
Kebiasaan sederhana seperti membawa minuman saat bertemu perekrut ternyata bisa memunculkan perdebatan di dunia kerja. Sebagian orang menganggap es kopi bukan persoalan besar, tetapi ada pula yang melihatnya sebagai tanda kurang siap mengikuti situasi formal.
Perdebatan ini semakin ramai setelah sejumlah konsultan karier memberikan pandangan mengenai kebiasaan tersebut. Mereka menilai kandidat perlu memperhatikan hal kecil yang bisa memengaruhi kesan pertama di depan HRD atau manajer perekrutan. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Awal Mula Es Kopi Jadi Sorotan Saat Interview
Perdebatan tersebut mencuat setelah Caitlin Wehniainen, presiden sebuah firma rekrutmen, membahasnya melalui video di TikTok. Dalam unggahannya, ia menilai membawa es kopi ketika bertemu manajer perekrutan memberi kesan terlalu santai.
Dilansir dari Forbes, Sabtu (26/9/2026), Wehniainen menyarankan pencari kerja menikmati kopi sebelum atau setelah wawancara. Menurut pandangannya, kandidat sebaiknya memusatkan perhatian pada percakapan tanpa membawa sesuatu yang berpotensi mengganggu.
Pernyataan itu kemudian memicu respons beragam dari pengguna media sosial. Ada yang sepakat karena suara es batu, tutup gelas, atau risiko minuman tumpah memang bisa mengganggu suasana wawancara.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Gen Z Dinilai Punya Cara Berbeda Melihat Profesionalisme
Di sisi lain, sebagian warganet membela pencari kerja muda. Mereka menganggap membawa minuman tidak otomatis menunjukkan sikap tidak profesional. Apalagi, lingkungan kerja saat ini mulai mengalami perubahan dalam melihat batas antara gaya pribadi dan etika pekerjaan.
Perbedaan pandangan tersebut kemudian dikaitkan dengan kesenjangan generasi. Gen Z tumbuh dalam budaya kerja yang lebih fleksibel sehingga beberapa kebiasaan yang dulu dianggap kurang pantas kini mulai mendapat ruang.
Meski begitu, wawancara kerja tetap memiliki karakter berbeda dari aktivitas sehari-hari. Kandidat bertemu orang yang belum mengenalnya dan hanya memiliki waktu terbatas untuk menunjukkan sikap, komunikasi, serta kesiapan.
Pakar Karier Sarankan Kandidat Lebih Berhati-hati
Pendiri sekaligus Presiden Next Great Step, Beth Hendler-Grunt, menyarankan kandidat menghindari membawa es kopi ke ruang wawancara. Ia menilai keputusan tersebut tidak memberikan keuntungan yang jelas bagi pencari kerja.
Menurut Hendler-Grunt, situasi itu menunjukkan adanya perbedaan antara rasa nyaman yang dimiliki pencari kerja muda dan ekspektasi pihak perusahaan. Kandidat mungkin menganggap kopi sebagai hal biasa, sementara perekrut bisa memiliki penilaian berbeda.
Pandangan serupa disampaikan J.T. O’Donnell, pendiri dan CEO Work It Daily. Ia meminta pelamar memikirkan apakah minuman tersebut benar-benar membantu proses wawancara atau justru menciptakan risiko tambahan.
Risiko Kecil Bisa Mengganggu Fokus Wawancara
Membawa es kopi sebenarnya tidak otomatis membuat seseorang gagal mendapatkan pekerjaan. Namun, kandidat perlu menghitung berbagai kemungkinan sebelum masuk ke ruang wawancara.
Gelas yang terlalu besar bisa menyulitkan saat berjabat tangan atau mengambil dokumen. Tutup yang kurang rapat juga dapat membuat minuman tumpah ke pakaian. Belum lagi suara es batu ketika kandidat menggeser gelas di atas meja.
Hal-hal kecil tersebut memang tidak selalu menjadi masalah. Namun, dalam wawancara yang berlangsung singkat, kandidat tentu ingin mengarahkan perhatian perekrut pada kemampuan dan pengalaman yang mereka miliki.
Apakah Membawa Kopi Selalu Berarti Tidak Profesional?
Perdebatan ini pada akhirnya kembali pada situasi dan budaya tempat kerja. Membawa kopi ke kantor tentu berbeda dengan membawanya ketika menjalani wawancara pertama dengan perusahaan.
Kandidat yang ingin bermain aman bisa menikmati minuman sebelum memasuki lokasi wawancara. Pilihan tersebut membuat tangan lebih bebas dan mengurangi risiko gangguan selama percakapan berlangsung.
Namun, perbedaan pandangan tentang es kopi juga menunjukkan perubahan norma di dunia kerja. Gen Z membawa kebiasaan dan gaya komunikasi yang berbeda, sementara perusahaan masih memiliki standar tertentu dalam proses rekrutmen.
Karena itu, pencari kerja perlu membaca situasi dengan cermat. Penampilan, bahasa tubuh, cara berbicara, serta kesiapan mengikuti wawancara tetap menjadi bagian penting ketika membangun kesan pertama di hadapan perekrut.