Dalam beberapa tahun terakhir, Generasi Z lahir antara 1997–2012 mulai memasuki pasar kerja dan menjadi bagian dari angkatan kerja baru.

Meski dikenal sebagai generasi digital dengan akses informasi tanpa batas, kenyataannya mereka menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan pekerjaan. Berikut ini BACOTAN GEN Z akan memberikan informasi lengkap mengenai tantangan yang dihadapi Generasi Z dalam memasuki dunia kerja.
Optimisme Gen Z Diuji Oleh Perubahan Pasar Kerja
Meskipun data menunjukkan tingginya tingkat pengangguran, sebagian besar Gen Z masih optimistis soal peluang kerja mereka. Laporan platform profesional iCIMS mengungkap bahwa banyak Gen Z percaya mereka akan mendapatkan pekerjaan pada 2025.
Namun, optimisme ini harus diuji oleh realitas pasar kerja yang bergerak cepat, terutama dengan kehadiran teknologi baru seperti artificial intelligence (AI).
AI telah mengubah kebutuhan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Banyak pekerjaan kini menuntut kemampuan yang lebih spesifik, termasuk keterampilan digital dan analisis data.
Gen Z, yang mayoritas masih berada di level pemula, sering kali belum memenuhi standar ini, sehingga peluang mereka tersaring di tahap awal perekrutan.
Tantangan Penilaian Keterampilan Diri
Salah satu masalah utama yang dihadapi Gen Z adalah kesulitan menilai keterampilan mereka sendiri. Forbes melaporkan bahwa sekitar 40 persen responden Gen Z di Amerika Serikat mengaku tidak yakin bagaimana menentukan skill yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Akibatnya, banyak dari mereka melamar pekerjaan tanpa strategi yang jelas, sehingga respons dari perusahaan menjadi minim.
Sebagai langkah antisipasi, sejumlah Gen Z akhirnya memutuskan untuk mempelajari keterampilan baru agar peluang diterima lebih besar.
Namun, proses ini membutuhkan waktu, dan dalam situasi kompetitif saat ini, waktu sering menjadi faktor krusial. Perusahaan pun lebih selektif, hanya merekrut kandidat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Baca Juga: Henry Indraguna, Soroti Peran Strategis Balitbang Untuk Suara Milenial
Persepsi Perusahaan dan Budaya Kerja

Selain keterampilan, persepsi perusahaan terhadap Gen Z juga menjadi faktor yang memengaruhi peluang kerja mereka. Beberapa perusahaan menilai Gen Z kurang memiliki etika kerja yang matang. Meskipun mereka cepat mengikuti tren dan mahir dalam teknologi, persiapan kerja mereka dianggap belum optimal.
Fenomena ini membuat beberapa perusahaan lebih memilih alternatif lain, seperti mempekerjakan pekerja lepas (45%), merekrut kembali tenaga pensiun (45%), menggunakan AI atau robot untuk menggantikan pekerjaan (37%), bahkan membiarkan posisi tertentu kosong (30%).
Selain itu, nilai-nilai yang dijunjung tinggi Gen Z—seperti perawatan diri, ekspresi diri yang autentik, dan keinginan untuk membantu orang lain kadang berbenturan dengan budaya kerja tradisional.
Menyeimbangkan Idealism dan Realitas Pekerjaan
Masalah nilai-nilai yang berbeda ini menimbulkan jarak antara Gen Z dan dunia profesional. Studi terhadap 77.000 orang di AS menunjukkan bahwa Gen Z cenderung menolak beberapa nilai generasi sebelumnya. Terutama yang dianggap merugikan sistem.
Namun, bukan berarti perusahaan menolak nilai tersebut. Mereka membutuhkan karyawan yang dapat menyesuaikan diri dengan dinamika kerja sehari-hari.
Menurut Suzy Welch, profesor di Sekolah Bisnis Stern – New York University, Gen Z perlu menyeimbangkan idealisme dengan realitas pekerjaan.
“Saya jarang menyarankan orang untuk mencoba mengubah nilai-nilai mereka. Ini seperti mengubah kepribadian; yang biasanya tidak akan bertahan lama,” ungkapnya.
Jika Gen Z membutuhkan pekerjaan segera, mereka disarankan meninjau tujuan pekerjaan mereka dan bersikap fleksibel terhadap nilai yang tidak bisa dinegosiasikan. Sementara jika idealisme menjadi prioritas, mereka perlu mencari perusahaan yang benar-benar selaras dengan nilai tersebut.
Simak dan ikuti terus informasi menarik yang kami hadirkan setiap hari, terupdate dan terpercaya khusus untuk Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari merdeka.com