak.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari inventure.id
- Gambar Kedua dari hanifahristi.wordpress.com