
Seorang wanita asal Singapura bernama Chris menjadi sorotan setelah membagikan pencapaiannya melalui media sosial. Pada usia 26 tahun, ia berhasil membeli satu unit kondominium dengan nilai hampir 1 juta dollar Singapura atau sekitar Rp14 miliar.
Chris yang bekerja sebagai produser sekaligus kreator konten membagikan kisah tersebut melalui sebuah video pada 20 Desember lalu. Baginya, pembelian properti itu bukan sekadar transaksi, tetapi juga bukti bahwa impian masa kecilnya akhirnya tercapai. Simak ulasan lengkapnya dari BACOTAN GEN Z.
Chris Wujudkan Impian Punya Rumah Sebelum Usia 27
Sejak kecil, Chris sudah memiliki keinginan untuk mempunyai rumah sendiri. Ia memasang target agar impian tersebut terwujud sebelum menginjak usia 27 tahun.
Target itu akhirnya tercapai pada akhir 2025. Chris berhasil membeli kondominium menggunakan hasil kerja dan pengelolaan keuangannya sendiri. Ia kemudian membagikan momen tersebut kepada publik melalui media sosial.
Pencapaian itu menarik perhatian karena Chris masih berusia 26 tahun ketika membeli properti bernilai fantastis tersebut. Kisahnya semakin mencuri perhatian karena ia tidak mengandalkan bantuan finansial dari orang tua maupun pasangan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Uang Muka Rp3,3 Miliar Dibayar dari Tabungan
Chris membayar uang muka sekitar 240.000 dollar Singapura atau setara kurang lebih Rp3,3 miliar secara tunai. Dana tersebut berasal dari tabungan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
Menariknya, keluarga Chris justru baru mengetahui pembelian tersebut ketika ia mengambil kunci unit kondominiumnya. Ia memilih mengurus transaksi itu secara mandiri tanpa meminta dukungan dana dari keluarga.
Status Chris yang masih lajang juga membuat kisah ini semakin menarik perhatian. Ia menunjukkan bahwa keputusan membeli properti tersebut lahir dari perencanaan keuangan pribadi yang sudah ia bangun sejak usia muda.
Baca Juga:Â Gen Z Punya Penghasilan, Tapi Kenapa Tetap Merasa Miskin? Ini Alasannya
Sejak Usia 14 Tahun Chris Sudah Rajin Bekerja
Chris mulai mengenal dunia kerja ketika berusia 14 tahun. Saat itu, ia mendapat pekerjaan pertamanya di restoran cepat saji McDonald’s. Ia kemudian terus membagi waktu antara pendidikan dan mencari penghasilan.
Kebiasaan bekerja itu terus berlanjut hingga dewasa. Saat ini, Chris menjalani pekerjaan utama secara penuh waktu sekaligus menerima pekerjaan lepas di bidang fotografi dan videografi.
Dalam sehari, ia mengaku bisa bekerja selama 12 hingga 18 jam. Rutinitas tersebut bahkan berlangsung tujuh hari dalam seminggu. Chris sempat bercanda bahwa dirinya masih bisa mengerjakan pekerjaan ketika sedang berolahraga di gym.
Hidup Hemat Jadi Bagian dari Strateginya
Penghasilan besar saja tidak cukup untuk mengumpulkan dana sebesar itu. Chris juga menerapkan kebiasaan mengatur pengeluaran secara ketat. Ia mencatat berbagai transaksi hingga hitungan sen agar tahu ke mana uangnya pergi.
Untuk menekan biaya sehari-hari, Chris terbiasa membeli makanan murah dengan harga sekitar 3 dollar Singapura atau sekitar Rp42.000. Ia juga memanfaatkan poin insentif EZ-Link dari aplikasi kesehatan pemerintah Singapura, Healthy 365.
Dengan cara tersebut, ia tetap bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan pribadi, hobi, dan membeli hadiah tanpa mengganggu rencana keuangannya. Kebiasaan sederhana itu menjadi bagian dari pola pengelolaan uang yang ia jalankan dalam jangka panjang.
Mulai Investasi Sejak 19 Tahun untuk Bangun Modal
Selain menabung, Chris mulai berinvestasi ketika berusia 19 tahun. Ia menilai keputusan tersebut memberinya waktu lebih panjang untuk mengembangkan modal sebelum membeli properti.
Menurut Chris, dirinya bukan menemukan cara instan untuk mengumpulkan uang dalam jumlah besar. Ia hanya mulai menabung dan berinvestasi lebih awal, kemudian konsisten menjalankannya.
Keinginan memiliki properti juga berkaitan dengan rasa aman dan mandiri yang ia dapatkan dari keluarganya. Chris mengatakan sang ibu sejak kecil selalu menanamkan nilai kemandirian dalam dirinya.
Bagi Chris, memiliki aset di Singapura memberikan rasa aman sekaligus stabilitas. Perjalanan dari pekerjaan pertamanya saat remaja hingga membeli kondominium di usia 26 tahun pun menjadi bagian penting dari kisah finansial yang ia bagikan kepada publik.