Survei global terbaru mengungkap bahwa banyak pria Generasi Z diam-diam menginginkan pasangan yang selalu patuh kepada mereka.
Studi global terbaru menyoroti tren mengkhawatirkan, nilai gender tradisional kembali menguat, terutama di kalangan generasi muda. Temuan mengejutkan, hampir sepertiga pria Generasi Z, lahir 1997–2012, percaya istri harus “selalu patuh” kepada suaminya. Fenomena ini menunjukkan pergeseran pandangan menarik untuk dicermati.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Kebangkitan Pandangan Gender Tradisional di Kalangan Gen Z
Survei yang dilakukan oleh Ipsos bersama Global Institute for Women’s Leadership di King’s College London ini menganalisis pandangan 23.000 responden dari 29 negara. Hasilnya dipublikasikan menjelang Hari Perempuan Internasional, menunjukkan adanya penguatan nilai-nilai tradisional di tengah masyarakat modern.
Studi ini menemukan bahwa pria Gen Z memiliki pandangan gender paling tradisional dibandingkan kelompok usia lainnya. Sebanyak 31% pria Gen Z setuju bahwa perempuan seharusnya bersikap patuh. Angka ini kontras dengan hanya 13% pria Baby Boomer (lahir 1946-1964) yang memiliki pandangan serupa.
Fenomena ini juga didorong oleh maraknya konten media sosial yang mempromosikan peran gender tradisional, seperti gerakan “tradwife” di TikTok dan pengaruh dari tokoh-tokoh seperti Andrew Tate. Ekosistem digital memperkuat polarisasi, di mana algoritma media sosial cenderung menguntungkan pesan-pesan ekstrem dan mudah menyebar.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Konflik Pandangan Gender Antargenerasi Dan Internal Gen Z
Perbedaan pandangan ini juga terlihat dalam isu pengambilan keputusan dalam hubungan, di mana sepertiga pria muda percaya bahwa laki-laki seharusnya memiliki keputusan akhir. Pandangan ini jauh lebih jarang ditemukan pada generasi yang lebih tua, menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antar kelompok usia.
Menariknya, 18% perempuan Gen Z juga setuju dengan gagasan bahwa istri harus patuh, dibandingkan dengan hanya 6% perempuan Baby Boomer. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan mencolok antara pria dan wanita Gen Z, pandangan tradisional ini juga memiliki daya tarik tertentu di kalangan perempuan muda.
Kelly Beaver, CEO Ipsos Inggris dan Irlandia, menyoroti dualitas menarik pada Gen Z: mereka paling mungkin setuju bahwa perempuan dengan karier sukses lebih menarik, namun pada saat yang sama, mereka juga paling mungkin setuju bahwa istri harus patuh dan perempuan tidak boleh terlalu mandiri.
Baca Juga: Gerindra Jatim Gelar Tadarus Milenial, Milenial Didorong Tak Apatis Politik!
Tekanan Sosial Dan Persepsi Yang Terdistorsi
Studi ini juga mengungkapkan bahwa tekanan sosial terkait maskulinitas sangat terasa di kalangan pria muda. Tiga dari sepuluh pria muda percaya seseorang tidak seharusnya mengatakan “I love you” kepada teman, dan 43% berpendapat bahwa laki-laki harus terlihat kuat secara fisik.
Lebih lanjut, 21% pria muda menganggap pria yang terlibat dalam pengasuhan anak sebagai “kurang maskulin,” sebuah pandangan yang hanya dipegang oleh 8% pria Baby Boomer. Ini menunjukkan adanya tekanan kuat untuk mengikuti standar maskulinitas yang kaku.
Heejung Chung, Direktur Global Institute for Women’s Leadership, menjelaskan bahwa banyak pria muda cenderung menganggap masyarakat di sekitar mereka lebih tradisional daripada kenyataannya. Ini menciptakan “kesenjangan persepsi,” di mana pandangan pribadi mungkin berbeda dengan apa yang dirasakan sebagai ekspektasi sosial.
Tantangan Menuju Kesetaraan Gender
Hanya 17% pria percaya perempuan seharusnya bertanggung jawab atas pekerjaan perawatan, namun 35% merasa masyarakat mengharapkan perempuan menjalankan peran tersebut. Julia Gillard, Ketua Global Institute for Women’s Leadership. Menyoroti banyak pria Gen Z tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga menempatkan diri dalam standar maskulinitas kaku.
Fakta bahwa 61% pria muda merasa upaya kesetaraan gender sudah cukup, dan 57% merasa laki-laki kini mengalami diskriminasi. Menimbulkan tantangan dalam memajukan agenda kesetaraan. Penting untuk mengikis anggapan bahwa kesetaraan gender adalah permainan “menang-kalah”.
Studi ini menggarisbawahi bahwa Gen Z sedang dalam proses meninjau kembali peran gender. Meskipun ada keinginan akan kebebasan dan keberagaman, pandangan tradisional masih kuat. Gillard menekankan pentingnya menolak tekanan untuk kembali ke belakang dan mempercepat perubahan melalui riset berbasis data.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari amp.dw.com