Generasi Z atau Gen Z kembali menjadi sorotan setelah hasil survei terbaru menunjukkan pandangan mereka terhadap dunia kerja.
Berbeda dari anggapan yang menyebut generasi muda hanya mengejar kenyamanan, mayoritas responden justru ingin memiliki pekerjaan yang memberi manfaat bagi orang lain. Namun, mereka tetap menempatkan faktor penghasilan sebagai syarat utama sebelum mengambil pekerjaan tersebut.
Survei bertajuk Gallup Voices of Gen Z mengungkap bahwa keinginan membantu sesama memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental dan rasa memiliki tujuan hidup. Di sisi lain, tekanan ekonomi membuat banyak Gen Z berpikir realistis ketika menentukan pilihan karier.
Gen Z Ingin Pekerjaan yang Memberi Arti Hidup
Gallup bersama Walton Family Foundation dan proyek Making Caring Common dari Harvard University melakukan riset terhadap 2.436 responden berusia 13 hingga 28 tahun di Amerika Serikat pada Desember 2025.
Hasilnya menunjukkan hampir 80 persen responden tertarik bekerja di bidang yang memungkinkan mereka membantu orang lain. Mereka tidak hanya mengejar penghasilan, tetapi juga ingin merasakan bahwa pekerjaan yang dijalani memiliki dampak positif bagi masyarakat.
Konsultan riset Gallup, Katherine Senseman, menjelaskan bahwa keinginan tersebut berkaitan erat dengan pencarian makna hidup. Menurutnya, banyak Gen Z berusaha menemukan tujuan hidup melalui pekerjaan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
š„ Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
š² DOWNLOAD SEKARANG
Membantu Orang Lain Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
Survei juga menemukan hubungan yang kuat antara kepedulian sosial dan kesejahteraan psikologis. Sebanyak 89 persen responden yang ingin memberi dampak positif kepada orang lain mengaku hidup mereka terasa lebih bermakna.
Richard Weissbourd dari Harvard Graduate School of Education menilai aktivitas membantu sesama mampu memperkuat kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa banyak anak muda merasa kehilangan arah sehingga mereka mencari tujuan hidup melalui kontribusi kepada orang lain.
Anthony Burrow, profesor psikologi dari Cornell University, juga melihat pola serupa. Menurutnya, seseorang yang memiliki tujuan hidup cenderung menunjukkan keinginan lebih besar untuk berbuat baik kepada masyarakat.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan bukan sekadar sumber pendapatan. Banyak Gen Z juga menganggap pekerjaan sebagai sarana untuk membangun identitas sekaligus memberikan kontribusi positif.
Baca Juga:Ā 3 Lagu Guns Nā Roses yang Paling Slay dan Masuk Kuping Gen Z
Masalah Finansial Masih Jadi Pertimbangan Utama
Meski memiliki idealisme tinggi, Gen Z tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi sebelum memilih pekerjaan. Hampir separuh responden mengaku khawatir terhadap kondisi keuangan apabila bekerja di sektor sosial yang identik dengan gaji lebih rendah.
Mereka juga menilai beberapa pekerjaan sosial memiliki beban emosional yang besar. Akibatnya, banyak responden merasa pekerjaan tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjaga keseimbangan mental.
Sekitar 50 persen responden menyebut pekerjaan ideal harus mampu memberikan penghasilan yang cukup tanpa menciptakan tekanan berlebihan. Hasil itu menunjukkan bahwa Gen Z mencoba menyeimbangkan nilai kemanusiaan dengan kebutuhan finansial.
Tekanan untuk Sukses Membuat Gen Z Lebih Realistis
Survei tersebut juga mengungkap bahwa tekanan untuk meraih kesuksesan menjadi sumber stres bagi banyak Gen Z. Kelompok usia 19 hingga 21 tahun menjadi responden yang paling banyak merasakan tekanan tersebut.
Richard Weissbourd menjelaskan bahwa tekanan untuk berprestasi sering berjalan bersamaan dengan pencarian makna hidup. Banyak anak muda ingin sukses, tetapi mereka juga ingin mengetahui alasan di balik pencapaian yang mereka kejar.
Ketika survei meminta responden memilih antara pekerjaan bergaji tinggi dan pekerjaan yang lebih bermakna, hampir separuh memilih pendapatan yang lebih besar. Namun, saat peneliti menghilangkan faktor uang dalam simulasi tersebut, mayoritas responden justru memilih pekerjaan yang memberi manfaat sosial.
Temuan itu menunjukkan bahwa Gen Z sebenarnya tidak menolak pekerjaan sosial. Mereka hanya berharap pekerjaan tersebut mampu memberikan kehidupan yang layak.
Perusahaan Perlu Menyesuaikan Cara Menarik Gen Z
Hasil survei ini memberikan peluang baru bagi perusahaan, sekolah, dan tim perekrutan. Anthony Burrow menilai banyak organisasi masih memiliki pandangan yang kurang tepat terhadap karakter Gen Z.
Ia menyarankan perusahaan mulai menunjukkan komitmen sosial mereka saat membuka lowongan kerja. Informasi mengenai program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), kegiatan sukarelawan, hingga program pemberdayaan masyarakat dapat menjadi daya tarik bagi calon pelamar dari kalangan Gen Z.
Langkah tersebut tidak hanya membantu perusahaan memperoleh talenta terbaik, tetapi juga memperlihatkan bahwa dunia kerja mampu memberikan ruang bagi karyawan untuk berkembang sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan. Survei Gallup akhirnya memperlihatkan satu pesan yang cukup jelas. Gen Z ingin bekerja di tempat yang memiliki tujuan sosial, tetapi mereka juga mengharapkan penghasilan yang mampu menjamin masa depan dan kesejahteraan hidup mereka.